POJOKSATU.id- Banjir rob yang kembali menghantam pesisir Jakarta pada awal Desember 2025 menjadi alarm keras bahwa.

Wilayah ini sedang menghadapi ancaman yang jauh lebih besar dari sekadar pasang air laut.

Data terbaru menunjukkan Jakarta mengalami penurunan muka tanah antara 1 hingga 9 cm setiap tahun, menjadikannya salah satu kota dengan land subsidence tercepat di dunia.

Baca Juga: Hanya 5 Hari! Ini Jadwal Resmi PPPK Tendik Sekolah Rakyat 2025 yang Bikin Kaget!

Kondisi ini membuat banjir rob bukan lagi kejadian musiman, melainkan konsekuensi dari persoalan menahun yang sudah diperingatkan sejak puluhan tahun lalu.

Fenomena genangan yang muncul di depan Jakarta International Stadium (JIS) pada 3 Desember 2025 dengan ketinggian sekitar 10 cm sebenarnya terlihat kecil.

Namun bagi para ahli, kejadian itu merupakan sinyal bahwa elevasi wilayah pesisir Jakarta Utara sudah berada di titik kritis.

Baca Juga: Hanya 5 Hari! Ini Jadwal Resmi PPPK Tendik Sekolah Rakyat 2025 yang Bikin Kaget!

Bahkan tanpa hujan deras, air laut kini dapat menyusup masuk ke jalan raya hanya karena dorongan pasang maksimum.

 

Sejarah yang Berulang Sejak Batavia

Catatan kolonial Belanda pada abad ke-17 menunjukkan bahwa wilayah pesisir Batavia—kini Jakarta Utara telah berulang kali tergenang akibat pasang laut.

Baca Juga: LOWONGAN MAGANG Imigrasi Tanjung Pandan! Tersedia 28 Posisi melalui Magang Kemnaker

Pada awal abad ke-20, pemerintah kolonial membangun jaringan kanal besar dan tanggul sebagai upaya mengendalikan rob.

Namun perkembangan kota yang pesat membuat persoalan ini justru semakin kompleks. Penduduk bertambah, permukiman pesisir meluas, dan tekanan terhadap lingkungan meningkat.

Fakta bahwa banjir rob masih terjadi hingga kini menunjukkan bahwa permasalahan struktural pesisir Jakarta telah berlangsung selama ratusan tahun.

Bedanya, jika dulu rob dipicu kondisi alam semata, kini dampaknya diperparah oleh aktivitas manusia.

Baca Juga: Internet Rakyat Surge Resmi Meluncur! Internet Unlimited 100 Mbps Cuma Rp100 Ribu

 

Ancaman Utama yang Menenggelamkan Jakarta

Penurunan muka tanah menjadi faktor kunci yang membuat rob semakin parah dari tahun ke tahun.

Aktivitas pemompaan air tanah yang masif selama beberapa dekade menjadi penyebab utama tanah Jakarta terus turun.

Baca Juga: Internet Rakyat Surge Resmi Meluncur! Internet Unlimited 100 Mbps Cuma Rp100 Ribu

Semakin banyak bangunan berdiri, semakin berat tekanan yang harus ditanggung lapisan tanah di bawahnya.

Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta mencatat area seperti Muara Baru, Pluit, Muara Angke, Ancol–JIS, dan Marunda mengalami penurunan tanah hingga 9 cm per tahun.

Dalam jangka panjang, ini membuat permukaan daratan berada lebih rendah daripada muka air laut, sehingga rob lebih mudah menerjang ketika pasang tinggi.

Baca Juga: Hanya 5 Hari! Ini Jadwal Resmi PPPK Tendik Sekolah Rakyat 2025 yang Bikin Kaget!

 

Kenaikan Permukaan Laut Menambah Beban

Dalam dua dekade terakhir, perubahan iklim global meningkatkan permukaan air laut secara signifikan.

Kombinasi sea level rise dan penurunan tanah membuat Jakarta menghadapi dua ancaman sekaligus.

Ketika siklus perigee dan purnama terjadi seperti pada 4–6 Desember 2025 tinggi pasang laut melonjak dan memperbesar risiko rob.

Tidak mengherankan jika BMKG mengeluarkan peringatan dini bahwa puncak pasang diperkirakan terjadi pada 5 Desember 2025 pukul 09.00 WIB.

Wilayah-wilayah pesisir seperti Kamal, Muara Angke, Baywalk Pluit, Sunda Kelapa, RE Martadinata, dan Marunda disebut berisiko tinggi.

Baca Juga: Internet Rakyat Surge Resmi Meluncur! Internet Unlimited 100 Mbps Cuma Rp100 Ribu

 

Infrastruktur Melawan Laut

Pemerintah DKI Jakarta mengerahkan 612 pompa air stasioner dan 590 pompa mobile untuk mengendalikan air laut yang masuk ke daratan.

Namun para pakar menilai upaya ini hanya bersifat jangka pendek.

Selama tanah terus turun dan ekosistem pesisir rusak, rob akan tetap menjadi ancaman tahunan bahkan bulanan bagi warga pesisir.

Baca Juga: Hanya 5 Hari! Ini Jadwal Resmi PPPK Tendik Sekolah Rakyat 2025 yang Bikin Kaget!

Banjir rob 2025 bukanlah kejadian spontan.

Ini adalah hasil dari akumulasi puluhan tahun penurunan tanah, perubahan iklim, serta hilangnya benteng alami pesisir.

Jakarta tidak hanya menghadapi air laut yang semakin naik, tetapi juga permukaan tanah yang terus turun.

Baca Juga: Menjelang Pleno 9 Desember, PBNU Terbelah Dua, Siapa Penguasa Sah?

Jika tidak ada langkah besar untuk membatasi penggunaan air tanah, memperkuat tata ruang pesisir

Dan memulihkan ekosistem mangrove, rob akan terus menjadi “tamu tak diundang” yang hadir kapan saja.***