POJOKSATU.id, JAKARTA — Lonjakan harga plastik kembali menjadi perhatian publik setelah Mentan Andi Amran Sulaiman mengimbau pelaku industri tak menaikkan harga secara berlebihan di tengah meningkatnya tekanan biaya bahan baku.
Ia menegaskan bahwa kenaikan harga yang terlalu tinggi berpotensi memberikan efek berantai ke sektor lain, terutama komoditas pangan seperti minyak goreng.
“Jangan lah (naikkan harga plastik), (boleh) naik-naik lah dikit, tapi jangan naik banyak banget. Udah,” ujar Amran.
Baca Juga: Helikopter Jatuh di Sekadau Kalbar Tanpa Blackbox, KNKT Harap Ada Kamera Rekonstruksi Peristiwa
Menurutnya, barang kebutuhan strategis seperti minyak goreng harus tetap terjaga kestabilannya dan tidak boleh terdampak oleh faktor eksternal yang tidak berkaitan langsung dengan proses produksi pangan, termasuk biaya kemasan.
Pemerintah juga menegaskan akan bertindak jika ditemukan kenaikan harga yang dinilai tidak wajar.
Sementara itu, kenaikan harga plastik sebenarnya tidak muncul begitu saja.
Industri ini sangat dipengaruhi oleh berbagai dinamika global yang saling terhubung dan kompleks.
Baca Juga: Sosok Pilot Jatuh di Sekadau Kalbar Ternyata Eks Perwira Penerbang Helikopter TNI Angkatan Laut
Salah satu penyebab utamanya adalah naiknya harga minyak dunia.
Bahan dasar plastik berasal dari turunan minyak bumi dan gas alam seperti etilena dan propilena, sehingga ketika harga minyak meningkat, biaya produksi plastik pun ikut terdongkrak.
Di samping itu, gangguan pada rantai pasok global juga menjadi faktor penting.
Keterlambatan distribusi bahan baku, ketegangan geopolitik antarnegara, hingga masalah logistik di pelabuhan dapat menyebabkan pasokan tersendat dan harga meningkat.
Dari sisi permintaan, peningkatan kebutuhan dari sektor makanan dan minuman, industri kemasan e-commerce, hingga manufaktur dapat mendorong harga naik apabila tidak diimbangi dengan kapasitas produksi yang memadai.
Faktor lainnya seperti terbatasnya kapasitas pabrik petrokimia, kenaikan biaya energi dan listrik, serta kebijakan lingkungan seperti penerapan pajak karbon juga ikut memberikan tekanan terhadap biaya produksi.
Selain itu, fluktuasi nilai tukar mata uang turut berpengaruh, terutama bagi negara yang masih mengandalkan impor bahan baku plastik.
Pelemahan nilai tukar rupiah dapat membuat biaya impor meningkat sehingga harga ikut terdorong naik.
Dalam situasi tertentu, praktik spekulasi pasar juga dapat memperburuk keadaan, misalnya ketika pelaku usaha menahan stok dengan harapan harga akan terus meningkat.
Secara keseluruhan, lonjakan harga plastik umumnya terjadi akibat kombinasi berbagai faktor.
Mulai dari naiknya harga minyak, terganggunya pasokan, meningkatnya permintaan, hingga bertambahnya biaya produksi secara menyeluruh.***




