POJOKSATU.ID - Sebuah eksperimen energi lahir di Jawa Barat. Di tengah mahalnya harga bahan bakar dan tingginya ketergantungan pada BBM fosil.
Sebuah inovasi anak bangsa bernama Bobibos tiba-tiba mencuri perhatian setelah Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, bergerak cepat mengadopsinya.
Berbeda dengan banyak MoU yang berhenti sebagai seremoni, kolaborasi KDM dengan Bobibos justru langsung masuk fase eksekusi.
MoU ditandatangani pada Sabtu, 15 November 2025, dan hanya berjarak beberapa hari sebelum proyek uji coba dimulai.
Baca Juga: Kisah Tragis Mahasiswa UMA Medan, Kamis Main Biliar Bareng Kawan, Jumat Ditemukan Tewas di Rumah
Yang membuat inovasi ini mencuri sorotan bukan hanya karena teknologi yang ditawarkan, melainkan bahan bakunya limbah jerami padi.
Selama ini jerami sering dibakar atau dibuang begitu saja, padahal jumlahnya melimpah di hampir seluruh desa di Jawa Barat.
Dalam video yang dibagikannya, KDM menegaskan bahwa proyek ini diperlakukan sebagai langkah strategis, bukan sekadar uji coba gugur kewajiban.
“Kita sudah tanda tangan MoU. Ke depan tinggal hal-hal teknisnya,” katanya.
Baca Juga: 744 Polisi Cilik Pukau Pandeglang, Tunjukkan Disiplin di Lomba Keselamatan Lalu Lintas
Menurut KDM, musim panen di Lembur Pakuan tiba minggu depan.
Itu berarti pasokan jerami akan melimpah dan dapat langsung diproses menjadi bahan bakar nabati Bobibos.
Produksi tahap awal akan dilakukan di lingkungan Lembur Pakuan sebagai laboratorium praktis untuk melihat efektivitas bahan bakar tersebut.
Jika hasilnya sesuai harapan, skenarionya sangat gamblang: penggunaan BBM jerami ini akan diperluas untuk konsumsi internal lingkungan pemerintah daerah.
Langkah cepat ini sekaligus menunjukkan keseriusan KDM mengembangkan energi alternatif lokal tanpa harus menunggu proses panjang Pemprov.
“Ini dana pribadi, Pemprov lama, dan saya tidak mau menggunakan uang negara,” tegasnya saat ditanya soal anggaran, Jumat 14 November 2025.
Jawaban itu mencerminkan gaya kepemimpinan KDM yang dikenal pragmatis dan anti-birokrasi lamban.
“Kalau pakai uang saya atau saya pinjam ke bank BJB sebagai modal kan boleh,” tambahnya.
Baca Juga: Gawat! BPBDPK Pandeglang Cuma Punya Satu Perahu Evakuasi
Di balik gegap gempita inovasi ini, muncul pertanyaan besar, bisakah jerami benar-benar menjadi sumber energi baru untuk Jawa Barat?
Teknologi Bobibos diklaim mampu mengolah limbah jerami menjadi bahan bakar cair ramah lingkungan dengan proses yang lebih efisien.
Dan biaya produksi lebih rendah dibandingkan BBM fosil. Jika benar bisa diterapkan secara massal, inovasi ini berpotensi membuka jalan menuju kemandirian energi daerah.
Pakar kebijakan energi dari ITB dalam beberapa penelitian sebelumnya menyebut.
Bahwa biomassa dari limbah pertanian memang memiliki potensi besar jika dikelola dengan teknologi yang tepat.
Selain murah, ketersediaannya stabil karena mengikuti siklus panen tahunan (Kompas & Antara terkait riset biomassa).
Inilah yang membuat proyek Bobibos menarik, bahan baku tersedia di mana-mana, biaya rendah, dan teknologinya dikerjakan anak bangsa.
Bagi KDM, proyek ini bukan hanya inovasi energi, tetapi strategi mengangkat kesejahteraan petani.
Dalam visi besarnya, jerami tidak lagi dianggap sampah tak bernilai, tetapi komoditas ekonomi.
“Petani tidak hanya menjual padi. Limbah jeraminya yang selama ini dibakar, kini bisa dijual,” kata KDM.
Jika skema ini berhasil, petani bisa mendapatkan pendapatan tambahan dari setiap kilogram jerami yang dikumpulkan.
Meski tampak menjanjikan, keberhasilan proyek tetap bergantung pada uji coba tahap pertama di Lembur Pakuan. Uji coba ini akan mengukur tiga hal:
Kelayakan teknis untuk kendaraan operasional.
Baca Juga: Rahasia di Balik Julukan Banten sebagai Tanah Jawara
Efisiensi biaya dibanding BBM konvensional.
Ketersediaan pasokan jerami dalam jumlah besar.
Jika semua hasilnya positif, KDM berambisi menjadikan Bobibos sebagai bahan bakar resmi untuk kendaraan dinas Pemprov Jawa Barat di masa depan.
“Kita harus hargai hak intelektual anak muda ini,” ujarnya menegaskan dukungannya.
Inovasi ini membuka peluang besar. Jawa Barat bisa menjadi provinsi pertama di Indonesia yang mengembangkan bahan bakar alternatif berbasis limbah pertanian secara terorganisir.
Akankah BBM jerami ini benar-benar menjadi terobosan energi besar berikutnya? Uji coba beberapa minggu ke depan akan menjadi penentu.***




