POJOKSATU.id - Gempa Bumi di Kabupaten Sumedang masih menyisakan duka bagi masyarakat di Kabupaten Sumedang.

Pasca Gempa Bumi, Minggu 31 Desember 2023 malam rentetan gempa terus mengguncang wilayah Kabupaten Sumedang pada hingga Senin (1/1).

Akibat gempa tersebut, sejumlah bangunan pun mengalami kerusakan akibat gempa tersebut.

Badan Geologi di Kementerian ESDM pun menyebut bencana gempa itu diakibatkan aktifnya Sesar Cileunyi-Tanjungsari.

Baca Juga: NCT DREAM Raih Daesang Panen Kontroversi, Ini Daftar Lengkap Pemenang Seoul Music Awards ke-33

Namun demikian, Dosen dari Fakultas Teknik Geologi di Unpad, Ismawan, justru meragukan keterangan dari Badan Geologi. Dia meyakini bahwa bencana gempa tersebut bukan disebabkan oleh pergerakan Sesar Cileunyi-Tanjungsari.

"Kalau saya cenderungnya masih bukan dari sesar itu cenderungnya ya," kata dia melalui sambungan telepon pada Rabu (3/1).

Ismawan pun mengungkapkan sejumlah alasan dirinya meragukan keterangan dari Badan Geologi. Alasan yang pertama,menurut dia, ujung Sesar Cileunyi-Tanjungsari berjarak sekitar 2 kilometer hingga 3 kilometer dari pusat gempa. Hal itu menjadi tanda jika pusat gempa terpisah dari garis Sesar Cileunyi-Tanjungsari.

"Kalau kita zoom sebetulnya masih memiliki jarak yang cukup jauh mungkin sekitar 2 kilometer atau 3 kilometer lah. Sehingga, tidak pada garis sesarnya," ucap dia.

Baca Juga: Sedang Cari HP Samsung? Yuk Lihat Perbedaan HP Samsung Reguler, Plus, dan Ultra

Alasan selanjutnya, sambung Ismawan, pergerakan sesar yang menghasilkan rentetan gempa di Sumedang lebih mengarah ke barat timur. Hal itu berbeda dengan Sesar Cileunyi-Tanjungsari yang mengarah ke timur laut barat daya.

"Sumbernya itu dihasilkan tiga-tiganya itu dari sesar yang arahnya bukan timur laut barat daya tapi lebih ke arah barat timur. Tidak sejajar dengan sesar yang Cileunyi-Tanjungsari," ujar dia.

Maka dari itu, Ismawan menduga adanya aktivitas dari sesar lain yang mengakibatkan gempa di Sumedang. Sesar itu masih belum teridentifikasi. Alangkah lebih baik, dilakukan penelitian atau kajian lebih lanjut untuk memastikan sesar yang mengakibatkan gempa di Sumedang.

"Bisa saja (sesarnya) sudah ada tapi belum teridentifikasi oleh ahli geologi di BMKG," kata dia.

Baca Juga: Di atas 90% OPD Sergai Hadir Pasca Libur Tahun Baru 2024, Darma Wijaya: Tingkatkan Kinerja Dari Tahun Lalu

Sementara, disinggung mengenai periodesasi gempa di Sumedang, Ismawan belum dapat memastikannya. Dia menyebut periodesasi gempa hanya dapat diukur jika sesar yang mengakibatkan gempa sudah diketahui secara pasti.

"Sekitar situ (gempa pernah) tahun 2003 bulan apa pernah ada tapi karena magnitude-nya kecil sehingga tidak terekspos," ujar dia.

Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB, Irwan Meilano, mengaku sepakat dengan rilis resmi dari Badan Geologi yang menamai Sesar Cileunyi-Tanjungsari sebagai penyebab gempa di Sumedang.

"Saya setuju dengan apa yang disampaikan oleh Badan Geologi, untuk sekarang kita bisa menggunakan nama Sesar Cileunyi-Tanjungsari," jelasnya.

Baca Juga: Samsung Fans, Sudah Tahu tentang Samsung Galaxy S24 Plus? Jangan Sampai Ketinggalan Informasinya ya!

Namun begitu, Irwan mengakui bahwa diperlukan kajian yang lebih rinci untuk memastikan sesar yang memicu gempa di Sumedang.

Kajian yang dilakukan meliputi panjang dan lebar bidang gempa hingga pengulangan gempanya.

"Tim dari ITB ada yang sekarang survei, kita pasang alat jumlahnya lebih dari 20 untuk memastikan bidangnya di mana begitupula BMKG saya yakin melakukan hal yang sama, dan Badan Geologi saya yakin melakukan hal yang sama," paparnya.

Jikapun ada ahli yang berbeda pendapat dengan Badan Geologi, Irwan menghargainya. Terpenting, menurut dia, yang harus dilakukan oleh para ahli sekarang bukanlah mempersoalkan nama sesar tapi meneliti karakteristik dari sesar yang menyebabkan gempa. Nantinya, hasil dari penelitian dapat dijadikan acuan mitigasi bencana.

Baca Juga: Hasil 10 Besar Pada Simulasi Pemilu 2024 DPRD Kabupaten Karawang Dapil 6

"Kalau masalah nama silahkan dinamakan apapun, tapi kami lebih fokus sumber gempa kemarin tuh bagaimana sih karakteristiknya, panjang bidang, kemudian lebar, bergesernya berapa, dan lain-lain, itu yang menurut kami lebih fokus," ujarnya. ***