POJOKSATU.id – Sejumlah pasar tradisional di wilayah Jabodetabek mendadak tampak lengang pada Kamis pagi.
Los daging yang biasanya penuh aktivitas kini kosong tak berpenghuni.
Papan kayu tempat memotong daging dibiarkan tertutup, sementara pedagang yang biasanya sibuk melayani pembeli memilih tak membuka lapak sama sekali.
Baca Juga: Rudal Rapier Nangkring di Cimahi, Bukan Buat Perang tapi Pengingat Sejarah
Aksi ini dilakukan serentak sebagai bentuk protes terhadap lonjakan harga sapi hidup dan karkas yang dinilai semakin tidak terkendali.
Aksi mogok ini berlangsung selama tiga hari, hingga Sabtu.
Para pedagang menegaskan bahwa keputusan tersebut terpaksa diambil karena kondisi harga di tingkat hulu sudah membuat mereka sulit bertahan.
Baca Juga: Indonesia Teratas di Dunia, 87 Persen Warga Sepakat Medsos Tak Layak untuk Anak di Bawah 14 Tahun
Dalam beberapa pekan terakhir, harga sapi hidup terus bergerak naik.
Dikutip pojoksatu dari detik mengatakan disusul harga karkas di rumah potong hewan (RPH) yang menembus kisaran Rp113 ribu hingga Rp117 ribu per kilogram.
Kenaikan itu langsung berdampak pada harga jual di pasar, yang di tingkat pedagang bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu per kilogram.
Dengan margin yang makin tipis dan daya beli masyarakat menurun, pedagang menyebut berdagang justru membuat mereka merugi.
Selain harga yang tak stabil, pedagang juga mengeluhkan minimnya respons pemerintah dalam dua pekan terakhir.
Organisasi pedagang menegaskan bahwa berbagai pertemuan dengan pihak terkait belum menghasilkan solusi konkret.
Akumulasi kekecewaan itulah yang akhirnya memicu aksi mogok massal ini.
Meski begitu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta meminta masyarakat tidak panik.
Baca Juga: Inovasi Jatu Hydroterapi Herbal Dosen Unusa Raih Paten, Bantu Redakan Nyeri Penderita Diabetes
Gubernur Pramono Anung memastikan pasokan tetap ada dan menegaskan bahwa pasar tidak akan sepenuhnya berhenti meski sebagian besar pedagang daging mogok.
Namun di lapangan, kondisi pasar yang kosong mulai memicu kekhawatiran konsumen, terutama menjelang akhir pekan.
Aksi mogok ini bukan sekadar protes biasa. Ini menjadi alarm keras bagi pemerintah untuk segera menata ulang stabilisasi harga daging sapi, mulai dari hulu hingga ke pasar tradisional.
Jika kondisi ini dibiarkan berlarut, bukan hanya pedagang yang tertekan konsumen pun pada akhirnya akan ikut merasakan dampaknya.***




