POJOKSATU.ID - Kenaikan harga bahan pokok kembali menghantui masyarakat.

Fenomena yang kerap muncul di berbagai momen ini kembali dirasakan di sejumlah daerah, memicu keresahan karena berdampak langsung terhadap pengeluaran rumah tangga.

Di pasar tradisional maupun modern, harga beras, telur, cabai, ayam, hingga minyak goreng dilaporkan melonjak dalam beberapa pekan terakhir.

Baca Juga: Terbaik di Indonesia, IPB University Melonjak ke Peringkat 42 Dunia di THE Interdisciplinary Science Rankings 2026

Lonjakan harga ini membuat banyak keluarga kehilangan daya beli.

Bagi masyarakat berpenghasilan rendah, kenaikan sekecil apa pun sangat berpengaruh terhadap kemampuan mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pedagang pun mengeluhkan situasi serupa karena pembeli menurun, sementara mereka harus menyesuaikan harga agar tidak merugi.

Baca Juga: GEMARIKAN Perkuat Ketahanan Gizi Keluarga di Sukabumi 2025

Di Pasar Tradisional, sejumlah komoditas mengalami kenaikan yang signifikan.

Harga beras premium naik beberapa ribu rupiah per kilogram, cabai rawit melambung, dan telur ayam kembali menyentuh harga tertinggi.

Pedagang mengungkapkan bahwa kenaikan ini dipicu oleh faktor distribusi, cuaca, hingga berkurangnya pasokan dari sentra produksi.

Para pakar ekonomi mengatakan bahwa kenaikan harga bahan pokok sering kali merupakan efek berantai dari beberapa situasi sekaligus.

Baca Juga: Lee Yi Kyung Resmi Gugat Penebar Rumor Foto Vulgar, Beberkan Kronologi, Akui Alami Tekanan hingga Terpaksa Hengkang dari Program TV

Mulai dari biaya produksi yang meningkat, gangguan pasokan akibat cuaca buruk, hingga spekulasi pedagang besar.

Kondisi tersebut diperburuk oleh kurang efektifnya pengawasan pasar dan distribusi, sehingga harga di lapangan cenderung tidak terkendali.

Sejumlah ibu rumah tangga mengaku harus menyesuaikan menu harian mereka. Bahan pangan yang biasanya terjangkau kini dirasa memberatkan, memaksa mereka mencari alternatif yang lebih murah.

Baca Juga: Kiprah Syaiman Noerikhsan Apriliyan, Membangun Education Nusantara Indonesia, Bertumbuh Jadi Ekosistem Kolaboratif hingga Menembus Ranah Global

Ada yang mengurangi konsumsi protein hewani, ada pula yang mengakali pengeluaran dengan membeli bahan dalam jumlah kecil meski akhirnya tidak hemat.

Kenaikan harga bahan pokok juga berdampak pada pedagang kecil. Dengan modal terbatas, mereka kesulitan membeli stok dalam jumlah besar.

Jika harga terus naik, banyak pedagang khawatir usaha mereka tidak bisa bertahan lama.

Situasi ini memicu kekhawatiran tersendiri di kalangan pelaku UMKM yang bergerak di sektor kuliner.

Baca Juga: Ciseeng, Kampung Air yang Menjadi Motor Perikanan Kabupaten Bogor

Pemerintah sejatinya telah menjanjikan pengendalian harga melalui operasi pasar, intervensi cadangan pangan pemerintah, serta koordinasi dengan distributor.

Namun, sejumlah pihak menilai langkah tersebut sering bersifat reaktif dan tidak berlangsung konsisten.

Tanpa pengawasan ketat di lapangan, kebijakan stabilisasi harga sulit memberikan dampak nyata.

Pengamat pangan menegaskan bahwa stabilitas harga bahan pokok harus menjadi prioritas karena berkaitan langsung dengan kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga: Pertamina Regional JBB dan Danantara Perkuat Sinergi Operasional Energi di Integrated Terminal Balongan

Kenaikan harga yang berulang setiap tahun mencerminkan adanya masalah struktural yang membutuhkan solusi jangka panjang.

Mulai dari perbaikan rantai pasok, modernisasi pertanian, hingga peningkatan cadangan pangan strategis.

Di sisi lain, masyarakat berharap pemerintah lebih sigap dalam menindak pelaku penimbunan dan spekulan yang memanfaatkan situasi pasar.

Tanpa langkah tegas, kenaikan harga bahan pokok dianggap akan terus terjadi dan membebani rakyat kecil.

Kenaikan harga sembako bukan sekadar masalah ekonomi, tetapi juga menyangkut kehidupan masyarakat secara langsung.

Selama kebutuhan dasar masih sulit dijangkau, stabilitas sosial pun terancam.***