POJOKSATU.id -Indonesia telah lama berambisi memiliki dan mengembangkan teknologi drone.
Tak hanya sekadar membeli, Indonesia juga berupaya menciptakan drone buatan dalam negeri.
Salah satu contohnya adalah drone Elang Hitam, pesawat tanpa awak yang mulai dirancang sejak tahun 2015.
Bertahun-tahun kemudian, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) mengumumkan bahwa drone ini siap menjalani uji terbang.
Uji coba Elang Hitam akan berlangsung satu bulan.
Antara melaporkan hal ini pada 26 Februari 2025.
Pengujian ini untuk memastikan drone bisa terbang 24 jam dengan muatan ratusan kilogram.
"Kami akan menguji drone terbang 24 jam dengan muatan 300 kg dalam sebulan," kata Gita.
Setelah uji coba, PTDI akan meningkatkan performa dan fungsi Elang Hitam.
Indonesia Tak Hanya Mengembangkan, Tetapi Juga Membeli Drone
Baca Juga: Banjir Bekasi Belum Surut: 52 Ribu Warga Terdampak, Fasilitas Publik Lumpuh
Selain membangun drone sendiri, Indonesia juga aktif membeli drone dari berbagai negara.
Salah satu pemasok yang dipilih adalah Turki, yang dikenal sebagai produsen drone ternama di dunia.
Indonesia bekerja sama dengan TAI untuk pengadaan 12 drone ANKA.
Kesepakatan ini mencakup pelatihan, transfer teknologi, dan infrastruktur.
Selain itu, ada pula jaminan pemeliharaan selama 24 bulan atau 600 jam terbang.
Menariknya, PTDI turut dilibatkan dalam proses produksi drone ANKA ini.
Enam unit dirakit di Turki, sisanya di PTDI.
"Setengahnya diproduksi di Turki, sisanya dirakit di PTDI."
"Ini bagian dari alih teknologi," ujar CEO TAI, Temet Kotil.
Saat ini, PTDI masih menunggu kontrak pengadaan drone ANKA agar dapat berlaku efektif.
Hal ini disampaikan dalam artikel PTDI pada 8 Januari 2025.
Baca Juga: Update Harga Pi Network ke Rupiah dari CoinMarketCap dan CoinGecko!
Indonesia Kembali Membeli Drone dari Turki
Tak berhenti pada ANKA, Indonesia kembali mengimpor drone dari Turki dalam jumlah besar.
Media Turki, bigpara.hurriyet, melaporkan Turki mengekspor 60 Bayraktar TB3 dan 9 Akinci ke Indonesia pada 12 Februari 2025.
Menariknya, ekspor drone Bayraktar TB3 ke Indonesia ini merupakan yang pertama dalam sejarah.
"Ekspor pertama Bayraktar TB3 akan dikirim ke Indonesia," tulis bigpara.hurriyet.
Bayraktar TB3 dirancang untuk beroperasi dari kapal induk dan di Turki drone ini digunakan di atas kapal induk TCG Anadolu milik Angkatan Laut Turki.
Baca Juga: PANDUAN Validasi Rekening Pembayaran TPG 2025, Ada 3 Tahapan Konfirmasi yang Harus Dilakukan!
Drone ini memiliki sayap yang bisa dilipat serta mampu menjalankan misi pengintaian, pengumpulan intelijen, hingga serangan bersenjata.
Sementara itu, drone Akinci lebih difokuskan untuk misi serangan.
Dengan kemampuan terbang lebih tinggi, durasi penerbangan lebih lama, serta kapasitas angkut lebih besar, drone ini menjadi aset strategis bagi Indonesia.
Penggunaan Drone Jadi Tren Global
Minat Indonesia pada drone disorot global, banyak negara beralih ke teknologi ini.
"Drone makin umum karena mampu menjalankan misi kompleks dengan biaya lebih rendah dan risiko minimal," ujar Bendett, dikutip Nikkei Asia (2/3/2025).
Indonesia kian serius memperkuat teknologi pertahanannya melalui pengadaan dan pengembangan drone.***



