POJOKSATU,ID - Partai Gerindra tengah menjadi sorotan usai munculnya gelombang penolakan terhadap rencana Budi Arie Setiadi bergabung dengan partai berlambang kepala garuda tersebut.
Penolakan itu datang bukan dari lawan politik, melainkan dari dalam tubuh partai sendiri terutama dari kalangan kader muda dan sayap organisasi seperti Tunas Indonesia Raya (Tidar).
Langkah Budi Arie, yang juga dikenal sebagai Ketua Umum Projo dan loyalis Presiden Joko Widodo, dianggap sebagian kader tak sejalan dengan semangat kaderisasi yang selama ini dijaga oleh Gerindra.
Keterbukaan Partai, Tapi Ada Batas
Gerindra selama ini dikenal sebagai partai yang terbuka terhadap siapa pun yang ingin bergabung, asalkan siap mengikuti proses kaderisasi dan tunduk pada garis perjuangan partai.
Baca Juga: 7 Tempat Wisata Murah di Surabaya Cocok Buat Healing Cepat di Tengah Kota! No 4 Kamu Wajib Datang
Namun, gelombang penolakan ini menunjukkan adanya kekhawatiran bahwa semangat keterbukaan bisa bergeser menjadi peluang bagi penumpang politik.
Menurut pengamat politik Ujang Komarudin, fenomena ini lumrah dalam partai besar.
Keterbukaan partai politik memang menjadi tuntutan di era demokrasi modern.
Baca Juga: FK Unpad Gagas Layanan Intervensi Nyeri Permanen di RSUD ASA Depok, Tak Hanya Bakti Sosial
Namun, bagi Gerindra yang selama ini menekankan loyalitas kepada ketua umum Prabowo Subianto kedisiplinan internal tetap menjadi fondasi.
Suara dari Akar Rumput
Penolakan tak hanya datang dari pengurus sayap muda, Di sejumlah daerah seperti Jakarta Timur dan Bandung, kader akar rumput juga menyuarakan hal senada.
Mereka menilai kehadiran figur eksternal berpotensi memicu ketegangan di internal partai, terutama jika datang tanpa proses kaderisasi yang jelas.
Baca Juga: Birokrasi Digital! ASN Diminta Kuasai AI dan Soft Skill agar Tak Tertinggal Zaman
Sikap itu mencerminkan keinginan kuat dari kader bawah agar partai tetap memegang prinsip meritokrasi siapa pun yang mau berjuang, harus memulai dari dasar.
Budi Arie dan Dinamika Relawan
Sementara itu, Budi Arie menegaskan bahwa keinginannya bergabung dengan Gerindra bukan berarti meninggalkan Presiden Jokowi.
Sebagian kader Gerindra menilai langkah tersebut masih menimbulkan tanda tanya.
Baca Juga: Belum Lulus UKPPPG Guru Tertentu Tahap 2? Jangan Khawatir, Ini yang Harus Dipersiapkan
Apakah kehadiran Budi Arie lebih karena faktor politik praktis pasca-pemerintahan Jokowi, atau memang komitmen jangka panjang terhadap partai.
Ujian Loyalitas dan Citra Partai
Di tengah sorotan publik, Partai Gerindra kini dihadapkan pada dilema mempertahankan citra sebagai partai yang inklusif, atau menegaskan diri sebagai organisasi dengan disiplin kader yang ketat.
jika Gerindra bisa mengelola dinamika ini dengan bijak, justru bisa memperkuat citra sebagai partai yang tidak sekadar pragmatis, tapi punya identitas politik yang tegas.
Baca Juga: Lolos UKPPPG Guru Tertentu? Ini Tahapan Selanjutnya yang Harus Anda Siapkan
Hingga kini, Gerindra menegaskan Budi Arie belum memiliki KTA resmi. Proses penerimaannya masih dalam pembahasan internal.
Antara Prinsip dan Strategi
Dalam politik, keterbukaan sering kali diuji oleh kepentingan jangka pendek.
Namun bagi Gerindra, kasus Budi Arie bisa menjadi momentum refleksi seberapa jauh partai bersedia berkompromi dengan prinsip kaderisasi demi memperluas pengaruh.
Baca Juga: 7 Tempat Rekreasi Murah di Jakarta! Cocok Buat Healing Cepat Tanpa Cuti Panjang
Jika Gerindra mampu menjaga keseimbangan antara keterbukaan dan disiplin, partai ini bukan hanya terhindar dari konflik internal.
Tapi juga mempertegas identitasnya sebagai partai yang tumbuh dari militansi kader bukan karena figur besar yang datang di akhir jalan.***




