POJOKSATU.id - Mama Bihelminami adalah salah satu penyintas gempa NTT yang mengguncang pada 15 Agustus 2026 lalu yang membutuhkan bantuan.
Tapi justru Mama Bihelminami yang memaksa tim relawan Gerakan Anak Negeri (GAN) menerima jambu mete yang dipetik langsung dari pohon di depan rumahnya.
Momen itu terjadi setelah relawan GAN melakukan pemeriksaan kesehatan gratis untuk warga terdampak gempa NTT di Dusun Ratesuba 2, Desa Kebiranga Tengah, Kecamatan Ende, Senin 24 Agustus 2026.
Baca Juga: 11 Hari Usai Gempa M 7,7 Flores, Presiden Prabowo Kunjungi NTT, Korban Meninggal 105 Orang
Dalam video yang diterima redaksi pojoksatu.id, Mama Bihelminami mendesak tim GAN ikut dengannya pulang ke rumah.
Sebelumnya Mama Bihelminami dan suaminya adalah salah satu dari ratusan warga yang ikut mengantre mendapatkan layanan pemeriksaan kesehatan usai diguncang gempa.
Perempuan berusia 59 tahun itu bahkan sampai menggandeng salah satu relawan tim medis dan beberapa personel lainnya.
Baca Juga: Ujian Nyata, Rumah Modular BRIN Tetap Berdiri Usai Gempa M7,7 di NTT
"Ambil jambu mete di rumah. Ada pohon punya mama," ucap dia kepada rawalan GAN.
Untuk diketahui, jambu mete memang merupakan salah satu komoditi andalan di wilayah tersebut.
Mama Bihelminami memberikan jambu mete itu sebagai bentuk terima kasih atas layanan kesehatan yang diberikan tim relawan Gerakan Anak Negeri.
Baca Juga: Plt Kapusdatin BNPB Akui Video Viral, Wawancara Gempa NTT di Rumah Makan Dekat Bandara Labuan Bajo
Di depan rumah Mama Bihelminami, ada pohon jambu mete yang berbuah lebat.
Ia terus memaksa kami untuk mencobanya dari pohon langsung.
"Ini dijual bijinya saja, satu kilo Rp25 ribu," ucap dia.
Di balik ketulusannya, ada perasaan cemas yang menghantui pasca-gempa.
Ia mengingat betul detik-detik rumahnya terguncang saat terjadi gempa pada 15 Agustus 2026 lalu.
Saat itu, ia bersama sang suami yang sudah kesulitan berjalan masih berada di kamar. Keduanya hanya pasrah, tak bisa berlari.
Seketika, tembok kamar yang ditempatinya roboh. Beruntung, material bangunan jatuh ke sisi luar sehingga tidak menimpa keduanya.
"Ini tempat mama tidur, kalau temboknya roboh ke dalam mama pasti sudah tertimpa," ungkapnya sambil menunjukan dinding kamar yang roboh.
Puing-puing material tembok masih berada di dalam rumah dan belum dirapikan.
Ia dan suaminya juga tak sanggup jika harus merapikannya berdua karena usia yang sudah renta.
Ia juga berharap pemerintah turun tangan membantu penanganan rumah warga yang terdampak gempa.
Baca Juga: Ribuan Gempa Susulan Guncang NTT, Mengapa Belum Berhenti? Ini Kata Sains
Karena masih diselimuti trauma, ia memilih tidur di depan tenda darurat yang dibangun seadanya di depan rumah dengan segala keterbatasan.
"Dua malam ini juga masih gempa terus, saya takut. Tidur di tenda saja sekarang," pungkasnya.***




