POJOKSATU.ID - Di tengah tingginya korban dan rusaknya ratusan ribu rumah akibat banjir dan longsor di Sumatera, muncul inisiatif menyorot ketimpangan penanganan pascabencana.

Ratusan kayu gelondongan yang hanyut terbawa banjir kini direncanakan akan diolah menjadi bahan hunian rumah sementara bagi para penyintas.

Gagasan tersebut datang dari kalangan akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM).

Baca Juga: Verifikasi Bank Dilakukan Setelah KKS Dibagikan, Data Salah Bisa Bikin Bansos Gagal Cair

Berdasarkan data BNPB per 18 Desember 2025, jumlah korban jiwa dari tiga provinsi terdampak telah mencapai 1.059 orang, dengan potensi terus bertambah.

Selain itu, 192 orang masih dinyatakan hilang dan sedikitnya 147 ribu rumah mengalami kerusakan.

Kondisi ini memperlihatkan besarnya tantangan pemulihan, sementara ribuan warga masih bertahan di tenda dan terpal darurat yang jauh dari kata layak.

Baca Juga: Perhatikan Lagi! KPM Punya KKS tapi Bansos Belum Cair, Waspada Gagal Cek Rekening

Melihat situasi tersebut, grup riset UGM bertajuk “Tangguh”.

Kolaborasi lintas disiplin dari Arsitektur, Teknik Sipil, serta Perencanaan Wilayah dan Kota, menginisiasi desain hunian sementara berbasis kayu hanyutan banjir.

Material kayu dipilih karena relatif kuat, mudah diperoleh di lokasi terdampak, dan memiliki daya tahan hingga tiga sampai lima tahun.

Baca Juga: Jangan Telat Cairkan Bansos di KKS, Lewat 31 Desember 2025 Dana Bisa Kembali ke Kas Negara

Salah satu peneliti, Ardhya Nareswari, menilai bahwa penggunaan tenda darurat dalam jangka panjang tidak manusiawi.

Menurutnya, bisa memakan waktu bertahun-tahun karena harus melalui penyusunan peta risiko bencana, penentuan lokasi relokasi, hingga perencanaan teknis.

Ardha mengatakan, Kalau menunggu hunian tetap, warga akan terlalu lama hidup di kondisi yang tidak layak.

"Terpal dan tenda hanya solusi sesaat, bukan untuk berbulan-bulan apalagi bertahun-tahun,” ujarnya, dikutip dari Kompas, 20 Desember 2025.

Konsep hunian transisi yang dirancang UGM menekankan prinsip memanusiakan penyintas. Hunian dibuat berbasis keluarga, bukan komunal, dengan ukuran standar minimal 36 meter.

Baca Juga: Bansos Belum Cair hingga 21 Desember 2025? Pemerintah Siapkan Perpanjangan Penyaluran

Selain itu, kayu banjir dimanfaatkan sebagai bahan utama agar tidak terbuang sia-sia dan sekaligus mengurangi tumpukan material di sungai yang memicu bencana lanjutan.

Peneliti lainnya, Ashar Saputra, menjelaskan bahwa struktur hunian dirancang sangat sederhana.

Bahan papan kayu berukuran 3 x 12 cm dirakit tanpa takikan, hanya menggunakan baut dan bor.

Baca Juga: PKH Belum Cair Setelah 31 Desember? Ini Cara Resmi Melapor agar Hak Anda Tetap Dibayar

“Konsepnya tempel, gapit, baut. Orang awam pun bisa membangun rumahnya sendiri,” kata Ashar.

Pendekatan ini dinilai dapat mempercepat pemulihan karena masyarakat dilibatkan langsung dalam proses pembangunan.

Selain menekan biaya, cara ini juga meningkatkan rasa kepemilikan warga terhadap hunian mereka.

Baca Juga: Daftar Kota dan Kabupaten di Jawa Barat yang Sudah Salurkan Bansos APBD hingga 31 Desember 2025

Namun di balik inovasi ini, muncul kritik tak langsung terhadap lambannya penyediaan hunian sementara oleh pemerintah.

Ketika akademisi harus turun tangan merancang solusi berbasis kayu hanyutan, pertanyaan besar muncul.

Sejauh mana kesiapan negara dalam menjamin tempat tinggal layak bagi korban bencana?

Saat ini, proyek UGM masih berada pada tahap pembuatan mock-up dan perancangan teknis.

Tahap berikutnya adalah penyusunan modul pelatihan agar masyarakat lokal dapat membangun hunian transisi secara mandiri.

Harapannya, pemulihan tidak sepenuhnya bergantung pada birokrasi yang kerap berjalan lambat.***