POJOKSATU.id, TAPSEL-- Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto pertama kalinya ke lapangan melihat langsung dampak banjir bandang di Aek Garoga, Batangtoru, Tapsel, Sumut, Minggu (30/11).

Dia menangis dan terkejut melihat kondisi pascabanjir bandang sungai Aek Garoga di Kecamatan Batangtoru. Suharyanto datang bersama Menko PMK, Pratikno.

Dalam perjalanan ke lokasi, Suharyanto harus melewati dua desa lain yang terdampak, Desa Batu Godang dan Aek Ngadol. Saat dalam perjalanan menggunakan mobil, dia mengaku sedih dan sampai meneteskan air mata.

Baca Juga: Update Terbaru Korban Banjir Longsor Sumut dari BNPB, 217 Jiwa Meninggal Dunia, 209 Masih Hilang

“Tapsel saya surprise, saya tidak mengira seperti ini. Saya mohon maaf Pak Bupati. Ini, bukan berarti kami tidak peduli begitu,” katanya di lokasi Aek Garoga.

Kehadirannya di lokasi ini, kata Suharyanto, untuk turun langsung membantu daerah dalam menanggulangi bencana yang telah mengubah lanskap tiga desa terdampak itu.

“Kami hadir di Tapanuli ini, untuk membantu. Tidak ada bedanya utara selatan, tengah. Itu sama semua bagi kami, tidak melihat suku, agama, ras. Sama bagi kami. Jadi kami turun dengan kekuatan penuh,” katanya.

Baca Juga: Update Terbaru Korban Galodo Sumbar dari BNPB, 129 Orang Meninggal, 118 Masih Hilang

Ia pun menegaskan, BNPB membuka posko yang berada di Bandara Silangit, Tapanuli Utara sebagai pendampingan nasional bagi kepala daerah.

Dan yang memimpin tanggung jawab penanggulangan bencana ini tetap kepala daerah.

“Tentu tetap saja, yang menjadi komandan kepala daerah, tetapi kami mendampingi sekarang, secara langsung dan terus-menerus,” kata jenderal bintang tiga itu.

Langkah ini, katanya, bagian dari penanganan darurat. Status tanggap darurat berlaku selama dua minggu, dan bisa diperpanjang tergantung kepada kepala daerah.

Baca Juga: 16 Warga Penjarah Makanan Minuman Minimarket Sibolga Ditangkap, Polisi Khawatir Meluas Sektor Lain

Posko di Bandara Silangit menyiapkan enam unit helikopter. Dan kepala daerah bisa menggunakannya, dalam penanggulangan bencana ini.

“Kalau satu hari, dua hari belum cukup, nanti ditambah terus supaya lebih baik upaya penanganan pengungsi,” pesannya.

Tanggap darurat ini menurutnya masih awal, meski pun sudah berlaku selama enam hari. Suharyanto menekankan, Kepala Daerah mewanti-wanti setelah dua minggu tanggap darurat. Termasuk dampak buruk yang terjadi bagi pengungsi.

“Maksimal mereka itu bertahan dua minggu, setelah itu penyakit datang. Mental juga terganggu,” katanya.

Suharyanto juga menekankan seluruh unsur untuk menyusun secara matang tahapan pelayanan pengungsi ini. Sampai pada rehabilitasi tempat tinggalnya nanti.

Banjir bandang sungai Aek Garoga sendiri telah memorak-porandakan 3 desa. Dengan korban jiwa yang sudah ditemukan hingga Sabtu (29/11/2025) sebanyak 40 orang.

Sementara korban hilang masih ada puluhan orang dari tiga desa di pinggir sungai Aek Garoga ini.***