POJOKSATU.id - Banyaknya angka pengangguran di Indonesia membuat kegiatan Job Fair di serbu oleh masyarakat untuk mencari pekerjaan yang layak.

Pemerintah dituntut untuk mengambil kebijakan komprehensif dan tepat guna dalam mengatasi krisis lapangan kerja yang semakin mengkhawatirkan.

Diketahui bahwa Pemerintah Kabupeten (Pemkab) Bekasi menggelar Job Fair di President University Convention Center Jababeka pada 27 Mei lalu berujung ricuh.

Pemicunya jumlah pencari kerja yang datang melebihi kapasitas yang tersedia.

Baca Juga: Pramono Anung Sebut Pemprov DKI Tak Akan Publikasikan Info Loker di Sosmed, Imbas Membludaknya Job Fair di Bekasi

Terdapat 20 ribu lebih pencari kerja yang datang. Sedangkan jumlah lowongan pekerjaan yang tersedia cuma sekitar 2.000 posisi.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Nasional (BPS) yang dirilis pada 5 Mei lalu, angka pengangguran di Indonesia mencapai 7,28 juta orang.

Sementara, untuk angkatan kerja mencapai 153,05 juta orang, meningkat sebesar 3,67 juta orang dibanding Februari 2024.

Sayangnya, jumlah angkatan kerja itu tidak terserap seluruhnya.

Baca Juga: Viral HRD Sebut Job Fair Hanya Formalitas, Wamenaker: Pernyataan Tak Bertanggungjawab

Dari angka 7,28 juta itu, lulusan SMA menjadi penyumbang terbanyak sebesar 28,01 persen, kemudian disusul lulusan SMK 22,37 persen.

Lalu lulusan SD sebesar 17,09 persen, SMP sebesar 16,20 persen, diploma IV hingga lulusan S3 sebesar 13,89 persen, dan diploma I-III 2,44 persen.

Situasi ini pun semakin buruk dengan angka pemutusan hubungan kerja atau PHK yang meningkat.

Berdasarkan data Kementerian Ketanagakerjaan, sebanyak 26.455 pekerja dilaporkan terdampak PHK hingga bulan Mei 2025.

Sedangkan pada Januari hingga Oktober 2024 terdapat 63.947 pekerja yang terdampak.

Data tahun 2024 itu mengalami peningkatan dibanding pada tahun 2023 sebanyak 45.576 pekerja.

Menanggapi hal tersebut, Peneliti Center of Economics and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menyebut kericuhan job fair di Bekasi itu buah kegagalan pemerintah menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.

"Pertumbuhan ekonomi di Indonesia untuk saat ini berada di angka 5 persen, tapi untuk penyerapan tenaga kerja terus mengalami penurunan," ungkap Nailul, Selasa 3 Juni 2025.

Baca Juga: Job Fair Unpas 2025 Diserbu Pencari Kerja, Pemkot Bandung Tancap Gas Tekan Pengangguran

Dia mencontohkan, bahwa dulu 1 persen pertumbuhan ekonomi dapat menyerap 400 ribu tenaga kerja.

Akan tetapi untuk saat ini, 1 persen pertumbuhan ekonomi hanya mampu menyerap 100 ribu tenaga kerja.

Dia mengaku, untuk saat ini, penyerapan tenaga kerja sekitar 60 persen berada di sektor informal.

Sementara, penyerapan tenaga kerja dari sektor formal mengalami penurunan.

Baca Juga: Pesta Rakyat Kabupaten Bandung Lebih Bedas, dari Bandung Bedas Expo 2025, Job Fair, Pesta Durian sampai Kampung Sunda

"Dengan kondisi PHK yang sedang masif saat ini, saya khawatirkan akan membuat sulit pasar tenaga kerja kita terserap," tegas dia.

Nailul membeberkan, bahwa ini terlihat dari kesejahteraan masyarakat saat ini semakin berkurang.

Angka kemiskinan semakin naik dan juga kriminalitas semakin meningkat.***