POJOKSATU.ID - Publik masih mengingat sosok Pak Sudrajat, kakek penjual es gabus asal Citayam, Bojonggede, Kabupaten Bogor, yang sempat viral di media sosial.

Kesederhanaannya saat berjualan es gabus di pinggir jalan mengundang simpati banyak pihak, termasuk aparat kepolisian.

Beberapa waktu lalu, Pak Sudrajat mendapat hadiah sebuah sepeda motor dari Kapolres Metro Depok sebagai bentuk apresiasi atas kegigihannya mencari nafkah.

Baca Juga: Balas Pernyataan Jokowi, Kaesang Pangarep Siap Peras Semua Darah demi Menangkan PSI di Pemilu 2029

Momen tersebut sempat menuai pujian karena dinilai sebagai contoh kepedulian aparat terhadap warga kecil.

Namun, suasana berubah setelah Pak Sudrajat muncul dalam sebuah acara televisi nasional.

Dalam pernyataannya, kakek penjual es gabus itu justru mengungkapkan keinginannya untuk memiliki mobil. Ucapan tersebut sontak memicu perdebatan dan pro kontra di tengah masyarakat.

Baca Juga: OJK Tunjuk Friderica Widyasari Dewi sebagai Ketua dan Wakil Ketua Sekaligus, Ini Tujuan dan Dampaknya

Alih-alih mengungkapkan rasa syukur atas hadiah motor yang diterimanya, Pak Sudrajat secara jujur menyampaikan bahwa dirinya ingin memiliki mobil.

Menurut pengakuannya, mobil tersebut bukan untuk gaya hidup mewah, melainkan agar bisa digunakan berjalan-jalan bersama keluarga.

“Mau minta mobil, mobil buat jalan-jalan dulu aja,” ucap Pak Sudrajat, dikutip dari instagram @pojok Bogor.

Baca Juga: Terima Aspirasi PATELKI, Putih Sari Kawal Penguatan Formasi CPNS dan Regulasi TLM

Pernyataan itu langsung menyebar luas di media sosial dan menjadi bahan perbincangan warganet.

Sebagian masyarakat menilai kejujuran Pak Sudrajat sebagai hal yang wajar, mengingat keinginannya dinilai sederhana dan berorientasi pada keluarga.

Namun, tak sedikit pula yang menganggap pernyataan tersebut kurang tepat.

Beberapa warganet menyayangkan sikap Pak Sudrajat yang dinilai kurang bersyukur atas bantuan yang sudah diberikan, terlebih motor tersebut dinilai sudah sangat membantu aktivitas sehari-harinya sebagai penjual es gabus.

Warga Citayam dan Bojonggede pun ikut ramai memberikan komentar. Ada yang membela, ada pula yang mengkritik.

Baca Juga: Bupati Bandung Tebar 5,2 Juta Benih via Aeroseeding Pascabencana Longsor

Sebagian warga menilai bahwa keinginan Pak Sudrajat seharusnya disampaikan dengan cara yang lebih bijak agar tidak menimbulkan salah paham di tengah masyarakat.

Di sisi lain, sejumlah pihak menilai fenomena ini sebagai gambaran tekanan sosial setelah seseorang viral.

Ekspektasi publik yang tinggi kerap membuat setiap ucapan menjadi sorotan dan mudah dipelintir.

Baca Juga: Honda Luncurkan All New Vario 125 di Jabar, DAM Optimistis Kuasai 82,5 Persen Pangsa Pasar

Hingga kini, Pak Sudrajat masih dikenal sebagai penjual es gabus yang berjualan seperti biasa di kawasan Citayam.

Terlepas dari pro kontra yang muncul, kisahnya menjadi pelajaran bahwa ketenaran mendadak sering kali membawa konsekuensi yang tidak terduga.

Peristiwa ini juga memantik diskusi publik tentang empati, rasa syukur, serta cara masyarakat memandang bantuan sosial.

Baca Juga: Presiden Prabowo Bertemu Tujuh Tokoh Oposisi Nasional, Termasuk Abraham Samad dan Said Didu

Di tengah sorotan tersebut, Pak Sudrajat tetap menjadi simbol perjuangan warga kecil yang berusaha bertahan hidup di tengah keterbatasan.***