POJOKSATU.ID - Alumni bernama GM akhirnya angkat bicara setelah puluhan tahun memendam kisah pahit.
Melalui unggahan panjang di Facebook sejak 10 November 2025, ia mengaku menjadi korban dugaan aksi asusila oleh seorang oknum pelatih voli di sekolahnya.
Yang kemudian viral dan membuka tabir luka lama bagi sesama alumni.
GM menuturkan bahwa selama ini ia tak berani berbicara, meski trauma itu melukai kehidupannya.
Baca Juga: Heboh! Warga Temukan Bayi yang Hampir Membeku di Tempat Sampah Cipayung
“Ngomong kayak gini butuh banget keberanian karena selama ini udah memendam puluhan tahun, hidup setrauma dan setakut itu,” tulisnya.
Unggahan tersebut tak hanya mengundang simpati, tetapi juga resonansi dari para alumni lain.
Dalam artikel SukabumiUpdate, beberapa alumni yang pernah sekolah di tempat yang sama membenarkan bahwa sang oknum memang pernah melatih ekskul voli putri.
“Saya dan beberapa korban juga saksi siap dimintai keterangan,” tegas GM dalam unggahan lanjutan.
Baca Juga: Jangan Salah! Tidak Semua Keluarga PNS Bisa Terima Pensiun. Ini Syarat Ahli Waris yang Diakui Negara
Salah satu bagian paling mencengangkan dari pengakuan GM adalah penggunaan istilah “briefing malam”.
Menurut GM, istilah itu merupakan kode untuk pertemuan pribadi di malam hari, di mana ia menuduh oknum guru melakukan pelecehan.
Dalam tulisannya yang bersambung, GM menyiratkan bahwa kasus tersebut bukan insiden tunggal, melainkan modus lama yang berkepanjangan.
Dua alumni bernama I dan E, yang lulus pada tahun 2010, turut angkat bicara kepada SukabumiUpdate.
Mereka menyatakan bahwa sosok terduga pelaku memang pernah menjadi pelatih ekstrakurikuler voli di sekolah mereka.
“Iya, dia memang melatih ekskul bola voli putri sejak lama,” ungkap I. Ia dan E berharap kasus ini segera diproses hukum agar tak hanya menjadi “isu liar”.
Para alumni juga mempertanyakan mengapa laporan awal GM ke polisi tidak ditindaklanjuti.
GM mengaku pernah melapor ke Polsek Surade, tapi prosesnya berhenti karena kurangnya saksi dan korban lain saat itu.
Pihak sekolah MAN 3 Surade, Yuli Yuniar Sonjaya, membenarkan bahwa GM adalah alumni.
Ia menyatakan telah membaca unggahan viral tersebut, namun menolak memberi komentar lebih jauh terkait tuduhan asusila.
Menariknya, pihak sekolah menerangkan bahwa oknum yang dituduh telah mengundurkan diri dari posisi pelatih voli.
Selain itu, Kementerian Agama (Kemenag) disebut sedang menelisik lebih dalam kasus ini, sebagai bagian tanggung jawab institusional.
Baca Juga: 98 Persen Cakupan, Tapi Apa UHC Indonesia Sudah Benar-benar Siap di Akhir 2025?
Tak hanya GM, muncul kabar adanya korban baru.
Menurut laporan DetikJabar, ada orang tua siswa MTs yang menyatakan kekhawatiran bahwa anaknya juga pernah dihadapkan situasi mirip.
Tokoh perlindungan anak, seperti KPAI dan tim DP2KB Sukabumi, kini digandeng untuk memperkuat penyelidikan.
Menurut mereka, keterlibatan para alumni ini menjadi momentum untuk menyelidiki dugaan praktik predator di lingkungan sekolah.
Keterbukaan GM berkaitan erat dengan perubahan budaya media sosial saat ini.
Ia menyebut bahwa dengan bersuara, ia bisa menarik perhatian lebih banyak orang dan membuka ruang untuk korban lain.
“Kenapa saya up terus di sosial media agar menjadi atensi pihak berwajib dan pelaku ditindak sesuai hukum yang berlaku,” tulisnya.
Para alumni lain mendukung langkah GM sebagai bentuk tanggung jawab moral sekaligus panggilan keadilan.
Mereka berharap kasus ini tidak berakhir di linimasa, tetapi melalui proses hukum yang jelas.***




