POJOKSATU.id - Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali mengangkat tema kecerdasan ekonomi (intelligence economy)
Dalam pidatonya di Bloomberg New Economy Forum di Singapura (21 November 2025).
Di forum kelas dunia tersebut, ia menegaskan bahwa AI tidak akan menghilangkan lapangan kerja.
Melainkan membuka peluang baru jika masyarakat terutama generasi muda dipersiapkan dengan baik.
Baca Juga: Apa yang Dinilai di Wawancara PPG Calon Guru 2025? Ini Kriteria Penilaian Resmi Kemendikdasmen!
Masa Depan Dibangun dari Data
Menurut Jokowi, masa depan perekonomian global tidak lagi hanya bergantung pada sumber daya fisik seperti batu, baja, dan infrastruktur, tetapi berjalan di atas data dan informasi.
Ia menegaskan bahwa data bukan sekadar alat, melainkan modal strategis
“Perekonomian dibangun berdasarkan seberapa baik kita memanfaatkan data dan informasi, karena data dan informasi bukan hanya kekuatan, tapi juga modal.” Ujarnya.
Baca Juga: Viral! Warga Kompak Menghindar Razia Operasi Zebra, Motor Tanpa Plat Diparkir Massal
Generasi Muda Jadi Kunci
Jokowi secara khusus menyasar generasi muda dalam pidatonya.
Ia menyebut bahwa tanggung jawab besar berada di pundak mereka untuk menguasai AI.
Coding, algoritma, dan machine learning, agar bisa “desain ulang” cara manusia dan mesin berinteraksi.
Menurutnya, literasi teknologi bukan sekadar tambahan, tetapi sesuatu yang fundamental dalam menghadapi era kecerdasan ekonomi.
Tidak Takut Hilangnya Pekerjaan
Baca Juga: Mobil Tangki Pengangkut BBM Terbakar, Polisi Selidiki Gudang Penyimpanan yang Tewaskan Seorang Warga
Salah satu klaim paling provokatif dari Jokowi adalah keyakinannya bahwa lapangan kerja tidak akan hilang di era kecerdasan ekonomi.
Ia secara tegas menolak anggapan bahwa AI akan mengurangi pekerjaan.
“Tidak, jawabannya adalah tidak. saya percaya akan ada lebih banyak pekerjaan dan peluang di masa mendatang jika kita memastikan rakyat kita siap untuk itu.”
ujarnya dilansir Detik.
Baca Juga: Wajib Tahu! Ini Bedanya Sumber Gaji PPPK Paruh Waktu untuk Guru, Nakes, dan Teknis
Ada catatan penting: “memastikan rakyat siap” di sini bukan sekadar jargon .
Jokowi menyebut perlunya pelatihan literasi digital agar masyarakat bisa beradaptasi.
Asia Tenggara Bisa Jadi Poros Startup AI
Baca Juga: Wajib Tahu! Ini Bedanya Sumber Gaji PPPK Paruh Waktu untuk Guru, Nakes, dan Teknis
Lebih jauh, Jokowi melihat potensi besar Asia Tenggara sebagai pusat inovasi teknologi.
Menurutnya, startup besar tidak hanya akan lahir dari Silicon Valley atau Shenzhen, tetapi juga dari Jakarta, Singapura, Bangkok, Kuala Lumpur, Manila, dan Hanoi.
Keyakinan ini didasari oleh visi bahwa generasi muda Asia Tenggara yang melek teknologi bisa menjadi motor penggerak.
Unicorn AI masa depan bukan hanya menjadi pasar konsumen, tetapi juga pencipta inovasi global.
Apa Tantangan di Balik Optimisme?
Baca Juga: Wajib Tahu! Ini Bedanya Sumber Gaji PPPK Paruh Waktu untuk Guru, Nakes, dan Teknis
Agar visi Jokowi bisa terealisasi, diperlukan sumber daya manusia yang benar-benar melek teknologi.
Pendidikan dan pelatihan AI harus diakses secara massal agar tidak cuma elit atau startup besar yang diuntungkan.
Negara juga perlu membangun infrastruktur data dan sistem untuk “mengumpulkan, menganalisis, dan mengevaluasi data dan informasi”, seperti yang dia sebut dalam pidato.
Baca Juga: Wajib Tahu! Ini Bedanya Sumber Gaji PPPK Paruh Waktu untuk Guru, Nakes, dan Teknis
Selain itu, Jokowi menyoroti perlunya “economic intelligence” sebagai kerangka pengambilan keputusan cepat berbasis data real time.
Pernyataan Jokowi di Bloomberg New Economy Forum mengusung narasi kuat AI adalah batu loncatan, bukan jurang pengangguran.
Namun, optimisme itu datang dengan syarat besar persiapan SDM dan pengelolaan data secara strategis.
Baca Juga: Apa yang Dinilai di Wawancara PPG Calon Guru 2025? Ini Kriteria Penilaian Resmi Kemendikdasmen!
Jika syarat ini tak dipenuhi, risiko transformasi bisa jadi nyata.
Namun jika dijalankan dengan tepat, visi “lapangan kerja baru” yang dijanjikan bisa lebih dari sekadar harapan.***




