POJOKSATU.ID - Kampung Bahari di Jakarta Utara kembali menjadi sorotan nasional.
Kawasan padat penduduk itu digempur aparat gabungan Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Polri, Jumat (8/11/2025), setelah terendus peredaran narkoba berskala besar.
Dalam operasi ini, aparat menyita 89 kilogram sabu, senjata api, serta uang tunai miliaran rupiah dari sejumlah lokasi yang diduga markas jaringan pengedar.
Baca Juga: BPJS Ketenagakerjaan Kebut Transformasi Sistem Pensiun Nasional, Siap Adaptasi Era Gig Worker!
Penggerebekan berlangsung dramatis, Warga setempat sempat panik saat aparat bersenjata lengkap menyisir gang sempit di kawasan RW 011 dan RW 013, yang dikenal rawan transaksi narkoba.
Beberapa pelaku ditangkap di tempat, sementara sebagian lainnya melarikan diri lewat jalur air di tepi pelabuhan kecil.
Operasi Besar Gabungan BNN dan Polri
Deputi Pemberantasan BNN, Irjen Pol Arman Depari, mengatakan operasi ini merupakan hasil penyelidikan panjang selama dua bulan.
Selain sabu seberat hampir 90 kilogram, petugas juga menemukan senjata api rakitan, beberapa alat komunikasi terenkripsi, dan dokumen transaksi yang menunjukkan skema bisnis gelap lintas provinsi.
Kabareskrim Polri Komjen Wahyu Widodo menegaskan bahwa penggerebekan ini adalah bagian dari operasi nasional Bersih Narkoba 2025 yang menyasar 10 kawasan rawan di Indonesia.
Mengapa Kampung Bahari Sulit Bersih dari Narkoba?
Kampung Bahari bukan nama baru di peta peredaran narkotika. Sejak dua dekade lalu, kawasan ini berkali-kali digerebek, namun selalu kembali ramai oleh aktivitas serupa.
Baca Juga: Rp 1 Miliar Dana Gizi Hilang, Pengawasan Anggaran di Daerah Dipertanyakan
Ada beberapa faktor yang membuat kawasan ini sulit benar-benar bebas dari narkoba
1. Struktur wilayah padat dan rumit.
Jalan sempit dan rumah berhimpitan mempersulit aparat melakukan pengawasan rutin. Banyak lorong dan jalur tikus yang digunakan pengedar untuk bersembunyi.
2. Tekanan ekonomi warga.
Sebagian besar penduduk bekerja serabutan atau nelayan kecil. Dalam kondisi ekonomi sulit, iming-iming uang dari bisnis narkoba sering menjadi jalan pintas.
3. Sistem sosial tertutup.
Jaringan narkoba memanfaatkan solidaritas lokal dan rasa takut warga. Banyak yang tahu tapi enggan melapor karena khawatir menjadi sasaran balas dendam.
Warga di Tengah Ketakutan dan Stigma
Bagi warga biasa, setiap penggerebekan berarti hari penuh ketegangan.
Bukan hanya rasa takut, warga juga menghadapi stigma berat, Banyak yang kesulitan mencari pekerjaan karena alamat Kampung Bahari sering diasosiasikan dengan narkoba.
Padahal, sebagian besar warga justru ingin perubahan dan berharap pemerintah hadir bukan hanya dengan razia, tetapi juga program sosial dan ekonomi.
Langkah Lanjutan Pemerintah
Usai penggerebekan besar ini, BNN bekerja sama dengan Pemprov DKI Jakarta untuk melanjutkan program Kampung Tangguh Bersinar (Bersih Narkoba).
Baca Juga: Sri Wulan Minta Pemerintah Hapus Ketimpangan bagi Guru Madrasah dalam Rekrutmen PPPK
Program ini akan melibatkan tokoh masyarakat, aparat kelurahan, dan organisasi pemuda untuk mengubah citra Kampung Bahari menjadi kawasan yang lebih aman dan produktif.
Lebih dari Sekadar Razia
Penggerebekan demi penggerebekan menunjukkan bahwa narkoba bukan sekadar masalah hukum, tapi juga masalah sosial dan ekonomi.
Selama akar kemiskinan, pengangguran, dan pendidikan rendah tidak tersentuh, jaringan gelap akan selalu menemukan cara untuk hidup kembali.
Kampung Bahari, dengan segala kompleksitasnya, adalah cermin dari banyak kawasan urban Indonesia padat, rentan, dan kerap ditinggalkan setelah headline mereda.
Namun di balik itu, selalu ada harapan bahwa suatu hari, berita tentang Kampung Bahari tak lagi soal sabu dan senjata, melainkan tentang perubahan dan kebangkitan.***




