POJOKSATU.ID-  Kemarin kebakaran hebat melanda tumpukan sampah di kolong Tol Papanggo, Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Rabu (17/4/2024) siang.

Insiden ini bukan hanya menyebabkan kepulan asap hitam yang menyelimuti jalan tol dan mengganggu lalu lintas, tapi juga menyoroti masalah kronis: pembakaran sampah liar yang masih marak di tengah kota.

Awalnya api mulai terlihat sekitar pukul 13.00 WIB dari bawah ruas jalan Tol Pelabuhan, tidak jauh dari kawasan Jakarta International Stadium (JIS). Hanya dalam waktu singkat, asap pekat menyelimuti area tol dan membuat jarak pandang pengemudi nyaris nol.

“Api berasal dari tumpukan sampah di kolong tol. Asapnya tebal sekali, langsung menyebar ke jalan tol di atas,” kata Kapolsek Tanjung Priok, Kompol Zulkarnain saat dikonfirmasi.

Baca Juga: Kronologi Kasus Arnaldo Eka Putra, Eks Direktur RSD Madani Pekanbaru Jadi Tersangka Dugaan Korupsi Rp2,1 Miliar

Hasil pemeriksaan awal pihak kepolisian dan petugas pemadam mengarah pada penyebab yang berulang dalam insiden serupa: aktivitas pembakaran sampah oleh warga. Kolong tol Papanggo memang sudah lama menjadi tempat pembuangan sampah liar. Tumpukan sampah yang didominasi plastik, kayu, dan kardus membuat api cepat membesar.

“Dugaan kuat, kebakaran ini akibat pembakaran sampah. Ada yang menyalakan api di salah satu sisi, lalu merembet ke tumpukan lainnya,” jelas Kompol Zulkarnain.

Kondisi lingkungan yang minim pengawasan, tidak adanya penertiban, dan kebiasaan masyarakat membakar sampah di ruang publik jadi kombinasi berbahaya. Petugas menemukan sisa pembakaran di beberapa titik yang mengindikasikan bahwa praktik ini sudah berlangsung lama.

Lima unit mobil pemadam dari Suku Dinas Gulkarmat Jakarta Utara dikerahkan ke lokasi begitu laporan diterima. Kepala Seksi Operasi Sudin Gulkarmat Jakarta Utara, Abdul Wahid, menjelaskan bahwa medan sempit dan banyaknya material mudah terbakar membuat proses pemadaman memakan waktu cukup lama.

Baca Juga: Baim Wong dan Paula Verhoeven Resmi Bercerai: Berikut Fakta Lengkap di Ruang Persidangan, Bagaimana Dengan Hak Asuh Anak?

“Api baru bisa kami padamkan sekitar pukul 15.30 WIB. Asap masih cukup tebal karena banyak sampah plastik dan bahan kimia ringan,” ujarnya.

Petugas juga harus berhati-hati karena berada tepat di bawah jalan tol yang aktif digunakan. Selama proses pemadaman, lalu lintas di atas dan sekitar lokasi dikendalikan oleh kepolisian dan petugas Jasa Marga.

Kepulan asap hitam dari kolong tol naik ke jalan Tol Pelabuhan yang berada di atas lokasi. Banyak pengendara mengaktifkan lampu hazard dan memperlambat laju kendaraan karena jarak pandang terganggu.

“Tidak kelihatan jalan, tadi sempat berhenti karena takut nabrak kendaraan di depan,” ujar Dedi, seorang sopir truk kontainer yang melintas di lokasi saat kejadian.

Polisi lalu lintas langsung turun tangan mengatur arus kendaraan untuk mencegah kecelakaan. Beberapa titik mengalami perlambatan arus hingga api benar-benar padam dan asap mulai menipis.

Baca Juga: Sekolah Rakyat

Pasca kejadian, pemandangan di lokasi kebakaran menunjukkan ironi yang kontras: di satu sisi, Jakarta memiliki stadion bertaraf internasional, JIS, yang hanya berjarak ratusan meter dari lokasi. Di sisi lain, kolong tol dibiarkan menjadi tempat pembuangan liar yang rawan bencana.

Sisa-sisa kebakaran tampak jelas: permukaan tanah menghitam, plastik mencair, dan dinding kolong tol penuh jelaga. Bau menyengat dari sisa pembakaran masih tercium hingga sore hari.

“Sudah lama tempat ini jadi TPS liar. Kadang dibersihkan, tapi balik lagi jadi tempat buang sampah,” kata Erwin, warga sekitar Papanggo.

Menanggapi insiden ini, Camat Tanjung Priok Syamsul Huda mengatakan pihaknya akan segera berkoordinasi dengan dinas terkait untuk membersihkan lokasi dan menutup akses pembuangan sampah di kolong tol.

“Lokasi ini akan dibersihkan dan ditutup agar tidak dimanfaatkan lagi sebagai tempat buang dan bakar sampah. Kami juga akan tingkatkan patroli dan pengawasan,” katanya.

Baca Juga: Sekolah Rakyat

Pihak Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara turut dilibatkan untuk menelusuri siapa yang membuang dan membakar sampah di area tersebut. Pemerintah mengimbau masyarakat untuk berhenti membakar sampah karena berisiko besar terhadap keselamatan dan kesehatan lingkungan.

Kebakaran di kolong Tol Papanggo menjadi satu dari sekian banyak kasus serupa di Jakarta yang penyebab utamanya adalah pembakaran sampah sembarangan. Praktik ini kerap luput dari penegakan hukum, meskipun dampaknya besar: mulai dari polusi udara, gangguan lalu lintas, hingga ancaman keselamatan publik.

Menurut pengamat tata kota, kolong tol seharusnya bisa dimanfaatkan sebagai ruang publik yang produktif seperti taman, lapangan komunitas, atau fasilitas olahraga. Namun, minimnya pengawasan dan buruknya tata kelola membuat ruang tersebut justru berubah menjadi TPS liar yang rentan bencana.

Baca Juga: APAKAH Pencairan TPG Dilakukan Maksimal 14 Hari setelah Penerbitan SKTP? YUK Cek Regulasi yang Berlaku Saat Ini!

“Kolong tol ini aset ruang kota yang terabaikan. Saat dibiarkan jadi tempat buang sampah, risikonya bisa meluas ke seluruh kawasan, seperti yang terjadi sekarang,” ujar Ahmad Rasyid, peneliti tata kota dari Universitas Trisakti.

Kebakaran di kolong tol Papanggo bukan sekadar insiden kebakaran biasa. Ini adalah alarm keras atas lemahnya pengawasan terhadap pembakaran sampah liar, serta buruknya pengelolaan ruang-ruang publik Jakarta.

Diperlukan langkah tegas, mulai dari penertiban tempat pembuangan liar, pelarangan pembakaran terbuka, hingga edukasi masyarakat. Jika dibiarkan, kasus seperti ini tak hanya akan terulang, tapi bisa memicu bencana yang lebih besar di kemudian hari.***