POJOKSATU.ID - Klaim PT Pertamina (Persero) mengenai keberhasilan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan kembali menuai sorotan.
Pasalnya, di tengah laporan berbagai insiden serius yang terjadi hingga Januari 2026, Pertamina justru menyatakan telah mencatat lebih dari 150 juta jam kerja tanpa satu pun kecelakaan.
Pernyataan tersebut dinilai janggal jika dibandingkan dengan fakta-fakta di lapangan yang telah diberitakan secara luas oleh berbagai media nasional.
Baca Juga: Terbongkar! 300 Ton Bantuan Bencana Masih Tersimpan Rapi di Gudang BPBD Bireuen
Sejumlah insiden fatal tercatat terjadi di area proyek RDMP Balikpapan maupun kawasan pendukungnya, mulai dari kecelakaan kerja hingga peristiwa non-teknis yang berujung korban jiwa.
Beberapa insiden yang sempat mencuat ke publik antara lain kecelakaan kerja akibat longsoran galian yang menewaskan pekerja, pekerja jatuh dari ketinggian, serta kebakaran di area kilang yang bahkan sempat menghentikan operasional proyek.
"Tak hanya itu, terdapat insiden non-teknis berupa insiden perkelahian antarpekerja yang berujung korban jiwa," tulis akun Instagram @tbn.id, Selasa 12 Januari 2026, seperti dikutip pojoksatu.id.
Baca Juga: Guru Milenial dan Gen Z Jadi Penggerak Utama Adopsi Teknologi di Sekolah
Rangkaian kejadian tersebut menegaskan bahwa proyek strategis nasional berskala besar seperti RDMP Balikpapan memiliki tingkat risiko keselamatan kerja yang tinggi.
Kondisi ini sekaligus memunculkan pertanyaan serius mengenai penerapan standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di lapangan.
Pengawasan proyek, kepatuhan terhadap prosedur keselamatan, hingga transparansi pelaporan insiden menjadi sorotan utama.
Baca Juga: Nasib PPPK di Ujung Tanduk! Kontrak Kerja Bisa Diputus Lagi, Solusinya Cuma Dua
Publik mempertanyakan bagaimana insiden-insiden yang menelan korban jiwa dapat terjadi, sementara di sisi lain perusahaan mengklaim pencapaian jam kerja tanpa kecelakaan.
Dalam konteks industri migas, istilah jam kerja tanpa kecelakaan biasanya merujuk pada indikator keselamatan tertentu.
Namun, perbedaan tafsir mengenai kategori kecelakaan yang dicatat atau tidak dicatat kerap menjadi sumber kontroversi.
Sejumlah pihak menilai klaim tersebut berpotensi menyesatkan jika tidak disertai penjelasan rinci mengenai definisi kecelakaan kerja yang digunakan.
Apakah insiden fatal di lapangan masuk dalam perhitungan, atau justru dikeluarkan dari statistik tertentu.
Proyek RDMP Balikpapan sendiri merupakan salah satu proyek strategis nasional yang digadang-gadang menjadi tulang punggung peningkatan kapasitas pengolahan minyak dalam negeri.
Baca Juga: Saat Rakyat Mengeluh Bertahun-tahun, Presiden Prabowo Baru Membuka Dugaan Permainan di PERTAMINA
Dengan skala proyek yang besar dan melibatkan ribuan tenaga kerja, aspek keselamatan seharusnya menjadi prioritas utama.
Perbedaan antara klaim resmi dan fakta lapangan ini pun memicu diskusi lebih luas soal akuntabilitas BUMN, keterbukaan informasi publik, serta perlindungan terhadap pekerja.
Transparansi dinilai penting agar kepercayaan publik terhadap proyek strategis nasional tidak terus terkikis.
Baca Juga: Gaji Fantastis Rp117 Juta, Tapi Pegawai Pajak Ini Masih Nekat Main Suap dan Berujung OTT KPK
Hingga kini, publik masih menunggu penjelasan komprehensif dari Pertamina terkait klaim tersebut, sekaligus langkah konkret untuk memastikan keselamatan kerja benar-benar menjadi prioritas, bukan sekadar angka dalam laporan.***




