POJOKSATU.id, JAKARTA – Di persidangan di PN Jakbar terungkap bahwa Linda Pujiastuti alias Anita mengaku mengelabui Teddy Minahasa soal pembatalan pengiriman 2 ton sabu dari Myanmar.
Anita alias Linda mengaku menggagalkan 2 ton sabu itu dengan menyuruh orang yang berada di kapal pembawa sabu itu kembali pulang ke Myanmar.
Anita berkomunikasi langsung dengan penyelundup narkoba di kapal tersebut menggunakan handphone-nya.
"Kalau sampai terjadi itu rezeki, sampai kami sisihkan 100 kilo itu. Kami menjualnya. Mafia yang di Myanmar itu tahu barang dia dan saya yang menjualnya, habislah kami tujuh turunan," kata Anita di depan majelis hakim di PN Jakbar, Senin (27/2).
Kesaksian Linda ini terkait dirinya pernah ikut operasi pengungkapan penyelundupan 2 ton sabu dari Myanmar pada 2019 lalu.
Baca Juga :
Dikira Agama Lain, Irjen Teddy Minahasa Pemeluk Islam Taat, Ini Foto Bersama Istrinya
Dia bersama mantan Kapolda Sumbar Irjen Teddy Minahasa Putra berangkat setelah informasi pengiriman narkoba itu didapatkan.
"Saya itu chat kepada terdakwa, saya bilang 'Pak Teddy, saya ada info besar'. Mau ada narkoba jenis sabu masuk Indonesia 2 ton," kata Anita.
Kala itu dia berkunjung ke kantor Teddy untuk membahas informasi tersebut. Lalu Teddy mengajukan surat izin kepada Kapolri saat itu Jenderal Tito Karnavian.
Sekira tiga minggu kemudian Teddy menghubungi Linda. Teddy mengabarkan bahwa operasi telah disetujui.
Baca Juga :
Irjen Teddy Minahasa Mau Jebak Linda, Namun Heran AKBP Dody Tiba-tiba Sudah di Jakarta
Seingat Anita, saat itu operasi diikuti oleh Teddy Minahasa dan Midi Siswoko (sekarang Kapolda), bersama anggota Densus 88 serta ABK berangkat ke Batam.
"Dari situ kami intens hubungan dekat, akhirnya kami berangkat ke Batam, kami pinjam kapal Polair Baladewa. Waktu itu kaptennya Kapten Dani," ujar Anita.
Dia bersama rombongan polisi mengarungi Laut Cina Selatan sekira 2,5 bulan. Tetapi mereka naik turun dari kapal dan tidak intens di tengah laut.
Namun selama pertengahan operasi belum ada hasil dan Midi Siswoko disebut pulang lebih dulu karena ada tugas lain.
Setiap sore, kata Anita, mereka selalu membahas soal operasi tersebut di ruang televisi.
Ada satu momen yang Anita klaim hanya ada dia dengan Teddy di ruang tersebut.
Kemudian jenderal bintang dua itu diduga meminta menyisihkan sabu jika penangkapan berhasil.
"Nanti kalau rezeki kita menangkap, ini kita sisihkan ya 100 kilo. Saya cuma bisa bilang 'Iya Pak Teddy'. Saya tanya lagi, 'Nanti kalau ditanya orang kapal bagaimana?' Bilang aja bahwa cepu yang di kapal itu minta 100 kilo," tutur Anita saat menirukan percakapan kala itu.
Setelah percakapan itu, Anita terpikirkan risiko besar dari penyisihan tersebut. Apabila diminta menjual, dia terpikirkan ancaman oleh mafia narkoba dari Myanmar.
Linda Minta Pengiriman 2 Ton Sabu Dibatalkan
Akhirnya operasi itu sengaja Anita gagalkan dengan menyuruh orang yang berada di kapal pembawa 2 ton sabu itu kembali ke Myanmar.
Sebelum putar balik, penyelundup itu disuruh menunggu di Perairan Andaman dengan alasan menunggu sampai aman.
Anita berkomunikasi langsung dengan penyelundup narkoba di kapal tersebut menggunakan handphone-nya. Akhirnya operasi itu pun dibatalkan setelah para pelaku putar balik.
"Kalau sampai terjadi itu rezeki sampai kami sisihkan 100 kilo itu. Kami menjualnya. Mafia yang di Myanmar itu tahu barang dia dan saya yang menjualnya, habislah kami tujuh turunan," kata Anita.
Dia mengaku lebih baik dimarahi Teddy Minahasa daripada diincar oleh mafia narkoba. Walau begitu, Anita juga mengaku meminta maaf kepada Teddy dan dianggap sudah dimaafkan.
Sementara itu Mantan Kapolda Sumbar Irjen Teddy Minahasa membantah kesaksian Anita soal permintaan penyisihan 100 kilogram sabu dari jumlah 2 ton barang Myanmar ini.
Dia beralasan bahwa tidak adanya bukti dan tidak sesuai pokok perkara peredaran 5 kilogram sabu dari Bukittinggi, Sumatera Barat. (ikror/pojoksatu)




