POJOKSATU.id, MEKKAH - Beredar kabar ribuan jemaah haji asal Indonesia terlantar di Muzdalifah pada Rabu (28/6/2023) kemarin.
Para jemaah tersebut menunggu jemputan bus hingga duduk di tepian jalan, sehingga berjemur terik matahari di tengah lapangan pada suhu yang mencapai 42 derajat celcius, dengan makanan dan minuman yang minim.
Menurut Petugas Haji Daerah (PHD) asal Sumatera Utara (Sumut) Dr Aswan Jaya, peristiwa ini terjadi karena penjemputan jamaah sedikit tersendat. Berikut kesaksian Aswan Jaya dalam keterangan tertulisnya yang diterima pojoksatu.id, pada Jumat (30/6/2023) malam.
Aswan Jaya mengatakan, pelaksanaan wukuf di Arafah berlangsung dengan baik. Seluruh rangkaian ibadah mulai dari khutbah Arafah dan wukuf, berlangsung dengan khidmat dari maktab masing-masing, makan dan minum tercukupi dengan baik.
BACA JUGA: Kemenag Kaltim Ungkap Tiktoker Viral Joget-joget di Mekkah Tak Terdaftar Jemaah Haji
Aswan mengakui di muzdalifah, penjemputan sedikit tersendat sehingga menguras energi para jamaag karena cuaca sangat panas.
“Soal makan malam saat di Muzdalifah memang tidak ada, tetapi jamaah sudah makan malam di Arafah. Sedangkan, minuman di Muzdalifah sesungguhnya cukup, bahkan kalau dilihat kasat mata minuman berserakan,” ujarnya.
Ditambahkan Aswan, bahwa tidak ada serapan pagi di Muzdalifah, sebab asumsinya sarapan disediakan di Mina. Tetapi disebabkan penjemputan tersendat hingga siang hari, menyebabkan banyak jamaah terutama lansia yang tidak kuat menahan suhu panas dan harus terus antrean menunggu jemputan yang tersendat.
“Alhamdulillah seluruh jamaah terbawa ke Mina walau sampai tengah hari. Masing-masing kloter memiliki tenaga medis untuk terus mengantisipasi jamaah yang kelelahan dan beberapa jatuh pingsan. Tetapi semua cepat ditangani. Kalau ada petugas kesehatan yang mengeluhkan soal itu, berarti petugas tersebut tidak bekerja sesuai tugasnya sebagai tim kesehatan haji Indonesia,” ujarnya.
BACA JUGA: Intip 5 Fakta Menarik Padang Arafah, Tempat Suci yang Wajib Dikunjungi Jemaah Haji
Selanjutnya, Aswan juga menepis kabar yang menyebutkan, jamaah mengeluhkan fasilitas tenda yang tidak layak di Mina. Sebab, satu tenda yang sebetulnya berkapasitas maksimal 200 orang, ternyata untuk satu kloter atau sekitar 450 orang.
“Sangat disayangkan, informasi yang dinyatakan salah satu anggota DPD RI itu adalah hoax yang sangat besar. Sebab, setiap kloter jumlahnya hanya 360 jamaah dan masing-masing kloter mendapatkan 3-4 tenda. Jadi, tidak mungkin sampai 460 jamaah pertenda, gak masuk akal berita itu,” tegas Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Sumut ini.
Dia juga menyebutkan, jamaah yang tidur di luar tenda, itu bukan jamaah yang terlantar. Tetapi jamaah itu sendiri yang memilih tidur di luar disebabkan lebih nyaman.
BACA JUGA: Dilepas AHY, Anies Baswedan Berangkat ke Tanah Suci dan Siap Umumkan Nama Cawapres Sepulang Ibadah Haji
“Sebab harus diakui, satu tenda yang diisi oleh puluhan orang, sebanyak-banyaknya 65 orang, tentu bagi jamaah yang tak terbiasa hidup berjamaah dan sederhana, pastilah akan tidak nyaman menghadapi situasi itu,” ungkapnya.
Namun begitu, Aswan mengakui, memang terjadi berbagai dinamika selama pelaksanaan puncak haji. Namun, dinamika itu masih sangat wajar dan dalam dimaklumi karena di tengah ratusan ribu bahkan jutaan jamaah haji yang berkumpul dalam waktu yang bersamaan di tempat yang sama.
“Pastilah ada dinamika dan berbagai hal yang mungkin tidak diharapkan, karena itu kesabaran dan keikhlasan menjadi kunci mendapatkan haji yang Mabrur. Semoga seluruh jemaah mendapatkan haji yang Mabrur,” harapnya.
Sebagai evaluasi, kata Aswan, untuk pelaksanaan ibadah haji tahun depan, pemerintah harus selektif betul dalam membuat standar istitoah jamaah haji sesuai dengan perintah Allah dan Rasulullah. (TIK/pojoksatu)
BACA JUGA: BMKG Medan Himbau Masyarakat Sumut Waspada Bencana Hidrometerologis Dampak Hujan Lebat




