POJOKSATU.ID - Jakarta seakan kehilangan ruang untuk bernapas.

Ketika hujan turun deras, air tak lagi punya tempat berlari, dan warga Kemang tahu persis akibatnya.

Akhir Oktober lalu, luapan Kali Krukut kembali menenggelamkan kawasan tersebut sebuah pemandangan yang makin sering terulang setiap tahun.

Baca Juga: Guru Madrasah Lulus Seleksi PPPK, Tapi Belum Diangkat, DPR Soroti Ketimpangan Dana Pendidikan

Masalahnya bukan hanya curah hujan tinggi, tapi juga hilangnya ruang air di jantung kota.

Sungai-sungai di Jakarta kini dipagari beton, disempitkan oleh bangunan, dan kehilangan daya serap alami.


ungai yang Disingkirkan dari Peta Kota

Kali Krukut dulunya mengalir lebar dari Depok hingga ke Bendungan Hilir, menjadi jalur alami pembuangan air hujan.

Baca Juga: 10 Kesalahan Umum Calon Guru Saat Mengerjakan Soal Literasi dan Numerasi PPG

Namun kini, di banyak titik, lebarnya hanya tersisa 5–8 meter dari ideal 20 meter.

Data Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta menyebut, penyempitan terjadi karena alih fungsi lahan dan pembangunan kawasan komersial.

Kemang, yang dulu kawasan hijau dan perumahan, kini padat dengan kafe, apartemen, dan gedung tinggi.

Baca Juga: Prabowo: Pemimpin Sejati Harus Pahami Arah Perjuangan Bangsa

Jakarta mengalami fenomena yang disebut urban stream syndrome kondisi di mana aliran sungai kehilangan fungsi ekologis akibat pembangunan berlebihan.


Banjir Bukan Lagi Sekadar Soal Curah Hujan

Fenomena banjir di Kemang menunjukkan, persoalan bukan pada derasnya hujan, tapi pada gagalnya tata kelola ruang air perkotaan.

Ruang air yang semestinya jadi tempat limpasan hujan kini berubah menjadi kawasan komersial.

Akibatnya, setiap hujan deras, air tak punya jalan keluar.

Baca Juga: Setahun Memimpin, Prabowo Masih di Hati Rakyat, Survei Tunjukkan Kepuasan Publik 78%

Ia mencari celah dan itu artinya mengalir ke jalan, rumah, bahkan kafe di Kemang Raya.


Dari Sungai ke Beton Potret Ketimpangan Kota

Jakarta adalah kota yang membangun lebih cepat dari kemampuan alamnya beradaptasi.

Di satu sisi, gedung-gedung baru terus tumbuh di sisi lain, sungai dan ruang terbuka menyusut drastis.

Kemang hanyalah satu contoh, Data Bappeda DKI menunjukkan, ruang terbuka hijau di Jakarta kini tinggal sekitar 9 persen, jauh dari standar ideal 30 persen.

Baca Juga: Gaspol ke Honda Bikers Day, Komunitas Honda Jabar Kokohkan Solidaritas dan Keselamatan Berkendara

Krisis ruang air bukan cuma soal banjir tapi juga soal masa depan kota. Ketika air kehilangan jalur alir, maka kota kehilangan masa depan yang berkelanjutan.


Belajar dari Kota Lain

Beberapa kota di dunia berhasil mengembalikan keseimbangan antara pembangunan dan air.

Seoul, Korea Selatan, misalnya, memulihkan Sungai Cheonggyecheon yang dulu tertutup jalan raya.

Baca Juga: SELURUH NAKES, Ini Jadwal, Materi dan Link Pelatihan Pengelola Imunisasi di Puskesmas Angkatan 1, Total 5 SKP dan 36 JPL

Kini aliran sungai itu menjadi ruang publik dan sistem drainase alami yang menekan banjir.

Pemprov DKI kini berencana memperlebar aliran Kali Krukut, menambah area resapan, dan menata ulang sempadan sungai.

Namun para ahli menegaskan, langkah itu hanya efektif jika disertai pengendalian pembangunan baru di bantaran sungai.

Sungai yang Harus Dipulihkan, Bukan Sekadar Dinormalisasi

Normalisasi sering kali diartikan sebagai pengerukan dan pembetonan, padahal pemulihan sungai harus melibatkan ekosistemnya.

Baca Juga: Liburan Hemat di Bandung? Ini Dia 7 Tempat Wisata Seru Di Bandung Mulai Rp10.000 Aja

pentingnya program river restoration yang memadukan teknologi dan pendekatan ekologis memperluas bantaran, menambah vegetasi, dan membuat kolam retensi di area padat.

Kemang dan Kali Krukut menjadi cermin nyata bagaimana kota modern bisa melupakan fondasi alaminya.

Tapi masih ada waktu untuk memperbaiki jika semua pihak, dari pemerintah hingga warga, mau memberi ruang kembali bagi air untuk mengalir.***