POJOKSATU.ID - Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis kabar menggembirakan: inflasi Oktober 2025 hanya 0,28% (month-to-month) atau 2,86% (year-on-year).

Angka itu masih dalam target Bank Indonesia (BI) di kisaran 2,5 ± 1% tanda bahwa harga-harga di pasar tetap terkendali.

Namun menariknya, pencapaian ini terjadi di tengah kenaikan harga emas perhiasan dan cabai merah, dua komoditas yang biasanya cepat mengguncang inflasi.

Baca Juga: KAI Untung dari KRL, Tapi Rugi di Whoosh Triliunan, Dua Wajah Bisnis Kereta Nasional

Jadi, apa rahasia di balik inflasi yang tetap adem saat dapur rumah tangga dan toko emas sama-sama bergejolak.


Inflasi Terkendali di Tengah Tekanan Harga

Menurut BPS, kelompok pengeluaran yang menyumbang inflasi tertinggi adalah emas perhiasan, cabai merah, dan cabai rawit.

Namun, tekanan dari komoditas tersebut berhasil diredam oleh penurunan harga pada kelompok bahan pangan lain seperti beras, minyak goreng, dan daging ayam.

Baca Juga: BI Borong Surat Utang, Impor Naik Tanda Ekonomi Indonesia Sedang Panas atau Justru Mulai Tertekan?

Artinya, kenaikan di satu sisi berhasil diimbangi dengan penurunan di sisi lain.

Keseimbangan inilah yang membuat inflasi tetap di jalur aman.


Jurus Pemerintah dan BI Operasi Pasar & Koordinasi Ketat

Di balik stabilitas angka itu, ada kerja besar pemerintah pusat, daerah, dan Bank Indonesia.

Melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), pemerintah gencar melakukan operasi pasar, subsidi transportasi pangan, dan koordinasi pasokan antarwilayah.

Baca Juga: Tangsel Resmikan Peraturan Baru untuk Gantikan Proyek PSEL Cipeucang

Misalnya, cabai dari Jawa Timur yang sempat mahal di Jakarta berhasil dikirim lebih cepat lewat jalur darat dengan biaya distribusi yang ditekan.

Selain itu, pemerintah juga memperkuat kerja sama dengan Bulog dan distributor lokal agar stok bahan pokok tetap terjaga di akhir tahun.

Di sisi moneter, Bank Indonesia memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Baca Juga: RSUD Jatisari Sediakan Layanan Kesehatan Gratis di Acara PATEN Tegalwaru

Nilai tukar yang stabil menahan kenaikan harga barang impor, terutama bahan bakar dan bahan pangan olahan yang sensitif terhadap dolar AS.


Mengapa Cabai dan Emas Jadi Biang Kerok?

Kenaikan harga cabai merah pada Oktober 2025 disebabkan oleh faktor cuaca di beberapa sentra produksi.

Beberapa daerah mengalami hujan ekstrem yang mengganggu panen, membuat pasokan menurun.

Namun berkat stok cadangan dari provinsi lain, harga tidak naik setinggi tahun sebelumnya.

Baca Juga: Cafe Dengan Nuansa Alam di Bogor? Ini Dia Tempat Nongkrong Sekaligus Healing di Tengah Kota

Sementara emas perhiasan naik karena harga emas dunia melonjak akibat ketegangan geopolitik dan suku bunga global yang belum turun.

Kenaikan ini tercermin di pasar lokal terutama di toko-toko perhiasan besar di kota-kota seperti Surabaya dan Medan.

Namun, karena emas bukan kebutuhan pokok harian, dampaknya terhadap inflasi tidak sebesar pangan.


Stabilitas yang Dijaga di Tengah Tekanan Global

Tantangan sebenarnya bukan hanya dari harga cabai dan emas, tapi juga dari gejolak global: harga minyak dunia, pelemahan yuan, hingga kebijakan The Fed.

Baca Juga: Truk Tambang Masih Bandel, Kapolda Banten Turun Ke Jalan

Meski begitu, Indonesia berhasil menjaga stabilitas harga berkat kebijakan moneter dan fiskal yang saling menopang.

Bank Indonesia tetap mempertahankan suku bunga acuan di level 6,25%, cukup tinggi untuk menjaga nilai tukar tetapi masih ramah bagi investasi.

Sementara itu, pemerintah menahan harga energi bersubsidi agar tidak memicu lonjakan biaya produksi dan transportasi.

Baca Juga: Rp106 Triliun untuk Magang Fresh Graduate: Publik Heran, Benarkah Sebesar Itu?

Dengan kata lain, strategi dua kaki pengendalian harga pangan dan stabilitas moneter berjalan efektif.


Pelajaran Penting Inflasi Rendah Bukan Sekadar Angka

Inflasi rendah sering kali terdengar teknis, tapi dampaknya nyata bagi masyarakat.

Ketika inflasi terkendali, harga kebutuhan pokok lebih stabil, daya beli terjaga, dan kepercayaan konsumen meningkat.

Sebaliknya, jika inflasi melonjak, semua harga ikut naik dari sayur, bensin, hingga biaya pendidikan.

Baca Juga: Rp106 Triliun untuk Magang Fresh Graduate: Publik Heran, Benarkah Sebesar Itu?

Namun, bukan berarti masyarakat boleh tenang sepenuhnya.

Tekanan dari harga emas dan cabai bisa berlanjut bila cuaca ekstrem atau gejolak global masih berlanjut.

Oleh karena itu, pemerintah tetap perlu menjaga pasokan pangan dan memperkuat rantai distribusi agar stabilitas ini tidak hanya bersifat musiman.


Inflasi Aman, Tapi Tantangan Belum Berakhir

Oktober 2025 menjadi bukti bahwa pengendalian inflasi Indonesia semakin matang.

Baca Juga: Bak Pahlawan! Sufmi Dasco Turun Tangan Selamatkan Ribuan Pekerja Pabrik Ban Michelin dari Ancaman PHK

Kenaikan harga emas dan cabai tidak lagi cukup mengguncang karena koordinasi lintas lembaga sudah berjalan baik.

Namun ke depan, tantangannya lebih besar: menjaga kestabilan harga saat permintaan naik menjelang akhir tahun dan musim liburan.

Inflasi rendah memang kabar baik.

Tapi mempertahankannya di tengah tekanan global adalah ujian berikutnya.

Dan sejauh ini, pemerintah tampaknya sudah siap menghadapi gelombang harga berikutnya dengan strategi yang lebih terukur.***