POJOKSATU.ID — Janji Presiden Prabowo Subianto untuk menghadirkan koneksi internet cepat hingga 1 gigabit per detik (Gbps).

Di 38 kota dan kabupaten Indonesia pada tahun 2029 memancing harapan sekaligus pertanyaan besar.

Di tengah kecepatan rata-rata internet nasional yang masih berkutat di angka 41 Mbps, wajar jika banyak yang bertanya.

Baca Juga: Praktis Banget! Cara Bayar Pajak Motor Mobil Lewat Samsat Keliling, Lengkap Jadwal dan Titiknya

Apakah target itu realistis atau sekadar mimpi ambisius?.

Rencana itu diungkap dalam arahan strategis pemerintahan baru di bidang transformasi digital.

Yang berfokus pada pemerataan akses dan peningkatan kualitas jaringan tetap (fixed broadband).

Baca Juga: Heboh Pelabuhan Perak Kedatangan Cengkeh Radioaktif, Sampai Ditutup Pelabuhannya! Cek Faktanya

Pemerintah menilai konektivitas internet cepat bukan lagi soal kenyamanan, tapi kebutuhan mendasar untuk pendidikan, bisnis, dan pelayanan publik.

Target 1 Gbps di 38 Kota

Mengutip laporan Detikcom pada September 2025, Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia.

Baca Juga: Praktis Banget! Cara Bayar Pajak Motor Mobil Lewat Samsat Keliling, Lengkap Jadwal dan Titiknya

Menargetkan layanan internet berkecepatan minimal 1 Gbps akan hadir di 38 kota dan kabupaten dalam lima tahun ke depan.

Program ini disebut bagian dari agenda besar Prabowo untuk memperkuat “Indonesia Digital”.

Data dari Speedtest Global Index menempatkan Indonesia di peringkat 98 dunia untuk kecepatan fixed broadband.

Dengan rata-rata unduh 41,15 Mbps dan unggah 27,55 Mbps per September 2025.

Angka ini masih jauh dari rata-rata global yang mencapai 92 Mbps untuk download.

Baca Juga: Harga Bahan Bahan Pokok Sempat Bikin Panas, Tapi Inflasi Tetap Adem Inilah Alasannya!

Artinya, untuk mencapai target 1 Gbps, Indonesia perlu melompat sekitar 24 kali lipat dari kondisi saat ini.

Sebuah lompatan besar, tapi bukan tidak mungkin jika ada akselerasi infrastruktur.

 

Tantangan di Lapangan

Baca Juga: Profil Lengkap Sabrina Alatas, Chef Muda yang Diduga Selingkuhan Hamish Daud, Cerita Masa SMA yang Sedikit Bandal dan Bukan Penyuka Kucing

Masalah terbesar yang dihadapi Indonesia bukan hanya soal teknologi, tapi juga pemerataan.

Wilayah perkotaan seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung.

Sudah menikmati kecepatan internet di atas 100 Mbps melalui penyedia layanan seperti Biznet, MyRepublic, dan Indihome Fiber.

Baca Juga: PPPK Paruh Waktu Kini Bisa Ikut Seleksi CPNS 2025, Ini Penjelasan Resmi KemenPAN-RB dan BKN

Namun, di banyak daerah, kecepatan internet masih di bawah 20 Mbps.

Menurut pakar telekomunikasi dari ITB, Ridwan Effendi, tantangan utama adalah investasi besar di sisi infrastruktur.

“Untuk mencapai kecepatan 1 Gbps secara nasional, perlu pembangunan fiber optic yang masif hingga ke tingkat rumah tangga, bukan hanya backbone,”

Ujarnya seperti dikutip dari CNBC Indonesia.

Selain itu, harga internet cepat juga masih menjadi kendala.

Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII).

Baca Juga: Harga Bahan Bahan Pokok Sempat Bikin Panas, Tapi Inflasi Tetap Adem Inilah Alasannya!

Sekitar 37 persen masyarakat belum memiliki akses internet tetap di rumah karena faktor biaya.

Itu berarti meski infrastrukturnya tersedia, daya beli masyarakat tetap jadi tantangan tersendiri.

Menariknya, beberapa penyedia internet lokal justru sudah melangkah lebih cepat.

Baca Juga: Ringkasan Materi Bahasa Indonesia Teks Iklan dan Slogan Kelas VIII Semester 1 Kurikulum Merdeka Sesuai Tujuan Pembelajaran, LENGKAP!

Dalam uji coba yang dilaporkan Detikinet, salah satu provider bernama Remala Abadi mencatatkan kecepatan unduh hingga 25 Gbps dan unggah 11,6 Gbps.

Uji coba ini menunjukkan potensi nyata bahwa teknologi multi-Gbps sudah bisa diterapkan di Indonesia.

Selain itu, Telkomsel juga telah melakukan validasi teknologi Wi-Fi 7 bersama Kominfo yang mampu mencapai kecepatan hingga 10 Gbps di lingkungan laboratorium.

Baca Juga: Blusukan ke Timur, Gibran Tunjukkan Gaya Kepemimpinan Muda yang Dekat dengan Rakyat

Teknologi ini berpotensi menjadi solusi di area publik, perkantoran, dan sekolah.

Namun, layanan tersebut masih bersifat terbatas dan belum bisa dinikmati masyarakat luas.

Tantangan skalabilitas dan biaya infrastruktur tetap menjadi penghalang utama sebelum bisa diterapkan secara nasional.

Harapan Digital di Era Prabowo

Pemerintah berencana menggandeng swasta dan BUMN untuk mempercepat pembangunan jaringan fiber optic dan menambah kapasitas data center nasional.

Tujuannya bukan hanya mengejar angka 1 Gbps, tapi menciptakan ekosistem digital yang merata dan kuat di seluruh Indonesia.

Baca Juga: Ketika Gunung Jadi Tambang Air, Ancaman Ekologis di Balik Bisnis Air Kemasan

Transformasi digital ini juga diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif.

Industri gim, dan kerja jarak jauh (remote working) yang semakin populer pasca pandemi. Dengan koneksi cepat dan stabil, peluang kerja digital akan semakin terbuka.

Namun, sebagaimana diingatkan sejumlah analis, pembangunan infrastruktur digital tidak boleh hanya berfokus pada kota besar.

Baca Juga: 7 Strategi Terbukti Agar Lolos Seleksi CPNS 2025, Persiapkan Diri Sejak Sekarang!

Pemerataan akses hingga ke desa menjadi kunci agar transformasi digital tidak menimbulkan kesenjangan baru.

Target internet 1 Gbps di era Prabowo memang terdengar ambisius, tapi bukan mustahil.

Dengan dorongan investasi besar, kolaborasi publik-swasta, serta fokus pada pemerataan.

Target tersebut bisa jadi tonggak sejarah baru bagi digitalisasi Indonesia.***