POJOKSATU.id - Insiden kecelakaan kereta api di Bekasi Timur, Jawa Barat, pada Senin malam 27 April 2026 menyita perhatian publik.
Tabrakan yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line ini memunculkan pertanyaan besar: kenapa kereta tidak bisa langsung berhenti saat ada bahaya di depan?
Peristiwa bermula ketika sebuah KRL berhenti di jalur 1 Stasiun Bekasi Timur.
Baca Juga: 5 Tips Makeover Kamar Anak yang Simpel tapi Bikin Nyaman Saat Libur Sekolah
Kondisi ini terjadi karena insiden lain, yakni rangkaian KRL berbeda yang menabrak mobil listrik mogok di perlintasan. Situasi tersebut membuat jalur terganggu.
Di saat bersamaan, KA Argo Bromo Anggrek melaju dari arah belakang dan tidak sempat menghindar.
Tabrakan pun tak terelakkan, menghantam gerbong nomor 8 yang merupakan gerbong khusus wanita.
Baca Juga: Sering Merasa Seperti Gempa Padahal Tidak Ada? Ini Penyebab yang Perlu Diwaspadai
Kenapa Kereta Sulit Berhenti Mendadak?
PT Kereta Api Indonesia (KAI) sebenarnya sudah pernah menjelaskan bahwa kereta api memiliki karakteristik berbeda dibanding kendaraan darat lainnya.
Salah satu hal yang paling krusial adalah sistem pengereman yang tidak memungkinkan untuk berhenti secara tiba-tiba.
"Berbeda dengan transportasi darat pada umumnya, kereta api memiliki karakteristik yang secara teknis tidak dapat dilakukan pengereman secara mendadak," ungkap Vice President Public Relations KAI Joni Martinus.
Baca Juga: Kuota Angkut Sampah Kota Bandung Habis, Wali Kota Minta Warga Kelola Mandiri Selama Tiga Hari
Faktor pertama adalah panjang dan berat rangkaian kereta.
Di Indonesia, satu rangkaian kereta penumpang biasanya terdiri dari 8 hingga 12 gerbong dengan berat mencapai 600 ton.
Nah, dengan bobot sebesar itu, dibutuhkan jarak yang cukup panjang agar kereta benar-benar bisa berhenti.
Semakin panjang dan berat rangkaian, semakin besar pula energi yang diperlukan untuk menghentikannya.
Baca Juga: 33 SMA dan SMK di Cirebon Kuningan Terkendala Status Lahan, DPRD Jabar Dorong Tukar Guling Aset Desa
Jadi, meski masinis sudah mengerem, kereta tetap membutuhkan jarak tertentu sebelum benar-benar berhenti.
Faktor kedua adalah sistem pengereman yang digunakan. Kereta api umumnya memakai sistem rem udara.
Mekanismenya bekerja dengan tekanan udara yang disalurkan ke seluruh rangkaian roda untuk menciptakan gesekan.
Baca Juga: 7 Cara Menambah Berat Badan Secara Sehat, Bukan Asal Gemuk!
Saat rem diaktifkan, tekanan udara ini tidak langsung bekerja secara instan di seluruh bagian kereta.
Proses distribusi tekanan membutuhkan waktu, sehingga pengereman tidak bisa terjadi secara seketika.
"Jadi, meskipun masinis telah melihat ada yang menerobos palang kereta, selanjutnya melakukan proses pengereman, maka tetap akan membutuhkan suatu jarak pengereman agar benar-benar berhenti," jelasnya.
Bahkan, penggunaan rem darurat sekalipun tidak membuat kereta bisa berhenti mendadak.
Baca Juga: Apa Itu Kantilever? Pengertian, Ciri, Cara Kerja, dan Contohnya dalam Bangunan Modern
Rem tersebut hanya meningkatkan tekanan agar proses berhenti lebih cepat, tapi tetap memerlukan jarak aman.
Faktor Tambahan yang Berpengaruh
Selain berat dan sistem rem, ada faktor lain yang turut memengaruhi jarak pengereman.
Di antaranya kecepatan kereta, kondisi rel (menanjak atau menurun), cuaca, hingga jenis kereta yang digunakan.
Jika pengereman dilakukan terlalu mendadak, justru bisa berbahaya.
Tekanan yang tidak merata berisiko membuat roda tergelincir atau bahkan menyebabkan rangkaian kereta keluar jalur.
Baca Juga: Al Haris Lantik Sudirman sebagai Komisaris Utama Bank Jambi, Dorong Pembenahan dan Kemandirian
KAI juga kembali mengingatkan pentingnya disiplin di perlintasan sebidang.
Masyarakat diminta selalu berhenti saat melihat rambu dan memastikan jalur aman sebelum melintas.
Peristiwa ini jadi pengingat bahwa keselamatan di jalur kereta bukan hanya tanggung jawab petugas, tapi juga semua pengguna jalan.
Di balik teknologi dan sistem yang ada, tetap dibutuhkan kesadaran bersama agar kejadian serupa tidak terulang.
Karena satu momen lengah saja bisa berujung pada dampak yang tak terbayangkan.***




