POJOKSATU.id — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti sejumlah wilayah di Kalimantan.
Kondisi tersebut mulai dirasakan langsung oleh masyarakat karena mengganggu aktivitas sehari-hari hingga memengaruhi kualitas udara.
Di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, kabut asap dilaporkan semakin pekat dalam beberapa hari terakhir.
Asap bahkan masuk ke permukiman warga di sekitar lokasi kebakaran.
Baca Juga: Beasiswa Garuda 2026 Kirim 515 Siswa ke Kampus Top Dunia, Australia Jadi Tujuan Terbanyak
Kondisi tersebut membuat sebagian warga mengeluhkan gangguan pernapasan dan harus lebih berhati-hati ketika beraktivitas di luar rumah.
Jarak pandang di sejumlah lokasi juga dilaporkan menurun akibat tebalnya asap.
Tidak hanya di Banjarbaru, kabut asap juga menyelimuti Palangka Raya, Kalimantan Tengah.
Baca Juga: Siklon Tropis Saudel Terpantau BMKG, Waspada Hujan Lebat di Sejumlah Daerah
Kondisi ini turut berdampak terhadap kegiatan masyarakat, termasuk aktivitas pendidikan dan transportasi.
Di Kalimantan Barat, situasi serupa terjadi di Pontianak.
Kualitas udara pada Kamis, 21 Agustus 2026, dilaporkan mencapai kategori sangat buruk dengan indeks AQI 491 pada pagi hari.
Kabut asap yang semakin pekat juga membuat orang tua siswa di Pontianak khawatir terhadap kondisi anak-anak mereka.
Sejumlah orang tua bahkan berharap sekolah kembali menerapkan pembelajaran jarak jauh apabila kualitas udara terus memburuk.
Kekhawatiran tersebut muncul karena anak-anak dinilai lebih rentan terhadap dampak udara yang tercemar, terutama ketika harus beraktivitas di luar ruangan.
Baca Juga: ATM MBG Usulan Romy Soekarno Segera Dibahas Komisi IX DPR, Bantuan Rp15 Ribu per Langsung ke Siswa
Dampak kabut asap juga mulai terasa pada sektor transportasi.
Di Bandara Supadio Pontianak, sebanyak 21 penerbangan mengalami keterlambatan pada periode 18 hingga 21 Agustus 2026 akibat kondisi asap yang mengganggu operasional penerbangan.
Sementara itu, pemerintah daerah mulai mengambil sejumlah langkah untuk melindungi masyarakat.
Di Kalimantan Selatan, misalnya, Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman membagikan masker kepada warga sebagai salah satu upaya mengurangi paparan asap.
Baca Juga: Ada Dua Insiden Tertemper KRL, KAI Tutup Permanen Perlintasan Liar Kalideres-Tebet
Kondisi kabut asap yang meluas menjadi perhatian karena dampaknya tidak lagi hanya berada di sekitar titik kebakaran.
Asap telah mengganggu mobilitas warga, kegiatan belajar, penerbangan, serta kualitas udara di sejumlah kota.
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Alex Indra Lukman juga meminta pemerintah mengambil langkah luar biasa dalam menangani karhutla Kalimantan.
Menurutnya, dampak kebakaran telah meluas ke sektor kesehatan, pendidikan, transportasi, dan aktivitas ekonomi.
Baca Juga: Pemkab Jember Kucurkan Hibah Rp500 Juta ke Kemendagri, Amankan Stok 50 Ribu Blangko KTP-el
Dengan kondisi yang masih berkembang, upaya pemadaman dan pencegahan perlu terus diperkuat.
Masyarakat juga diimbau meningkatkan kewaspadaan serta mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara memburuk.
Kabut asap yang kembali menyelimuti sejumlah wilayah Kalimantan menunjukkan bahwa karhutla bukan hanya persoalan kebakaran hutan dan lahan.
Dampaknya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari.***




