POJOKSATU.id - Sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia, Bahlil Lahadalia kembali mencuri perhatian lewat pernyataannya yang tegas dan ambisius soal pemerataan listrik nasional.
Dalam podcast Bukan Abuleke, Bahlil secara terbuka membeberkan misi besarnya untuk memastikan seluruh desa di Indonesia sudah teraliri listrik pada 2029.
Pernyataan tegas itu disampaikan ketika ia menjelaskan pentingnya keadilan energi bagi seluruh rakyat, terutama mereka yang tinggal di wilayah 3T.
Baca Juga: ITS Buka Beasiswa Angka Nitisastro 2026 untuk S2–S3, Ada Biaya Hidup hingga Rp3 Juta
Bahlil menegaskan bahwa listrik bukan sekadar fasilitas, tetapi pintu menuju masa depan anak-anak desa.
“Saya ingin di 2029 semua desa, semua kelurahan, dusun semua saudara listrik,” ujarnya
Bahlil kemudian menggambarkan pengalamannya hidup tanpa listrik hingga usia 12 tahun.
Baca Juga: Resmi Dimulai! Program Pangan Bulog 2026 Tembus Jutaan Ton untuk Masyarakat
Ia lahir dengan penerangan lampu pelita, harus berjalan jauh ke kecamatan hanya untuk melihat TV hitam putih.
Serta merasakan bagaimana keterbatasan akses energi membatasi banyak kesempatan.
Karena itu, ia menyebut target 2029 bukan sekadar program teknis, melainkan tanggung jawab moral negara kepada rakyat.
Baca Juga: ITS Buka Beasiswa Angka Nitisastro 2026 untuk S2–S3, Ada Biaya Hidup hingga Rp3 Juta
Meski pemerintah mencatat rasio elektrifikasi mencapai 99 persen, Bahlil mengkritik ketidaksesuaian angka dengan kondisi lapangan.
Menurutnya, masih banyak rumah yang belum mendapatkan listrik meski desa sudah tercatat “teraliri”.
Ia mencontohkan satu desa dengan 300 rumah, tetapi hanya 200 rumah yang memiliki akses listrik. “Angka 100 persen kadang tidak mewakili kenyataan,” tegasnya.
Bahlil menilai negara harus hadir hingga titik terdalam, memastikan tidak ada satu pun warga yang tertinggal.
Baginya, setiap anak desa memiliki peluang yang sama dengan anak kota untuk menjadi pemimpin, profesor, bahkan presiden asal diberi fasilitas dasar yang setara.
Target ini pun menuai respons luas karena dianggap ambisius sekaligus relevan.
Di tengah kesenjangan infrastruktur, komitmen 2029 dipandang sebagai visi besar yang akan menentukan arah keadilan energi Indonesia.***




