POJOKSULSEL, JAKARTA - Sebanyak 12 karya budaya di Sulawesi Selatan (Sulsel) diusul jadi warisan budaya tak benda (WBTB) Indonesia. Pengusulan 12 karya budaya tersebut diusulkan Pemprov Sulsel untuk ditetapkan sebagai WBTB Indonesia.
Adapun 12 karya budaya Sulsel yang diusulkan tahun ini, yakni Pesta adat Jene’-Jene’ Sappara, Gantala Jarang, Tari Bondesa, Tammu Taung Pulau Pajenekang, Tari Pajaga Sando Batu, Tenun Toraja, Bahasa Wotu, A’rera, Mattojang Paccekke, Genrang Labobo, Bosara, dan Nasu Palekko.
Pengusulan 12 karya budaya Sulsel untuk ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda Indonesia disampaikan oleh Plt Kepala Dinas Kominfo-SP Sulsel Sukarniaty Kondolele.
Sukarniaty Kondolele menjadi pembicara Seminar pada Inacraft 2023 di Merak Room, JCC, Kamis (2/3/2023).
Seminar bertajuk Ragam Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dan Indikasi Geografis Indonesia, Sukarniaty Kondolele menjadi pembicarara bersama Plt Dirjen Kekayaan Intelektual Kemenkumham RI Razilu, dan Ketua Umum ASHEPI, H Muchsin Ridjan.
Baca juga
Putra Asal Sulsel Dzul Fikar Ahmad Tawalla Terpilih Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah
Ia mengatakan, sudah 64 karya budaya Sulsel ditetapkan sebagai WBTB Indonesia hingga tahun 2022.
“Sulawesi Selatan begitu kaya dengan potensi budaya, termasuk dengan karya budaya yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB)" kata Sukarniaty Kondolele.
Tidak hanya itu, Naskah La Galigo mendapatkan sertifikat Unesco sebagai Memory of The World (MOW) Tahun 2021 dan Pinisi sebagai The Art of Boatbuilding in South Sulawesi: Representatif list of The Intangible Cultural Heritage of Humanity tahun 2017.
“Naskah budaya La Galigo telah diakui UNESCO, bahkan lebih panjang dari pada naskah Mahabharata, yang sebelumnya sebagai naskah terpanjang di dunia,” bebernya.
Menurutnya, sejumah kekayaan potensi budaya menjadi modal besar bagi Sulsel untuk mengembangkan WBTB.
Baca juga
Sukseskan Jalan Sehat Sulsel Anti Mager di CPI, Ada Pengenalan Budaya K3
Karena itu, Pemprov Sulsel mengapresiasi program Kemendikub yang mengarahkan setiap Provinsi mengajukan karya budayanya untuk ditetapkan sebagai WBTB Indonesia.
Pemprov Sulsel, kata dia, terus berkomitmen dalam mempertahankan dalam menjaga WBTB. Termasuk dalam menghadirkan kebijakan penggunaan bahasa daerah dalam satuan pendidikan.
“Bapak Gubernur telah mempresentasikan local language dihadapan UNESCO. Pemprov juga telah mengcover didalam kurikulum (pendidikan) berkaitan dengan pemberdayaan penggunaan local language,” jelas Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Sulsel ini.
Disamping itu, lanjut dia, kebijakan Gubernur Sulsel yang lainnya untuk mendorong WBTB dapat bernilai ekonomis bagi masyarakat adalah dengan mendaftarkan Indikasi Geografis dan memberikan sertifikasi gratis secara berkesinambungan terhadap produk-produk WBTB tersebut.
"Sehingga memiliki nilai tambah dan nilai jual yang lebih baik," tuturnya.
Baca juga
RS Hasri Ainun Habibie Kerjasama BPJS Ketenagakerjaan Implementasi Program JKK
Ia pun menyampaikan, bahwa Pemprov Sulsel mengapresiasi ASHEPI yang menjadikan Sulsel sebagai ikon Inacraft 2023.
“Kita memiliki kekayaan budaya, termasuk kerajinan. Olehnya itu, kita mengusung sub tema dalam Inacraft ini yakni ‘The Authentic South Sulawesi’. Bagaimana kita memperkenalkan kebudayaan Sulawesi Selatan dalam pameran ini,” tuturnya.
(*/pojoksulsel)



