POJOKSATU.ID - Di tengah kekacauan akibat banjir dan longsor yang melumpuhkan Sibolga dan Tapanuli Tengah.
Sebuah keputusan tak biasa muncul dari pucuk pimpinan kepolisian.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengumumkan bahwa seluruh warga yang sempat ditangkap karena aksi penjarahan minimarket telah dibebaskan.
Menurutnya, tindakan tersebut bukan kriminal, melainkan jeritan manusia yang berjuang sekadar untuk tetap hidup.
Baca Juga: Model Baru Bertani, Desa Anggadita Karawang Berhasil Panen Jagung Hibrida
Dalam konferensi pers di Posko Terpadu TNI Lanud Halim Perdanakusuma, Rabu 3 Desember 2025.
Kapolri menyampaikan bahwa polisi tak bisa menutup mata terhadap fakta memilukan di lapangan.
“Saat itu mereka hanya membutuhkan logistik makanan, Tidak ada lagi yang diamankan, semua kita lepas,” tegasnya, dikutip dari Kompas, 3 Desember 2025.
Pernyataan ini seolah menjadi pengakuan resmi bahwa kondisi di Sibolga memang sudah pada level krisis kemanusiaan.
Baca Juga: Korban Butuh Makan dan Rumah, Erick Thohir Malah Janji Bagi-Bagi Alat Olahraga?
Bantuan tidak sampai, perut menjerit, sementara akses logistik mati total. Kombinasi paling mematikan bagi rakyat kecil.
Salah satu kisah yang membuat publik terenyuh datang dari seorang warga bernama Baim.
Ia terpaksa menjebol minimarket di Tanjung Pura, bukan untuk mencari barang mahal atau mengambil keuntungan.
Melainkan untuk membawa pulang air mineral, sosis, camilan, dan yoghurt, makanan apa pun yang bisa membuat sepuluh anggota keluarganya bertahan satu hari lagi.
“Ini bukan buat saya, tapi buat orang di rumah. Ada sepuluh orang, termasuk om dan nenek,” tuturnya.
Aksi nekat itu terjadi bukan karena tak ada aparat.
Petugas keamanan disebut hanya diam, seolah memahami situasi di mana kelaparan lebih cepat membunuh daripada air bah.
Saat negara belum hadir, insting bertahan hidup mengambil alih.
Kepala Pusat Data BNPB, Abdul Muhari, membeberkan akar kekacauan ini, akses bantuan terputus total.
Baca Juga: Jelang Nataru, Pemprov Banten Kebut Perbaikan Jalan Menuju Anyer hingga Sawarna
Jalan darat dari Tarutung menuju Sibolga tak bisa dilalui. Satu-satunya jalur yang tersisa adalah udara melalui helikopter.
Tapi daya angkut helikopter terlalu kecil dibandingkan truk logistik. Sementara di bawah, ribuan warga menunggu dengan perut kosong.
Hasilnya, bantuan datang “seiprit-seiprit”, tidak cukup untuk masyarakat yang jumlahnya ribuan.
Setiap kotak makanan seperti berebut oksigen. Keterlambatan inilah yang akhirnya memicu aksi penjarahan yang kini viral di media sosial.
Publik menilai tragedi ini bukan sekadar persoalan bencana alam.
Baca Juga: Menjelang Tutup Tahun, Harapan Guru Pupus karena TPG TW 3 dan 4 Belum Cair!
Ini adalah potret telanjang gagalnya koordinasi bantuan di jam-jam krusial.
Warga bukan hanya kehilangan rumah, tetapi juga kehilangan akses pada kebutuhan dasar yang seharusnya dijamin negara.
Keputusan Kapolri membebaskan para pelaku penjarahan dinilai tepat, namun bukan jawaban atas buruknya manajemen bencana.
Selama bantuan masih tersendat dan akses tetap terputus, potensi aksi nekat seperti ini akan terus berulang.
Bencana boleh datang tanpa bisa dicegah, tetapi kelaparan massal akibat miskinnya distribusi logistik adalah bencana buatan manusia.
Dan itu jauh lebih menyakitkan.***




