POJOKSATU.id– Universitas Oxford resmi mengumumkan bahwa Sri Mulyani Indrawati akan bergabung.
Sebagai World Leaders Fellow di Blavatnik School of Government mulai 2026.
Kabar ini segera menjadi sorotan publik internasional, sebab tidak banyak pejabat Asia yang mendapatkan kehormatan mengajar di salah satu kampus paling prestisius di dunia.
Namun bagi banyak pengamat, pengakuan ini justru merupakan kelanjutan alami dari rekam jejak global Sri Mulyani yang selama puluhan tahun dikenal sebagai teknokrat berpengaruh.
Berawal dari UI, Melanjutkan ke Amerika: Fondasi Akademik yang Tak Terbantahkan
Sri Mulyani memulai perjalanan akademiknya dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, tempat ia menyelesaikan pendidikan sarjana pada 1986.
Baca Juga: Terkait Kasus Korupsi Pemkot, Wali Kota Bandung Siap Penuhi Pemanggilan Kejari
Langkahnya kemudian membawanya ke Amerika Serikat, tepatnya University of Illinois at Urbana-Champaign, salah satu institusi riset terbaik di dunia.
Di sana, ia menuntaskan gelar Master of Science in Policy Economics pada 1990 dan Ph.D. bidang ekonomi pada 1992.
Kedua gelar tersebut menjadi landasan kuat dalam pemahamannya mengenai ekonomi publik, kebijakan fiskal, serta dinamika pembangunan.
Baca Juga: Terkait Kasus Korupsi Pemkot, Wali Kota Bandung Siap Penuhi Pemanggilan Kejari
Pendidikan akademik yang kokoh ini pula yang membentuk dirinya sebagai sosok ekonom dengan pendekatan analitis yang kuat, berpijak pada data.
Dan memiliki pandangan global yang luas. Dengan kualitas pendidikan kelas dunia.
Sri Mulyani kembali ke Indonesia sebagai akademisi muda yang langsung dipercaya menjadi dosen dan peneliti di Universitas Indonesia.
Langkah ke Panggung Internasional: IMF dan Bank Dunia Mengukuhkan Reputasi
Karier internasionalnya dimulai ketika ia ditunjuk sebagai Executive Director di International Monetary Fund (IMF) pada 2002–2004.
Baca Juga: Wagub Jabar Desak Polisi Tangkap Pelaku SARA yang Hina Suku Sunda
Di posisi ini, ia mewakili berbagai negara Asia Tenggara dalam forum kebijakan ekonomi global. Pengangkatan tersebut bukan hanya bentuk kepercayaan.
Tetapi pengakuan terhadap kapasitas intelektual seorang akademisi asal Indonesia.
Puncak reputasinya di panggung internasional hadir pada 2010 ketika ia menjadi Managing Director dan Chief Operating Officer Bank Dunia.
Ia merupakan perempuan Asia pertama yang menempati posisi strategis itu.
Tugasnya membentang dari reformasi lembaga hingga pengawasan operasi Bank Dunia di banyak negara.
Dari kursi itu, Sri Mulyani berada di pusat diskusi ekonomi dunia dan turut membentuk arah kebijakan pembangunan global.
Tak mengherankan bila sejumlah lembaga ternama menyematkan pengakuan bergengsi kepadanya.
Baca Juga: Wagub Jabar Desak Polisi Tangkap Pelaku SARA yang Hina Suku Sunda
Euromoney pernah menobatkannya sebagai Finance Minister of the Year, sementara Forbes berulang kali memasukkan namanya ke dalam daftar 100 Most Powerful Women di dunia.
Reformasi di Tanah Air: Bukti Kapasitas yang Tak Diragukan
Saat kembali ke Indonesia untuk menjabat sebagai Menteri Keuangan pada 2005–2010 dan kemudian 2016–2025.
Sri Mulyani langsung melakukan reformasi struktural di sektor perpajakan, bea cukai, serta tata kelola fiskal.
Ia dikenal sebagai figur yang mendorong transparansi dan profesionalisme birokrasi, sekaligus menjaga disiplin anggaran pada periode ekonomi yang penuh ketidakpastian.
Kontribusinya dalam menjaga stabilitas fiskal Indonesia selama krisis global 2008.
Dan pandemi menjadi salah satu rekam jejak penting yang membuat reputasinya semakin dihormati.
Baca Juga: Terkait Kasus Korupsi Pemkot, Wali Kota Bandung Siap Penuhi Pemanggilan Kejari
Dengan latar tersebut, undangan Oxford tidak lagi terlihat sebagai bentuk penghormatan semata, melainkan konsekuensi logis dari kualitas kepemimpinan ekonominya.
Oxford Mengundang Karena Rekam Jejak, Bukan Nama
Program World Leaders Fellowship yang akan diikuti Sri Mulyani merupakan forum eksklusif bagi figur-figur.
Yang pernah memimpin kebijakan publik di tingkat nasional maupun internasional.
Baca Juga: Pemkab Bandung Tambah Tiga Hari Operasi Pencarian Korban Longsor Arjasari
Tugasnya di sana bukan sekadar mengajar, melainkan memfasilitasi dialog kebijakan, memberi mentoring, dan membentuk pemikiran calon pemimpin dari lebih 60 negara.
Oxford tidak memilih sosok secara sembarangan. Mereka mengundang Sri Mulyani karena rekam pendidikannya yang kuat, reputasi globalnya yang telah teruji.
Serta kontribusinya pada berbagai institusi internasional.
Kehadirannya di Oxford mencerminkan bahwa kiprah seorang ekonom Indonesia di panggung dunia masih terus berlanjut kali ini melalui dunia akademik.***




