POJOKSATU.id - Dekan Fikom Unitomo Surabaya, Dr. Harliantara menjelaskan soal latar belakang terjadinya jejak digital adalah adanya dunia maya yang dapat digunakan sebagai pengalaman sosial, individu dapat saling berinteraksi, bertukar pikiran, berbagi informasi yang menghasilkan sebuah jejak digital.

Jejak digital merupakan segala informasi yang pengguna tinggalkan di internet.

"Dalam dunia maya itu sendiri ada tiga bentuk komunikasi, yaitu komunikasi antara mesin ke mesin, manusia ke mesin, dan manusia ke manusia," ujarnya dalam seminar online Ngobrol Bareng Legislator bertajuk 'Dunia Maya dan Jejak Digital' yang digelar pada Rabu, 12 April 2023.

Menurutnya, ada 2 jenis jejak digital. Pertama, jejak digital aktif yang merupakan informasi yang secara sadar dibagikan di internet.

Kedua, jejak digital pasif yaitu informasi yang ditinggalkan di internet tanpa sadar atau data yang dikumpulkan secara otomatis oleh pihak lain tanpa sepengetahuan pemilik.

"Beberapa dampak yang akan terjadi ketika meninggalkan jejak digital di antaranya mempengaruhi perspektif seseorang, menjadi faktor penentu masuk perguruan tinggi dan mendapatkan beasiswa, peluang untuk mendapatkan pekerjaan, dan terakhir rentan terhadap kemanan pribadi," sambungnya.

Jejak digital di internet bisa menjadi masalah yang besar. Sebab, jejak digital mengandung informasi pribadi yang bisa saja berpotensi menimbulkan hal yang tidak diinginkan di kemudian hari.

"Tanpa disadari kita sering meninggalkan jejak digital di internet. Nah, mulai sekarang kita harus lebih berhati hati lagi," pesannya.

Pegiat Literasi, Tulus Santoso menjelaskan, berkembangnya pengguna internet saat ini memberikan perubahan secara signifikan terhadap perilaku dan interaksi manusia di era digital.

Perubahan itu dapat berdampak positif ataupun negatif. Rrisiko yang ditimbulkan dari jejak digital seperti akses bebas orang lain terhadap data kita, serangan manipulatif, hingga reputasi professional menjadi buruk.

Ada beberapa cara mengelola jejak digital, yaitu menghindari penyebaran data-data penting seperti alamat rumah, rekening ATM atau nomor handphone, membuat password yang kuat untuk tiap akun medsos, dan jangan postinga sesuatu yang sifatnya terlalu personal.

"Gunakan juga layana pelindung data pada device kita, cari namamu sendiri di Google dan hapus semua informasi sensitive yang kamu temukan," terangnya.

Selanjutnya, Anggota Komisi I DPR RI Krisantus Kurniawan menjelaskan, jika pada jaman dahulu seseorang harus berhati-hati dalam berkata, sekarang seseorang harus berhati-hati dalam ketikan di medsos.

Hal ini dikarenakan ucapan secara verbal kadang tidak selalu terekam dan mudah untuk dihapus. Sementara ketikan seseorang di medsos atau situs tertentu terekam dan sulit untuk di hapus jejaknya.

Secara fisik, jejak digital mungkin dihapus. Namun sesuatu yang sudah terekam kemungkinan besar sudah ada di mana-mana, terlebih jika tautannya dibagikan ke sosmed.

Yang perlu diingat, kecepatan penyebaran sebuah informasi di medsos sangat cepat dan sangat sulit dikontrol.

Belum lagi jika orang tersebut merupakan seorang  tokoh yang di perhatikan oleh masyarakat.

"Intinya kita perlu ingat bahwa penyebaran informasi di medsos sangat sulit untuk dikontrol. Bisa saja pemilik pendapat di medos sudah di hapus, namun orang lain yang membagikan postingan tersebut masih memilikinya," katanya.

Untuk itu, masyarakat diminta bijak dalam menggunakan medsos. Karena jejak digital tidak dapat dihapus secara tuntas.

"Masyarakat diharapkan berpikir lebih sebelum menggunakan media social agar postingan tersebut tidak disalahgunakan di kemudian hari," ujarnya.

Sementara itu, Dirjen Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo RI Semuel Abrijani Pangerapan mengatakan, dampak pandemi dan pesatnya teknologi telah mengubah cara beraktivitas dan bekerja.

Kehadiran teknologi sebagai bagian dari kehidupan masyarakat ini semakin mempertegas era disrupsi teknologi.

Untuk mengahadapi hal tersebut, semua pihak harus mempercepat kerjasama dalam mewujudkan agenda trasformasi digital Indonesia.

"Bersama-sama wujudkan cita-cita bangsa Indonesia dengan menjadikan masyarakat madani berbasis teknologi," katanya.

Ia meyakini kemampuan yang kita miliki serta keunggulan yang terus dijaga akan membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang hebat dan besar serta menjadi unggul dalam SDM.

(Rishad Noviansyah)