POJOKSATU.id, SIBOLGA-- Doris (33) kehilangan istrinya yang sedang hamil 5 bulan, satu anaknya kelas 3 SD, serta tiga adiknya akibat tanah longsor Selasa sore (25/11/2025) di Jalan Murai, Desa Aek Manis, Kecamatan Sibolga Selatan, Kota Sibolga.

Namun deritanya terus berlanjut, pihak RSU FL Tobing tetap meminta biaya pemulasaraan jenazah termasuk kain kafan dan ambulans kelima anggota keluarganya sebesar Rp 3 juta saat itu.

“Aku pikir gratis. Rupanya enggak. Uangku semua tertimbun di rumah. Aku bingung, masa musibah begini masih bayar?” keluhnya kepada wartawan, Jumat (5/12).

Baca Juga: Usai Banjir Bandang Sumatera, Jubir Luhut Pandjaitan Bantah Bosnya Terkait Toba Pulp Lestari

Karena tak punya apa pun lagi, Doris terpaksa meminjam uang dari saudara dan tetangganya hingga sekitar Rp 3 juta untuk memulangkan jenazah lima keluarganya ini dari rumah sakit.

Kini, ia mengungsi di rumah kerabat. Ia tidak memiliki pakaian lain selain baju dan celana yang ia kenakan pada malam kejadian.

“Sudah seminggu celana ini tak pernah diganti,” katanya pelan.

Sebagai kurir ekspedisi, Doris berharap bisa segera kembali bekerja. Namun ia bahkan tak punya pakaian layak untuk bekerja.

Baca Juga: PUTUSAN ZALIM, Hanya Pegang Dahi Murid Memastikan Demam, Guru SD Mansur DIVONIS 5 Tahun, Apa Kabar Restorative Justice

“Pengen kerja lagi, mulai dari nol. Tapi bingung, celana pun tak punya, uang tak ada,” tuturnya dilansir dari Tribunbatam.

Tertimbun Longsor 3 Meter

Lima anggota keluarganya tertimbun longsor 3 meter di dalam rumahnya di Jalan Murai Desa Aek Mais.

Doris selamat gara-gara berangkat salat berjamaah ke masjid di desanya pada Selasa hari kejadian itu. Istrinya yang meminta dia berangkat salat Magrib ke masjid saat itu.

Setelah selesai melaksanakan salat Magrib, Doris mendengar suara gemuruh yang memecah keheningan malam di desanya.

"Selesai salat, langsung berdoa. Nah selesai berdoa, di situlah aku pikir pada saat itu petir yang begitu besar. Rupa-rupanya kutengoklah dari samping sana, longsor yang begitu besar dari atas kuncup," ungkapnya.

Dalam kepanikan, Doris mendapati rumahnya di Jalan Murai itu sudah tertimbun longsor setinggi tiga meter.

"Ku kejarlah, nyampelah aku ke depan sini, ku tengoklah pasir itu sudah 3 meter ke atas. Jadi aku pun bingung, drop. Istriku kulihat enggak ada lagi, adikku pun kulihat enggak ada lagi," tambahnya dengan suara bergetar.

Kelima anggota keluarganya tertimbun longsoran tanah yang berasal dari belakang rumahnya.

Kejadian di Aceh Utara

Rumah Sakit Umum Cut Meutia Kabupaten Aceh Utara, Aceh, menskors Kepala Instalasi Kamar Jenazah berinisial M yang merupakan aparatur sipil negara (ASN) di RSU Cut Meutia.

Pegawai ini telah mengambil uang Rp 3 juta untuk pemulasaraan jenazah korban banjir di rumah sakit tersebut.

Uang itu digunakan untuk pembelian kain kafan dan biaya pemandian jenazah.

Direktur RSUCM Aceh Utara, Syarifah Rohaya, Selasa (2/12/2025) menyebutkan bahwa aksi tersebut dilakukan ASN itu tanpa berkoordinasi dengan manajemen rumah sakit.

“Memang ada tarifnya untuk pemulasaraan jenazah. Namun, ini kan sedang musibah banjir, ASN tersebut tidak berkoordinasi dulu. Padahal sebelumnya manajemen sudah menyampaikan agar tidak ada pungutan untuk korban banjir,” kata Syarifah.***