POJOKSATU.id - Investasi syariah semakin populer karena menawarkan cara menumbuhkan aset yang sesuai dengan prinsip Islam.

Namun, meski “halal”, bukan berarti bebas risiko.

Penting untuk memahami berbagai jenis investasi syariah dan potensi risikonya.

Berikut 7 jenis investasi syariah yang umum, serta risiko yang perlu kamu tahu:

1. Saham Syariah

Saham syariah adalah saham dari perusahaan yang operasionalnya sesuai prinsip syariah (bebas riba, perjudian, dsb.).

Baca Juga: Rp 417 M Datang dari UEA, Solo Punya Rumah Sakit Jantung Berteknologi ‘UFO’?

Risikonya tinggi, karena harga saham sangat fluktuatif.

Dipengaruhi kondisi pasar, ekonomi, dan sentimen investor.

2. Reksa Dana Syariah

Merupakan wadah investasi kolektif di mana manajer investasi mengalokasikan dana ke instrumen syariah seperti saham syariah dan sukuk.

Risikonya beragam tergantung jenis reksa dananya.

Semakin “agresif” dana (misalnya fokus ke saham), makin tinggi risikonya.

Baca Juga: Heboh! Benarkah PPPK Paruh Waktu Akan Terima THR Natal 2025? Begini Penjelasan Resminya

3. Sukuk (Obligasi Syariah)

Instrumennya mirip obligasi, tetapi sesuai syariah, seperti investor mendapat pembagian hasil dari aset.

Risiko pada umumnya lebih rendah dari saham, tapi tetap ada risiko likuiditas dan perubahan kondisi pasar yang bisa mempengaruhi nilai sukuk.

4. Deposito Syariah

Tabungan berjangka di bank syariah dengan akad yang sesuai syariah contohnya mudharabah.

Risikonya relatif rendah. Karena sifatnya seperti tabungan berjangka, likuiditas lebih terbatas dan potensi untung lebih stabil.

Baca Juga: Dedi Mulyadi Geram! Respons Lambat Pemulangan WNI Korban TPPO Disorot Usai Kasus Rizki di Kamboja

5. Emas Syariah

Investasi emas (fisik atau digital) yang sesuai prinsip syariah.

Memiliki risiko relatif rendah, tetapi tetap terpapar risiko pasar seperti fluktuasi harga emas.

6. Properti Syariah

Investasi di properti seperti rumah, tanah, apartemen dengan skema pembelian sesuai prinsip Islam, misalnya murabahah atau ijarah.

Memberikan risiko yang cukul tinggi tergantung lokasi, likuiditas rendah (tidak mudah dicairkan cepat), dan biaya perawatan atau pajak properti.

7. Efek Beragun Aset (EBA) Syariah

Baca Juga: BKN Bocorkan Sinyal Kuat! CPNS 2026 Bakal Dibuka, Harapan Baru untuk Honorer

Instrumen pasar modal ini di mana aset dasar (misalnya piutang atau pembiayaan) yang dilakukan sesuai dengan akad syariah.

Risikonya tinggi, karena tergantung kualitas aset dasar, risiko gagal bayar bisa muncul, ditambah likuiditas dan struktur transaksi bisa rumit.

Risiko Umum dalam Investasi Syariah

Menurut Sharia Knowledge Centre, risiko investasi syariah bukan hanya finansial, tetapi juga risiko kepatuhan syariah.

Berikut beberapa jenis risiko yang sering dihadapi yaitu:

Risiko pasar dimana Kondisi ekonomi atau politik dapat membuat nilai aset halal juga turun-naik.

Baca Juga: BRI Fasilitasi Sindikasi Pembiayaan Rp5,2 Triliun untuk Dorong Ekspansi SSMS

Selain itu juga risiko likuiditas yang memiliki kemungkinan sulit untuk menjual aset dengan cepat saat dibutuhkan.

Yang ketiga yaitu risiko kepatuhan syariah dimana produk investasi bisa saja tidak sepenuhnya sesuai prinsip Islam jika pengelola tidak disiplin dalam memilih aset halal.


Tips Sebelum Memilih Investasi Syariah

1. Kenali profil risiko kamu
Jangan asal pilih instrumen “karena syariah”, tapi pertimbangkan juga berapa besar risiko yang sanggup kamu tanggung.

2. Diversifikasi portofolio
Campurkan beberapa jenis investasi, misalnya reksa dana + sukuk + emas agar risikonya lebih tersebar.

Baca Juga: Operasi Senyap Kejagung, Penggeledahan Beruntun Bongkar Dugaan Suap di Dirjen Pajak

3. Cari informasi dan nasihat ahli
Konsultasikan pada penasihat keuangan atau lembaga syariah agar investasimu tidak hanya halal, tapi juga cerdas dan menguntungkan.

4. Pantau secara berkala
Kondisi pasar bisa berubah, sehingga performa investasi syariah pun bisa naik turun. Evaluasi portofolio secara rutin.

Investasi syariah menawarkan banyak pilihan halal yang sesuai ajaran Islam.

Namun, “halal” bukan jaminan bebas risiko.

Dengan memahami jenis instrumen dan potensi risikonya, kamu bisa membuat keputusan investasi yang lebih bijak.

Dengan tidak hanya menguntungkan secara finansial, tapi juga sesuai nilai religius.***