POJOKSATU.ID - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tak hanya berdampak pada peningkatan serapan hasil pertanian, tetapi juga disebut ikut mengerek penjualan kendaraan bermotor di Indonesia.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengungkapkan bahwa program MBG memberi efek domino terhadap sektor lain, termasuk industri otomotif.

Ia menyebut, lonjakan pembelian sepeda motor hingga jutaan unit pada 2025 tak lepas dari peran program tersebut.

Baca Juga: Apakah Marah Membatalkan Puasa? Ini Penjelasan Pahalanya Menurut Ulama, Simak Cara Menahan Emosi Saat Ramadan

Menurut Dadan, berdasarkan data dari salah satu agen tunggal pemegang merek (ATPM), angka penjualan sepeda motor pada 2025 diproyeksikan mencapai 4,9 juta unit.

Angka tersebut disebut mengalami dorongan signifikan seiring implementasi MBG di berbagai daerah.

“Ternyata dari data AHM, kita melihat angka penjualan motor mencapai 4,9 juta tahun 2025 dan ini terdongkrak oleh program MBG,” ujar Dadan, dikutip pojoksatu.id dari suara.com (14/2/2026).

Baca Juga: Aktivasi Rekening BSU dan Insentif Guru Diperpanjang hingga 30 Juni 2026, Cek Lagi Kriteria, Syarat Khusus dan Mekanismenya

Ia menjelaskan, peningkatan pembelian motor berkaitan erat dengan operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di berbagai wilayah.

Mayoritas pegawai yang terlibat dalam operasional SPPG disebut membeli sepeda motor guna menunjang mobilitas kerja mereka.

Tak berhenti pada sepeda motor, program MBG juga diklaim berdampak pada penjualan mobil.

Baca Juga: Orang Tua Wajib Tahu, Jadwal Libur Awal Puasa Ramadan 2026 SD-SMA, Lakukan dan Maksimalkan Ini

Dadan mengungkapkan bahwa setiap satu unit SPPG membutuhkan sedikitnya dua kendaraan roda empat untuk mendukung distribusi dan operasional program di lapangan.

Dengan semakin banyaknya SPPG yang dibentuk, kebutuhan kendaraan operasional pun meningkat.

Kondisi ini dinilai memberi kontribusi tambahan terhadap penjualan mobil secara nasional.

Program MBG sendiri dirancang untuk memperkuat pemenuhan gizi masyarakat sekaligus memberdayakan berbagai sektor, mulai dari pertanian, distribusi pangan, hingga tenaga kerja lokal.

Dampak berganda yang muncul dari implementasi program tersebut menjadi sorotan, terutama karena menyentuh sektor industri di luar pangan.

Baca Juga: Mengapa Ziarah Kubur Sebelum Ramadhan Banyak Dilakukan? Ini Alasannya dan Dalil Anjurannya

Meski demikian, klaim mengenai kontribusi langsung MBG terhadap angka penjualan kendaraan tentu masih menjadi bahan diskusi di kalangan pelaku industri.

Namun, pernyataan Kepala BGN tersebut menunjukkan bahwa kebijakan publik dapat memicu pergerakan ekonomi lintas sektor.

Lonjakan penjualan motor hingga 4,9 juta unit pada 2025 menjadi angka yang signifikan di tengah dinamika pasar otomotif nasional.

Baca Juga: GAUL Digelar di Hulu Citarum, Kwarda Jabar Targetkan Penghijauan 100 Hektare di Bandung Selatan

Jika tren ini berlanjut, bukan tak mungkin sektor otomotif akan menjadi salah satu pihak yang turut merasakan dampak berantai dari program berbasis pemenuhan gizi tersebut.

Dengan berbagai efek yang ditimbulkan, MBG kini tak hanya dipandang sebagai program peningkatan gizi, melainkan juga sebagai kebijakan yang memicu aktivitas ekonomi lebih luas di Indonesia.***