POJOKSATU.id, JAKARTA--Seorang Investor, Reiner Rahardja, mengingatkan tahun 2026 mendatang merupakan tahun penuh tekanan bagi perekonomian global dan pasar keuangan.
Hal ini karena akan adanya perubahan kebijakan moneter global, ketegangan geopolitik, dan likuiditas melemah.
"Kondisi makro global yang memburuk akan berdampak langsung ke perekonomian nasional. Pelemahan nilai tukar rupiah, tekanan terhadap daya beli, serta semakin ketatnya arus kas menjadi tantangan utama bagi dunia pengusaha, terutama sektor UMKM," kata Reiner Rahardja, Rabu (17/12/2025).
Dia menjelaskan, di dunia ada beberapa faktor utama yang dapat mengguncang pasar dalam kurun 10 sampai 12 bulan ke depan dan membuat instrumen investasi seperti emas, bitcoin, dan pasar finansial juga akan bergejolak.
Baca Juga: BRI Siapkan Rp21 Triliun Jaga Kelancaran Transaksi Selama Libur Natal dan Tahun Baru
"Faktor-faktor tersebut meliputi mid-term election Amerika Serikat, Piala Dunia 2026, arah kebijakan kabinet baru The FED, dan resiko kenaikan suku bunga Jepang yang dapat mengakhiri era Yen Carry Trade," ujarnya.
Reiner juga memperkirakan, Japan Rate Hike ini akan menarik kembali aliran likuiditas global ke negara asalnya.
Menurunnya arus likuiditas ini akan menekan aset berisiko seperti saham, kripto, dan komoditas spekulatif.
Baca Juga: Perkuat Sinergi Ekonomi, Wakil Wali Kota Depok Tegaskan Komitmen Dukung Pelaku Usaha di Tapos
Di sisi lain, ada kekhawatiran tentang AI bubble di mana isu ini muncul karena bisnis model kecerdasan buatan ini belum terbukti mendukung untuk menghasilkan arus kas berkelanjutan secara berkesinambungan.
"Penggunaan AI masih sangat primitif di masyarakat maupun institusi namun biaya pengembangan AI sudah di luar akal sehat," ucapnya.
Dampaknya dari ini, kata dia, banyak aset investasi yang akan masuk fase koreksi besar.
Emas akan mengalami fase koreksi yang cukup signifikan diikuti oleh bentuk aset logam lainnya yang lebih volatile.
Karena itu, dia menegaskan bahwa 2026 bukan sekadar tahun sulit, melainkan periode seleksi alam.
"Pelaku usaha dan investor yang mampu beradaptasi dan membangun fundamental pendapatan, dinilai memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan tumbuh di tengah siklus ekonomi yang menantang," ujarnya.***




