POJOKSATU.ID - Ratusan Arek Suroboyo mendatangi kantor Dewan Pimpinan Cabang (DPC) organisasi masyarakat Madas yang berlokasi di Jalan Marmoyo, Kota Surabaya.
"Aksi ini merupakan bentuk kemarahan dan penolakan warga terhadap dugaan praktik premanisme yang dinilai telah mencoreng citra Kota Pahlawan," tulis akun Instagram @beritasatu, Minggu 28 Desember 2025, seperti dikutip pojoksatu.id.
Sejak siang hari, massa berdatangan dari berbagai penjuru kota.
Baca Juga: PPPK Paruh Waktu Ada Kesempatan Naik Status, Ini Standar Kinerja yang Wajib Dipenuhi
Mereka menyuarakan aspirasi dengan lantang, menegaskan bahwa Surabaya tidak memberi ruang bagi aksi-aksi yang menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
Spanduk dan poster bernada penolakan terhadap premanisme terlihat dibentangkan di sekitar lokasi.
Aksi tersebut dipicu oleh akumulasi kekecewaan warga terhadap ormas Madas yang disebut-sebut kerap terlibat dalam tindakan yang meresahkan.
Warga menilai, praktik-praktik semacam itu tidak sejalan dengan nilai-nilai kebersamaan dan keberanian moral yang selama ini menjadi identitas Arek Suroboyo.
Puncak kemarahan publik terjadi setelah beredarnya informasi mengenai dugaan pengusiran seorang nenek berusia 80 tahun bernama Elina Widjajanti dari rumah tinggalnya.
Peristiwa tersebut disebut dilakukan dengan cara yang dinilai tidak manusiawi dan melukai rasa keadilan masyarakat.
Kabar itu dengan cepat menyebar luas di media sosial dan grup percakapan warga.
Banyak pihak menyayangkan kejadian tersebut, terlebih karena menyangkut warga lanjut usia yang seharusnya mendapat perlindungan, bukan tekanan.
Solidaritas pun menguat. Warga Surabaya dari berbagai latar belakang sepakat turun ke jalan untuk menyuarakan penolakan terhadap segala bentuk premanisme.
Baca Juga: Profesi Hukum yang Jarang Diketahui, Peluang Karier Menjanjikan di Luar Pengadilan
Aksi di depan kantor DPC Madas menjadi simbol perlawanan moral masyarakat terhadap tindakan yang dianggap sewenang-wenang.
Dalam aksi tersebut, massa menuntut aparat penegak hukum agar bertindak tegas dan mengusut tuntas dugaan pelanggaran yang melibatkan ormas tersebut.
Mereka menegaskan bahwa hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu demi menjaga ketertiban dan rasa aman warga.
Baca Juga: Ironi Bantuan Kemanusiaan, Kadinsos Samosir Jadi Tersangka Korupsi Bantuan Banjir Rp1,5 Miliar
Situasi di sekitar lokasi sempat memanas, namun tetap dalam pengawasan aparat kepolisian.
Petugas berjaga untuk memastikan aksi berjalan kondusif dan tidak berujung pada bentrokan fisik.
Bagi warga Surabaya, aksi ini bukan sekadar unjuk rasa, melainkan pernyataan sikap.
Baca Juga: KDM Datang Pakai Sandal Jepit! Gubernur Jabar Sidak dan Siap Bongkar Biang Banjir Cirebon
Arek Suroboyo ingin menegaskan bahwa kota ini menolak segala bentuk intimidasi dan praktik premanisme yang merugikan masyarakat kecil.
Kasus dugaan pengusiran nenek Elina menjadi pengingat bahwa keadilan sosial harus dijaga bersama.
Warga berharap kejadian serupa tidak terulang dan Surabaya tetap menjadi kota yang aman, humanis, serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.***




