POJOKSATU.id - Keputusan Surge menggandeng OREX SAI asal Jepang untuk membangun jaringan Internet Rakyat menimbulkan tanda tanya publik.

Pasalnya, Indonesia sudah punya raksasa telekomunikasi seperti Telkom dengan infrastruktur terbesar di tanah air.

Satirnya pun mengalir “Masa bikin internet murah untuk rakyat, tapi gandengnya Jepang, bukan perusahaan BUMN sendiri?”.

Baca Juga: Kelihatan Tinggi Seketika, Styling Hack Outfits untuk Kamu yang Cewek Petite!

Namun ketika ditelusuri lebih dalam, pilihan Surge ternyata bukan soal nasional atau tidak nasional.

Melainkan soal kecocokan teknologi dan faktanya, teknologi yang dibutuhkan Internet Rakyat memang belum dimiliki oleh provider BUMN manapun.

Internet Rakyat dibangun menggunakan 5G Fixed Wireless Access (FWA) dan sistem Open RAN pada frekuensi 1,4 GHz.

Baca Juga: Rp100 Ribu Dapat 100 Mbps? Internet Rakyat Kayak Ngegulingin Harga Pasar! Provider BUMN Ketar-Ketir?

Inilah kunci efisiensi biaya hingga mereka berani menawarkan tarif sekitar Rp100 ribu per bulan dengan kecepatan tinggi.

Masalahnya, teknologi Open RAN untuk jalur 1,4 GHz saat ini hanya tersedia melalui konsorsium internasional seperti OREX SAI.

Perusahaan patungan NTT Docomo dan NEC Jepang.

Baca Juga: Celana Koteka

Sementara itu, Telkom maupun Telkomsel memang pernah melakukan pilot project Open RAN, tetapi skalanya terbatas dan tidak digunakan untuk layanan residensial komersial.

Model jaringan yang digunakan Telkom masih didominasi oleh vendor tradisional seperti Huawei, Nokia, dan Ericsson yang berbasis sistem tertutup.

Artinya, Open RAN siap pakai dalam skala massal memang belum tersedia di ekosistem BUMN.

Satirnya sederhana: bagaimana mau kolaborasi kalau barang yang dibutuhkan saja tidak ada?

Selain persoalan teknologi, ada juga perbedaan spektrum. Internet Rakyat beroperasi di frekuensi 1,4 GHz, hasil lelang pemerintah yang dimenangkan oleh Surge.

Baca Juga: Operasi SAR Pesawat GA8 yang Jatuh di Karawang Ditutup Basarnas

Telkomsel tidak memiliki spektrum ini. Mereka bekerja di pita lain seperti 850, 900, 1800, 2100, 2300, hingga 3,5 GHz untuk uji 5G.

Karena tidak ada overlap spektrum, kerja sama teknis pun tidak bisa dilakukan begitu saja.

Dengan kata lain, Telkom memang tidak berada di jalur yang sama secara frekuensi maupun teknologi.

Baca Juga: Operasi SAR Pesawat GA8 yang Jatuh di Karawang Ditutup Basarnas

Internet Rakyat membutuhkan dukungan perangkat Radio Unit (RU) untuk 1,4 GHz.

Serta OREX SAI adalah salah satu dari sedikit perusahaan global yang memiliki pengalaman tersebut.

Faktor berikutnya adalah arah bisnis, Telkom dan IndiHome selama bertahun-tahun fokus pada fiber to the home (FTTH), layanan internet berbasis kabel.

Baca Juga: Serius? Negara Mau Selesaikan Pelanggaran HAM Ringan dengan Materai 10 Ribu!

Bisnis ini memerlukan pembangunan jaringan fisik ke masing-masing rumah pelanggan, dan Telkom telah menginvestasikan jaringan fiber raksasa dalam skala nasional.

Model FWA yang digunakan oleh Internet Rakyat adalah pendekatan berbeda yang menekankan kecepatan ekspansi dan efisiensi tanpa kabel.

Secara model bisnis, keduanya tidak berada dalam jalur yang sama.

Di sisi perangkat, Indonesia juga belum memiliki BUMN atau perusahaan lokal yang memproduksi perangkat Open RAN lengkap, termasuk RU, DU, dan core network.

Karena itu, untuk masuk ke layanan FWA dengan biaya agresif.

Surge harus menggandeng vendor internasional yang menyediakan perangkat dengan harga kompetitif dan siap untuk deployment cepat.

Baca Juga: Serius? Negara Mau Selesaikan Pelanggaran HAM Ringan dengan Materai 10 Ribu!

OREX SAI memenuhi kriteria tersebut dan memiliki rekam jejak implementasi di beberapa negara.

Efisiensi biaya menjadi alasan paling krusial. Open RAN memungkinkan operator menggabungkan perangkat keras dan perangkat lunak dari banyak vendor.

Sehingga biaya investasi lebih rendah dibanding sistem tertutup yang menjadi standar Telkom dan Telkomsel selama bertahun-tahun.

Baca Juga: Serius? Negara Mau Selesaikan Pelanggaran HAM Ringan dengan Materai 10 Ribu!

Dengan menekan biaya perangkat dan operasional, Surge bisa menawarkan harga layanan yang jauh lebih terjangkau bagi masyarakat.

Dalam konteks itu, pertanyaan mengapa tidak menggandeng BUMN memiliki jawaban faktual yang cukup tegas.

Teknologi yang dibutuhkan Internet Rakyat tidak dimiliki BUMN saat ini.

Baca Juga: Kelihatan Tinggi Seketika, Styling Hack Outfits untuk Kamu yang Cewek Petite!

Kolaborasi dengan Jepang bukan karena kurangnya kepercayaan pada negeri sendiri, tetapi karena kebutuhan teknis yang sangat spesifik dan belum tersedia dalam ekosistem lokal.***