POJOKSATU.id, BANYUMAS— Sejak dibawa dalam keadaan meninggal, Kamis (23/7) atau dua pekan lalu ke kampungnya di Banyumas, keluarga belum menerima ponsel (Hp) Sutrimo hingga kini.

Tukim, kakak tiri Sutrimo mengatakan, saat serah terima jenazah, keluarga tidak menerima barang-barang pribadi milik Sutrimo seperti ponsel dan lainnya.

Namun mereka dikasih uang santunan dari si pengantar jenazah sebesar Rp 20 juta.

"Ponsel enggak ada, cuma KTP, santunan Rupiah 20 juta, yang menerima bapak saya, sama surat keterangan dari rumah sakit," ungkap Tukim, usai membuat laporan di Mapolresta Banyumas, Sabtu (8/8/2026) malam.

Baca Juga: Polda Metro akan Periksa Dokter RS Muhammadiyah yang Tangani Jasad Sutrimo Penjaga Rumah Febrie

Tukim juga mengaku tidak mengetahui nama orang yang mengantarkan jenazah Sutrimo. Dia hanya mengetahui wajah orangnya saja.

"Yang mengantarkan saya tidak tahu, tahu orangnya tapi enggak tahu namanya," katanya.

Tukim menceritakan kondisi jenazah Sutrimo saat tiba di kampung halaman Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Saat itu, kondisi jenazah bersih. Usai serah terima, keluarga langsung memakamkan jenazah Sutrimo pada malam itu juga karena tidak curiga atas kematiannya.

Keluarga juga sempat membuka kain kafan dan tidak melihat kejanggalan pada wajah maupun tubuh Sutrimo.

Baca Juga: Tangis Warga Pecah di Sumbersewu, Gus Fawait Buktikan Homecare Jember Tak Sekadar Urusan Medis

"Jenazah bersih, sudah dikain kafan, dibuka, enggak ada kecurigaan apa-apa. Makanya dari keluarga langsung mengikhlaskan karena namanya orang kampung, keadaan jenazah bersih jadi tidak ada kecurigaan apa-apa," ujar Tukim.

Diberitakan sebelumnya, Sutrimo penjaga rumah sekaligus kepala rumah tangga Febrie Adriansyah ditemukan dalam kondisi mulut dan hidung berbusa di depan Klinik Mordent Kebayoran Baru, Jaksel, Kamis (23/7/2026) pagi.

Beberapa orang sempat melarikan Sutrimo ke rumah sakit terdekat atau RS Muhammadiyah, namun nyawanya tidak tertolong. Salah satu yang membawa termasuk pegawai Kejaksaan Agung bernama Febrio Adiono.

Jenazah Sutrimo kemudian tiba di kampung halamannya di Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Banyumas, Jawa Tengah, dan langsung dimakamkan pada Kamis (23/7/2026) malam.***