POJOKSATU.id — Harga daging sapi di Jabodetabek diprediksi segera naik akibat lonjakan harga sapi bakalan impor dari Australia yang kini menyentuh level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementan, Makmun, menyebut kenaikan harga di negara asal menjadi tekanan utama bagi pelaku usaha dalam negeri.

Ia menyoroti kenaikan signifikan pada feeder heifer, yaitu sapi betina muda untuk penggemukan, yang harganya telah melampaui tren normal.

Baca Juga: Viral Siomay Ikan Sapu-Sapu, Ini Cara Membedakannya dengan Tenggiri

Per 20 April 2026, harga feeder heifer di Australia mencapai sekitar US$4 per kilogram, lebih tinggi dari biasanya yang tidak pernah melewati US$3,5.

Harga sapi bakalan jantan (feeder steer) juga naik hingga sekitar US$4,56 per kilogram, dengan rata-rata keduanya di kisaran US$4,32.

Kenaikan ini berdampak pada biaya impor, di mana harga sapi hidup saat tiba di Indonesia diperkirakan mencapai Rp73.459 per kg untuk betina dan Rp81.988 per kg untuk jantan.

Baca Juga: Lulusan S2 Jangan Lewat Deadline 22 Mei 2026! ITS Menunggu 50 Calon Dosen Kategori Ini

Setelah ditambah berbagai biaya lain, harga bisa meningkat menjadi sekitar Rp77.177 per kg untuk betina dan Rp86.139 per kg untuk jantan.

Harga tersebut jauh di atas HAP pemerintah yang ditetapkan maksimal Rp58 ribu per kg bobot hidup.

Makmun menilai selisih harga ini berpotensi mendorong kenaikan harga daging sapi, terutama di Jabodetabek yang bergantung pada impor.

Baca Juga: DPRD Komitmen Soal Kontrak dan Kesejahteraan PPPK Paruh Waktu di Kota Cirebon

"Ini posisi yang agak rumit ini kelihatannya, karena harga kita di HAP-nya Rp58 ribu maksimal, sementara harga belinya teman-teman ini sudah sangat tinggi. Ini ber-impact pada harga daging sapi di Jabodetabek," kata Makmun.

Ia menambahkan, dampak di luar Jawa tidak terlalu besar karena masih ditopang sapi lokal, berbeda dengan Jabodetabek yang lebih rentan.

Makmun juga mengingatkan, jika pelaku usaha dipaksa mengikuti HAP, mereka bisa menahan pembelian yang berisiko memicu kekurangan stok.

Baca Juga: Dikira Pilihan Cuma Negeri, Ternyata Kampus Islam Swasta Ini Diam-Diam Jadi Incaran Banyak Siswa

"Kalau kita tekan khawatirnya mereka tidak belanja, nanti malah kita kekurangan stok. Ini lebih berbahaya lagi kalau kemudian stoknya tidak ada," ujarnya.

Saat ini, Kementan bersama Bapanas tengah mengkaji kemungkinan penyesuaian kebijakan harga untuk menjaga pasokan dan stabilitas pasar.***