POJOKSATU.id - Diskusi yang digelar di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Yogyakarta, Senin (15/6/2026) malam, mendadak berubah tegang setelah sejumlah mahasiswa mendatangi lokasi acara.

Forum bertajuk Kopdar Bareng Mas Dar itu menghadirkan Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, dan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono.

Awalnya kegiatan berlangsung normal dan diikuti mahasiswa yang hadir di dalam gedung.

Baca Juga: Grammy Awards 2027 Tambah Kategori Baru untuk Asian Pop, Fans BTS Naikkan Tagar 'Scammys', Tuding Penghargaan Musik Bergengsi Itu Rasis dan Xenofobia

Namun suasana perlahan memanas hingga berujung kericuhan yang membuat acara tidak dapat dilanjutkan.

Ketegangan meningkat ketika terjadi adu argumen antara peserta diskusi dan para narasumber.

Sejumlah mahasiswa kemudian merangsek ke depan hingga naik ke atas panggung.

Situasi yang semakin sulit dikendalikan membuat panitia dan petugas keamanan mengambil langkah cepat.

Baca Juga: 5 Cara Mudah Pesan Tiket Kereta Jogja Bandung Online

Budiman Sudjatmiko akhirnya dievakuasi melalui pintu samping gedung, sementara kendaraan yang membawa Nusron Wahid dan Sudaryono sempat diadang massa mahasiswa saat hendak meninggalkan lokasi.

Awal Diskusi hingga Situasi Memanas
Diskusi yang dijadwalkan dimulai pukul 19.00 WIB tersebut membahas berbagai isu pemerintahan dan kebangsaan.

Sudaryono memaparkan sejumlah kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, termasuk rencana penguatan tata kelola ekonomi nasional.

Sementara Nusron Wahid menyampaikan optimisme terhadap berbagai program pemerintah di tengah tantangan ekonomi global.

Situasi mulai berubah ketika Budiman Sudjatmiko mendapat giliran berbicara.

Menurut sejumlah laporan, suasana semakin panas setelah Budiman menyinggung pentingnya penyampaian kritik secara langsung dan menegaskan pemerintah tidak akan membungkam masyarakat yang ingin menyampaikan pendapat.

Baca Juga: Galaxy A57 5G dan Galaxy A37 5G Hadir dengan AI Canggih, Bikin Bikin Konten dan Produktivitas Makin Mudah

Tak lama kemudian, sekelompok mahasiswa bergerak menuju panggung dan menyampaikan protes secara terbuka.

Mahasiswa Sebut Budiman "Pengkhianat Reformasi"
Dalam sejumlah video yang beredar di media sosial, terdengar mahasiswa meneriakkan kritik keras kepada Budiman Sudjatmiko.

Sebagian massa menyebut mantan aktivis reformasi tersebut sebagai "pengkhianat reformasi".

Kericuhan memuncak setelah mahasiswa membentangkan spanduk bertuliskan "UGM Menolak Pengkhianat Reformasi" dan "UGM Menolak Penjilat Rezim".

Baca Juga: Memahami Perbedaan Big Bike dan Motor Biasa, Kunci Berkendara Lebih Aman

Aksi itu diikuti dengan desakan agar para pejabat menghentikan kegiatan diskusi.

Sejumlah video yang beredar memperlihatkan mahasiswa dan petugas keamanan terlibat aksi saling dorong ketika massa terus bergerak mendekati area panggung.

Budiman Sudjatmiko Menyayangkan Diskusi Terhenti
Menanggapi peristiwa tersebut, Budiman Sudjatmiko mengaku menyayangkan diskusi yang seharusnya menjadi ruang dialog antara pemerintah dan mahasiswa tidak dapat berlangsung hingga selesai.

Menurut Budiman, dirinya sebenarnya siap berdiskusi secara langsung dengan mahasiswa apabila situasi memungkinkan.

"Seharusnya kita bisa berdialog dengan sehat dan lancar. Saya mau kok berdiskusi dengan mahasiswa.

Baca Juga: PDIP Merasa Difitnah Aliansi BEM Bersatu Terkait Aksi Mahasiswa Marak Menolak Program MBG

Tapi tadi sayangnya kondisinya sudah tidak kondusif. Saya mengkhawatirkan kondisi yang semakin tidak kondusif apabila saat itu kita masih berada di dalam gedung," ujar Budiman, Selasa (16/6/2026).

Sementara itu, Sudaryono menegaskan kehadiran para pejabat di kampus bertujuan membuka ruang dialog dengan kalangan mahasiswa dan civitas akademika.

Ia menilai forum diskusi semestinya menjadi sarana bertukar pandangan secara demokratis.

Peristiwa di UGM ini pun menjadi sorotan luas di media sosial. Potongan video kericuhan, adu argumen, hingga aksi mahasiswa membentangkan spanduk penolakan terus beredar dan memunculkan beragam tanggapan dari publik.

Di tengah perdebatan yang mengemuka, insiden tersebut kembali memperlihatkan bagaimana kampus masih menjadi ruang penting bagi pertemuan antara kritik mahasiswa dan kebijakan pemerintah. ***