POJOKSATU.ID – Meningkatnya ketegangan geopolitik global memicu kekhawatiran akan kemungkinan terjadinya Perang Dunia III.
Di tengah situasi yang kian memanas, Indonesia disebut-sebut sebagai salah satu negara yang relatif aman apabila konflik berskala besar benar-benar terjadi.
Penilaian tersebut didasarkan pada sejumlah faktor strategis. Salah satunya adalah prinsip politik luar negeri Indonesia yang menganut asas bebas dan aktif.
Baca Juga: Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar: Megah, Sarat Makna, dan Jejak Jenderal M. Jusuf
Sikap ini membuat Indonesia tidak terikat dalam aliansi militer global tertentu, sehingga dinilai lebih netral dalam percaturan geopolitik internasional.
Selain itu, posisi geografis Indonesia yang berada jauh dari pusat konflik utama dunia seperti Timur Tengah, Eropa Timur, maupun kawasan Asia Timur dinilai menjadi keuntungan tersendiri.
Letak kepulauan yang luas juga dianggap memberikan tantangan tersendiri bagi pihak luar jika terjadi eskalasi militer berskala global.
Baca Juga: Bolehkah Zakat Fitrah Diwakilkan? Ini Hukum dan Bacaan Niat untuk Orang Lain
Sejumlah pengamat hubungan internasional menyebut bahwa negara-negara yang tidak tergabung dalam pakta pertahanan seperti NATO atau aliansi militer besar lainnya cenderung memiliki risiko lebih kecil untuk menjadi target langsung dalam konflik global, dilansir dari instagram @buschoo.
Namun demikian, para analis mengingatkan bahwa keamanan relatif tersebut bukan berarti Indonesia sepenuhnya kebal dari dampak perang dunia.
Dalam era globalisasi, efek konflik tidak hanya hadir dalam bentuk serangan militer, tetapi juga melalui tekanan ekonomi dan gangguan rantai pasok global.
Baca Juga: Masjid Raya Makassar, Jejak Sejarah Arsitektur Megah, dan Kisah Renovasi yang Pernah Jadi Sorotan
Krisis energi, lonjakan harga minyak, serta terganggunya perdagangan internasional menjadi dampak yang hampir pasti dirasakan banyak negara jika perang dunia terjadi.
Indonesia sebagai negara dengan keterkaitan perdagangan global tentu tetap berpotensi terdampak.
Di sektor ekonomi, fluktuasi nilai tukar rupiah, kenaikan harga kebutuhan pokok, serta potensi terganggunya investasi asing menjadi tantangan yang harus diantisipasi.
Pemerintah dinilai perlu memperkuat ketahanan ekonomi domestik untuk menghadapi skenario terburuk.
Di sisi lain, posisi Indonesia sebagai negara non-blok selama ini memang memberikan ruang diplomasi yang lebih fleksibel.
Baca Juga: Honda Ramadhan Exhibition Gebrak Tasikmalaya, Hadirkan Promo Spesial di Asia Plaza
Peran aktif dalam forum internasional dan upaya menjaga hubungan baik dengan berbagai negara menjadi salah satu modal penting dalam menjaga stabilitas nasional.
Meski disebut relatif aman secara militer, kewaspadaan tetap menjadi kunci.
Dinamika global yang tidak menentu menuntut kesiapsiagaan dari seluruh elemen bangsa, baik dari sisi pertahanan, ekonomi, hingga diplomasi.
Baca Juga: Sejarah Universitas Bosowa: Dari Universitas “45” hingga Kampus Entrepreneur Berbasis IT di Makassar
Dengan berbagai faktor tersebut, Indonesia dinilai memiliki peluang lebih besar untuk menjaga stabilitas jika konflik global meningkat.
Namun, kesiapan dan strategi nasional tetap menjadi penentu utama dalam menghadapi ketidakpastian dunia.***




