POJOKSATU.id- Isu teror terhadap sejumlah influencer dan aktivis yang belakangan ramai di media sosial kian memanas.

Publik dibuat heboh setelah beberapa nama besar mengaku mendapat ancaman mulai dari teror digital, kiriman bangkai ayam, hingga pelemparan bom molotov yang terekam CCTV.

Gelombang dugaan pun bermunculan, sebagian warganet langsung mengaitkannya dengan pemerintah.

Baca Juga: Alhamdulillah THR TPG Guru 100 Persen Masuk, Ini Daerah yang Sudah Cair dan Tips Cek Rekening

Namun Menteri Hak Asasi Manusia, Natalius Pigai, langsung meledak dan menepis tuduhan tersebut.

Pigai menegaskan bahwa pemerintah bukan pelaku teror dan meminta publik berhenti menyebarkan framing tanpa dasar.

Menurutnya, tuduhan yang diarahkan kepada negara terlalu spekulatif dan berbahaya jika tidak didukung bukti yang kuat.

Baca Juga: Superflu Heboh Disebut Flu Mematikan, Kemenkes Sebut Cuma Influenza Biasa!

“Saat ini kita menikmati surplus demokrasi, yakni hak berpendapat atas pikiran dan perasaan yang dijamin tanpa adanya protokol lalu lintas."

"Dalam situasi ini, tidak mungkin institusi, apalagi negara, menghalangi kebebasan tersebut,”

tegas Pigai dalam keterangan resmi di Jakarta, dikutip pojoksatu.id dari kompas.com 3/1/2026.

Baca Juga: Alhamdulillah THR TPG Guru 100 Persen Masuk, Ini Daerah yang Sudah Cair dan Tips Cek Rekening

Isu ini bermula ketika beberapa influencer yang selama ini vokal menyuarakan kritik terhadap penanganan bencana dan isu publik lainnya melaporkan mendapatkan teror.

Salah satu kasus yang paling mencuri perhatian adalah yang dialami Ramon Dony Adam atau DJ Donny.

Ia mengaku rumahnya dilempari molotov oleh orang tak dikenal.

Bahkan rekaman CCTV menunjukkan ada pelaku yang secara sengaja melemparkan benda yang diduga molotov ke arah rumahnya.

Kasus lain menimpa Sherly Annavita, seorang influencer yang sering menyampaikan kritik sosial.

Baca Juga: Aturan Baru TPG 2026 Diterapkan Bertahap, Ini Jadwal Lengkap dan Saran untuk Guru ASN dan Non ASN

Mobil pribadinya dicoret-coret menggunakan cat oleh oknum yang belum diidentifikasi.

Sementara Chiki Fawzi menerima ancaman digital yang membuat banyak pihak mempertanyakan keamanan ruang berekspresi di Indonesia.

Rangkaian insiden ini membuat publik gaduh.

Baca Juga: Alhamdulillah THR TPG Guru 100 Persen Masuk, Ini Daerah yang Sudah Cair dan Tips Cek Rekening

Banyak yang berspekulasi bahwa teror tersebut berkaitan dengan sikap kritis para korban terhadap pemerintah.

Namun Pigai dengan tegas menyebut spekulasi tersebut tidak berdasar.

Ia meminta publik dan para influencer untuk tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam menyampaikan tuduhan.

Baca Juga: Alhamdulillah THR TPG Guru 100 Persen Masuk, Ini Daerah yang Sudah Cair dan Tips Cek Rekening

Pigai juga menekankan bahwa dalam demokrasi, kritik publik adalah hal yang wajar.

Dan pemerintah tidak memiliki kepentingan untuk mengintimidasi warga yang mengemukakan pendapat.

Selain membantah tuduhan, Pigai mendesak kepolisian untuk segera mengusut kasus-kasus teror tersebut hingga tuntas.

Menurutnya, pengungkapan pelaku dan motif akan menjadi kunci meredam kegaduhan yang sudah terlanjur membesar.

Polri pun kini telah bergerak melakukan penyelidikan dan mengumpulkan bukti-bukti dari masing-masing korban.

Beberapa organisasi hak asasi manusia, termasuk Amnesty International, ikut memberikan perhatian terhadap isu ini.

Baca Juga: Superflu Heboh Disebut Flu Mematikan, Kemenkes Sebut Cuma Influenza Biasa!

Mereka mengecam segala bentuk intimidasi dan menekankan pentingnya perlindungan bagi warga yang menyampaikan kritik.

Namun mereka juga sejalan dengan pernyataan Pigai bahwa identifikasi pelaku harus melalui penyidikan yang transparan, bukan asumsi liar.

Di tengah keruhnya opini publik, Pigai menegaskan kembali bahwa tuduhan terhadap pemerintah harus didasarkan pada bukti nyata.

Baca Juga: FANTASTIS! Rp200 Miliar Disiapkan Pemprov NTB untuk Gaji 9.411 PPPK Paruh Waktu

Bukan emosi atau narasi yang berkembang di media sosial.

Ia menilai bahwa spekulasi liar hanya akan memperkeruh situasi dan berpotensi memperlebar jarak antara pemerintah dan masyarakat.

Situasi ini menunjukkan bahwa kebebasan berpendapat meski dijamin undang-undang masih membutuhkan ruang aman yang jelas.

Baca Juga: Alhamdulillah THR TPG Guru 100 Persen Masuk, Ini Daerah yang Sudah Cair dan Tips Cek Rekening

Di sisi lain, ketelitian publik dalam menyikapi isu sensitif juga sangat diperlukan agar tidak mudah terseret ke dalam opini yang tidak terverifikasi.

Kini semua mata tertuju pada hasil penyelidikan kepolisian.

Publik menunggu, siapa sebenarnya pelaku di balik serangkaian teror tersebut? Sementara itu.

Pigai menegaskan satu hal “Jangan jadikan pemerintah sebagai kambing hitam tanpa bukti.”***