POJOKSATU.ID - Kasus ledakan di masjid SMAN 72 Jakarta terus menguak lapisan kelalaian yang selama ini tampak tertutup.

Polda Metro Jaya mengonfirmasi bahwa anak berkonflik dengan hukum yang diduga sebagai pelaku sudah diperiksa dua hingga tiga kali.

Namun hingga kini motif pasti belum juga disimpulkan.

Di tengah lambannya proses, muncul dugaan serius bahwa pelaku merasa kesepian, terabaikan, dan pernah mengalami perundungan.

Baca Juga: Mengenal Tes SAT untuk Kuliah Luar Negeri, Panduan Lengkap bagi Pelajar Indonesia

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menjelaskan pemeriksaan terus dilakukan dengan mencocokkan keterangan para saksi dan ABH.

Sayangnya, penjelasan ini hanya memperkuat kesan bahwa sistem deteksi dini di lingkungan sekolah maupun keluarga gagal total.

“Itu nanti akan didalami kepada si ABH sendiri. Kami akan persesuaikan dengan data yang ada,” ujar Budi, dikutip dari Kompas, 8 Desember 2025.

Namun publik menilai, jika pelaku membawa kemarahan yang berkembang lama, mengapa tak satupun pihak sekolah mampu membaca sinyal bahaya?

Baca Juga: GEMPAR! BLT Kesra Rp900 Ribu Akhirnya Tumpah di Kabupaten Bandung, Cileunyi dan Pacet Pesta Konfirmasi Duluan!

Selama pemeriksaan, ABH didampingi ayahnya, pengacara, Bapas, KPAI, dan APSIFOR.

Ia kini ditempatkan di rumah aman untuk menghindari sorotan publik.

Meski langkah perlindungan ini dinilai tepat, banyak pihak bertanya: mengapa sekolah sebesar SMAN 72.

Yang berada di dalam kawasan Kodamar TNI AL, bisa kecolongan hingga terjadi ledakan yang mencederai 96 orang?

Insiden terjadi pada Jumat 7 November 2025 sekitar pukul 12.15 WIB, tepat saat salat Jumat berlangsung.

Ledakan pertama memecah konsentrasi jamaah, disusul ledakan kedua beberapa detik kemudian.

Fakta bahwa dua ledakan terjadi di masjid sekolah menimbulkan kegelisahan besar, bagaimana bahan peledak bisa dibawa dan dirakit tanpa terdeteksi?

Saksi menyebut pelaku merupakan siswa yang disebut-sebut mengalami perundungan.

Baca Juga: Statistik Timpang Jelang Inter Milan vs Liverpool, Siapa Favorit Pemenang?

Jika benar demikian, maka ledakan ini menjadi bukti telak gagalnya sistem pengawasan dan penanganan kesehatan mental di sekolah.

Publik mempertanyakan mengapa keluhan atau perubahan perilaku siswa tidak dianggap sebagai alarm serius.

Polisi juga menemukan benda menyerupai airsoft gun dan revolver di lokasi kejadian, namun dipastikan hanya senjata mainan.

Meski demikian, keberadaan barang itu memperlihatkan bahwa pelaku sudah menunjukkan kecenderungan berbahaya yang semestinya terdeteksi sejak awal.

Baca Juga: Kemendikdasmen Petakan 1.009 Sekolah Rusak akibat Banjir Sumatra, Sebagian Harus Direlokasi

Di sisi lain, pihak sekolah hingga kini belum memberikan penjelasan komprehensif.

Ketertutupan informasi ini justru menambah kecurigaan bahwa manajemen sekolah mencoba meredam citra buruk alih-alih mengungkap akar persoalan.

Ledakan di lingkungan pendidikan merupakan kejadian langka dan sangat serius, tetapi penjelasan yang diberikan sejauh ini tidak memadai untuk menjawab kegelisahan publik.

Motif dan penyebab pasti memang masih dalam penyelidikan.

Namun fakta bahwa sekolah, institusi militer di sekitarnya, dan aparat keamanan sama-sama gagal mencegah tragedi ini.

Memperkuat kritik bahwa sistem pengamanan ruang publik, terutama sekolah, masih jauh dari memadai.

Jika dugaan bullying dan rasa kesepian menjadi pemicu utama, maka SMAN 72 Jakarta bukan hanya menjadi lokasi kejadian.

Tetapi bagian dari masalah yang harus dievaluasi secara menyeluruh.***