POJOKSATU.ID - Kasus dugaan keracunan makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Muaro Jambi terus berkembang dan memicu kekhawatiran.

Hingga Sabtu (31/1/2026) pagi, jumlah korban dilaporkan meningkat drastis dan telah mencapai 150 pelajar dari berbagai sekolah.

Puluhan siswa di antaranya masih menjalani perawatan intensif di sejumlah fasilitas kesehatan, khususnya di RSUD Ahmad Ripin Sengeti.

Baca Juga: Tak Perlu Bingung, Ini Lokasi Klinik UMKM Bangkit Zona Sumbar yang Siap Dampingi Usaha

Para korban mengalami gejala yang hampir seragam, mulai dari mual, muntah, hingga nyeri hebat di bagian perut.

Lonjakan jumlah pasien mulai terjadi sejak Jumat siang. Saat itu, pelajar dari beberapa sekolah berdatangan ke rumah sakit dan puskesmas dengan keluhan serupa.

Kondisi tersebut membuat tenaga medis harus bekerja ekstra untuk menangani pasien yang datang dalam waktu hampir bersamaan.

Baca Juga: Ramai Isu Kenaikan dan Rapelan Gaji Pensiunan PNS, Taspen Akhirnya Buka Suara

Direktur RSUD Ahmad Ripin Sengeti, Agus Subekti, membenarkan adanya peningkatan signifikan jumlah pasien yang diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program MBG.

“Dari kemarin siang sampai pagi ini total sementara sekitar 150 orang,” ujar Agus, dikutip pojoksatu.id dari instagram @jambisharing.

Ia menjelaskan, sebagian besar pasien merupakan pelajar tingkat dasar dan menengah.

Baca Juga: UMKM Wajib Catat! Ini Sebaran Lengkap Klinik UMKM Bangkit di Sumatra Utara

Meski mayoritas dalam kondisi stabil, beberapa di antaranya masih membutuhkan observasi dan perawatan lanjutan untuk memastikan tidak terjadi komplikasi.

Menanggapi situasi tersebut, Bupati Muaro Jambi Bambang Bayu Suseno (BBS) langsung turun tangan.

Ia mendatangi RSUD Ahmad Ripin Sengeti untuk memastikan langsung kondisi para siswa yang dirawat sekaligus memberikan dukungan moril kepada keluarga korban.

Bupati BBS menegaskan bahwa keselamatan dan kesehatan pelajar menjadi prioritas utama pemerintah daerah.

Ia memastikan seluruh korban keracunan mendapatkan pelayanan medis secara maksimal tanpa dipungut biaya.

Baca Juga: Rp155 Triliun Diduga Bocor ke Luar Negeri dari Ekspor Emas Ilegal, PPATK Bongkar Jaringannya

“Kesehatan anak-anak menjadi prioritas utama kami. Seluruh korban dirawat gratis dan biayanya ditanggung pemerintah daerah,” tegas BBS di hadapan tenaga medis dan orang tua siswa.

Selain menjamin pembiayaan pengobatan, BBS juga meminta instansi terkait untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di wilayahnya.

Ia menegaskan, pemerintah daerah tidak akan mentolerir kelalaian yang berpotensi membahayakan keselamatan pelajar.

Baca Juga: Prabowo Minta Masukan Abraham Samad Terkait Reformasi Kepolisian dan Pemberantasan Korupsi

Kasus ini pun menjadi sorotan luas masyarakat. Program MBG yang sejatinya bertujuan meningkatkan asupan gizi siswa justru berujung insiden serius.

Banyak pihak mendesak agar investigasi dilakukan secara transparan untuk mengungkap penyebab pasti keracunan.

Hingga saat ini, sampel makanan masih diperiksa untuk memastikan sumber kontaminasi.

Baca Juga: Resmi Cair 1 Februari 2026! Segini Besaran Gaji Pensiunan Janda Duda PNS dari Taspen

Pemerintah daerah bersama dinas kesehatan terus melakukan pemantauan terhadap kondisi para korban dan memastikan tidak ada penambahan kasus baru.

Insiden ini menjadi pengingat penting bahwa program sosial berskala besar harus dibarengi pengawasan ketat agar tujuan mulia tidak berubah menjadi bencana bagi penerima manfaat.***