POJOKSATU.id - Kartino Manoppo, kelahiran 19 Maret 1931, di Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara adalah istri kelima dari Presiden Soekarno.
Kartini Manoppo berasal dari keluarga terhormat, yang mengawali karirnya sebagai pramugari Garuda Indonesia. Selain itu, ia juga merupakan seorang model.
Soekarno dan Kartini Manoppo bertemu pertama kali pada tahun 1958 di dalam pesawat Garuda Indonesia.
Saat itu dari Bandara Kemayoran, Jakarta Presiden Sukarno menumpang pesawat Garuda.
Baca Juga: Berbeda dengan Megawati, Ini Potret Kehidupan Sederhana Ayu Gembirowati Putri Bungsu Soekarno
Waktu itu Bung Karno punya agenda ke Jawa Timur karena hendak meresmikan pabrik tenun di Batu Ceper, Malang.
Salah seorang kru pesawat bernama Kartini Manoppo melayani penerbangan itu selaku pramugari.
Pertemuan pertama itu terjadi pada 1958. Tidak lama setelahnya, Kartini berhenti sebagai pramugari. Dia kembali pulang ke kampung halamannya di Mobago, Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara.
Selain berprofesi sebagai pramugari Garuda, Kartini juga seorang model. Dia pernah dilukis oleh pelukis sohor Basuki Abdullah.
Baca Juga: Kisah Gus Dur Kecil yang Nakal, Pernah Cedera Serius karena Jatuh dari Pohon
Pada 1959, Basuki Abdullah mengadakan pameran lukisan bertema Lady with Kebaya yang dihadiri Presiden Soekarno.
Saat itulah Soekarno melihat wajah cantik Kartini terlukis dalam kanvas Basuki Abdullah. Sukarno kesengsem lalu jatuh cinta.
Berawal dari pameran itu, Soekarno lalu mencari informasi tentang wanita yang ada dalam lukisan.
Setelah tahu bahwa wanita dalam lukisan adalah Kartini Manoppo, Soekarno bergegas melakukan sesuatu.
Baca Juga: Sejarah Berdirinya Kabupaten Bekasi yang Tak Lepas dari Jasa 6 Tokoh Ini
Soekarno memerintahkan Sekretariat Negara untuk mengirimkan surat ke pihak maskapai Garuda Indonesia. Surat tersebut diteruskan kepada Kartini yang berada di Mobago.
Dalam surat itu, pimpinan Garuda meminta Kartini bersedia kembali jadi pramugari. Sejak saat itu, Kartini Manoppo tidak pernah absen tiap kali Soekarno pergi ke luar negeri.
Kartini Manoppo juga akan diikutsertakan dalam Festival Pramugari Sedunia mewakili Indonesia. Pada akhirnya, ia menuruti permintaan Soekarno.
Sebelum berangkat, Kartini menghadap Soekarno terlebih dahulu di Istana. Setelah diberi wejangan, Sukarno mengajak Kartini ke dalam salah satu living room.
Di situlah Bung Karno menyatakan cintanya kepada pramugari jelita asal Bolaang Mongondow itu.
Kartini sempat bimbang namun akhirnya mengiyakan dengan syarat menanti kepulangannya dari Amerika Serikat.
Menurut Kartini, sosok Soekarno yang brilian menjadi alasan dirinya membalas cinta Sukarno. Pada tahun itu juga, Kartini Manoppo berangkat ke San Fransisco mengikuti festival pramugari.
Sepulang dari sana, Kartini tetap mantap pada keputusan berhenti jadi pramugari. Namun surat pengunduran dirinya tidak diterima.
Kartini malah dipindahkan ke “Dolok Martimbang”, pesawat kepresidenan saat itu.
Di Dolok Martimbang, jadwal penerbangan tidak sepadat di Garuda. Kartini pun hanya sesekali terbang mendampingi Soekarno.
Lambat laun, Kartini menyadari, penempatannya di pesawat kepresidenan dikondisikan agar selalu dekat dengan Soekarno.
Setelah empat tahun bekerja di Dolok Martimbang, tibalah saat yang paling mendebarkan. Bung Karno meminta Kartini menjadi istrinya.
Kartini menerima pinangan Soekarno. Kendati demikian, Kartini tidak ingin merepotkan calon suaminya itu.
Pasalnya, adat istiadat di Mobago, kampung halaman Kartini, sangat kuat. Di sana tidak ada istilah istri ke-2 atau yang ke-3.
Saat itu, Soekarno telah memperistri Hartini dan belum menceraikan Fatmawati sang Ibu Negara.
Sementara di pihak Kartini, keluarganya terbilang keluarga terpandang. Oleh sebab itu, Kartini tidak mungkin dijadikan istri ke-2 atau ke-3 sekalipun yang melamar adalah seorang presiden.
Mereka pun resmi menikah secara diam-diam, pada 1959. Setelah diperistri, Kartini dilarang terbang lagi.
Kartini pun dirumahkan di Jalan Sabang, Jakarta Pusat. Tapi kemudian tempat tinggal itu diambil alih oleh maskapai kapal laut Jakarta Llyod.
Karena sering sakit-sakitan, atas anjuran dokter dan Bung Karno, Kartini dikirim ke Jerman untuk berobat sekaligus istirahat, dan untuk menghindari konflik politik. Ia pun menetap di kota Nuremberg.
Lalu, pada 17 Juli 1967, Kartini Manoppo melahirkan anak dari Soekarno dan diberi nama Totok Suryawan Soekarnoputra yang berarti putra sang fajar.
Namun Soekarno yang telah menjadi tahanan tidak sempat menyaksikan kehadiran Totok maupun Kartini.
Penjagaan yang ketat dari aparat tentara tidak memungkinkan Soekarno bertemu siapa saja dengan leluasa.
Hingga wafatnya Soekarno pada 21 Juni 1970, Totok tidak sempat melihat sang ayah. Sewindu berselang, tepatnya 21 Juni 1978, Kartini dan Totok hanya bisa mengunjungi pemugaran makam Bung Karno di Blitar.
Hingga akhirnya, pada tanggal 14 April 1990, Kartini Manoppo wafat di Jakarta dan jasadnya dikirim ke kampung halamannya di Kotamobagu, Sulawesi Utara.***




