POJOKSATU.id, TUBABA – Proyek revitalisasi SMKN 1 Tulang Bawang Tengah (TBT), Kabupaten Tulang Bawang Barat kembali menuai sorotan. Pembangunan yang menelan anggaran miliaran rupiah itu diduga tidak memperhatikan hak-hak pekerja konstruksi. Para buruh bangunan mengaku bekerja tanpa kontrak resmi, tidak memiliki BPJS Ketenagakerjaan, serta minim jaminan keselamatan kerja.

Hasil penelusuran di lapangan menemukan fakta bahwa sejumlah pekerja hanya dibayar harian dengan upah terbatas. Pekerjaan pembangunan toilet putra, toilet putri, hingga ruang praktik siswa jurusan Teknik Sepeda Motor (TSM) dikerjakan tanpa fasilitas keselamatan kerja yang memadai. Para pekerja bahkan mengaku tidak pernah mendapatkan asuransi atau perlindungan sosial.

Seorang pekerja yang enggan disebutkan namanya menceritakan, ia pernah mengalami kecelakaan kerja namun tidak mendapatkan penanganan medis yang layak.

Baca Juga: Proyek Konsultasi Desain Makam Pahlawan Rp100 Juta di Tubaba Dinilai Tak Jelas

“Kalau gajian seminggu sekali. Tukang dibayar Rp120 ribu, kenek Rp100 ribu. BPJS tidak ada. Waktu kaki saya ketusuk paku, berobat sendiri. Kepala tukang juga diam saja meski tahu kejadian itu,” ungkapnya, Sabtu (23/08/2025).

Menanggapi pemberitaan ini, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Lampung, Thomas Amrico, menyatakan bahwa dokumen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang diterima pihaknya terkait bantuan pemerintah untuk revitalisasi SMKN 1 TBT tahun 2025 sudah sesuai aturan.

Baca Juga: Inspektorat Siap Audit Pembangunan Jembatan Mulya Jaya Tubaba

“Berdasarkan laporan K3, pekerjaan yang meliputi RPS TKR, RPS TSM, dan dua unit toilet sudah sesuai perjanjian kerja sama,” jelasnya, Selasa 2 September 2025.

Namun demikian, kondisi nyata di lapangan menunjukkan adanya perbedaan mencolok dengan laporan tersebut. Dari hasil pantauan, banyak pekerja terlihat tidak menggunakan alat pelindung diri (APD), dan pengakuan buruh menyebutkan mereka tidak terdaftar dalam program BPJS Ketenagakerjaan.

Sementara itu, Kepala SMKN 1 TBT, Sungkowo Titis, hingga kini belum memberikan tanggapan terkait polemik yang muncul. ***Angga