POJOKSATU.id, JAKARTA— Akademisi Universitas Sahid Jakarta Saiful Anam menyebut insting politik antara Prabowo Subianto dan Megawati Soekarnoputri masih satu frekuensi untuk Indonesia.
Menurut Saiful Anam, orang lain tak perlu mendorong-dorong agar pertemuan Megawati dan Prabowo terjadi.
Keduanya memiliki firasat politik yang sama tentang Indonesia maju ke depan. Baik Megawati dan Prabowo diyakini sama-sama memiliki visi Indonesia yang lebih baik.
"Jadi tidak perlu mendorong-dorong pertemuan antar keduanya, keduanya tentu memiliki firasat politik yang sama tentang Indonesia maju ke depannya," kata Direktur Pusat Riset Politik, Hukum dan Kebijakan Indonesia (PRPHKI) ini, Minggu (6/10).
Baca Juga: Pinkan Mambo dan Arya Khan Sepakat Cerai, Gaya Hidup Ini Jadi Penyebab Perpisahan Mereka
Saiful Anam ikut merespons banyaknya pihak yang mendorong-dorong adanya pertemuan antara Megawati dengan Prabowo Subianto.
"Baik Megawati dan Prabowo saya yakin sama-sama memiliki visi Indonesia yang lebih baik tentunya, sehingga tidak perlu didorong-dorong pertemuan antar keduanya," kata Saiful lagi.
Sementara itu, pengamat politik Jamiluddin Ritonga berpendapat, jika pertemuan Prabowo dan Megawati terwujud, maka peralihan kekuasaan akan berlangsung dalam suasana tenang dan riang gembira.
"Rakyat akan melihat peralihan kekuasaan tidak mencekam, tapi dalam penuh kedamaian," kata analis politik dari Universitas Esa Unggul Jakarta ini, Minggu (5/10).
Baca Juga: Rekomendasi Kanal YouTube Cerita Horor yang Wajib Ditonton
Jamiluddin berharap pertemuan Megawati-Prabowo mengedepankan konteks kebangsaan.
"Karena itu, pertemuan Megawati-Prabowo bukan dalam konteks transaksi politik," kata Jamiluddin.
Kedua tokoh ini disebut dapat menghilangkan friksi-friksi yang mencuat usai Pilpres 2024.
Menurutnya, jika pertemuan Prabowo Subianto dan Megawati kental transaksi politis, maka PDIP bisa dianggap partai pragmatis yang haus kekuasaan dan PDIP bukan lagi partai ideologis. ***




