POJOKSATU.ID - Prestasi gemilang diraih kontingen Indonesia pada ajang SEA Games 2025 di Thailand.

Merah Putih sukses mengoleksi 91 medali emas dan finis di peringkat kedua klasemen akhir.

Namun di tengah euforia tersebut, gaya komunikasi Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir justru menuai kritik tajam dari publik.

Baca Juga: BRI Satukan Langkah untuk Sumatra, Siapkan Rp50 Miliar untuk Percepat Pemulihan Bencana

Sorotan muncul akibat unggahan Erick Thohir di media sosial yang dinilai hanya menampilkan apresiasi kepada atlet peraih medali emas.

Sementara perjuangan atlet yang menyumbangkan medali perak dan perunggu nyaris tak terlihat di linimasa pribadinya.

Kondisi ini memicu reaksi warganet yang menilai apresiasi Menpora terkesan tidak adil.

Baca Juga: Masih Dipertahankan, Ini Alasan 25 Sekdes ASN Belum Pindah Tugas ke Pemkab

Banyak komentar pedas bermunculan, bahkan menyematkan julukan sindiran kepada Erick Thohir.

“Perolehan medali versi Pak Thohir: 91 emas, 0 perak, 0 perunggu,” tulis salah satu warganet, dikutip pojoksatu.id dari inilah.com (22/12/2025).

Julukan Si Paling Emas pun viral di kolom komentar, menggambarkan kritik publik terhadap pola komunikasi Menpora yang dianggap terlalu fokus pada podium tertinggi.

Baca Juga: Sempat Diprotes Warga, Pemprov Aceh Akhirnya Izinkan Bantuan Internasional Masuk, Ada Syarat Penting

Padahal, atlet peraih perak dan perunggu juga dinilai telah berjuang maksimal membawa nama Indonesia di ajang internasional.

Tak hanya warganet, kritik juga datang dari kalangan pengamat olahraga.

Jurnalis senior olahraga, Bung Harpa, secara terbuka menyoroti gaya komunikasi Erick Thohir yang dinilainya berpotensi menimbulkan persepsi negatif di masyarakat.

Baca Juga: Arah Pendidikan Indonesia 2026 Diperbarui, Pembelajaran Bermakna Diutamakan, Guru Perlu Ubah Strategi

“Ini bisa memunculkan kesan one man show. Seharusnya pemimpin olahraga memberi ruang dan sorotan utama kepada atlet, bukan menonjolkan diri sendiri,” tegas Bung Harpa.

Ia bahkan menilai pola komunikasi tersebut berisiko menciptakan citra narsistik.

Menurutnya, apresiasi yang tidak merata dapat memengaruhi psikologis atlet yang telah berjuang keras meski belum meraih emas.

Baca Juga: Viral Pedagang di Brebes Kompak Usir Jukir Liar, Videonya Bikin Netizen Tepuk Tangan!

“Kita harus ingat, medali perak dan perunggu juga lahir dari latihan panjang, pengorbanan besar, dan perjuangan luar biasa,” ujarnya.

Di tengah kritik yang mengalir, Erick Thohir tetap menutup rangkaian unggahannya dengan pernyataan terima kasih kepada seluruh kontingen Indonesia.

Dalam unggahan pada 20 Desember 2025, ia menyampaikan apresiasi secara umum kepada atlet, pelatih, dan ofisial.

“Terima kasih untuk seluruh atlet, pelatih, ofisial, dan rakyat Indonesia yang telah berjuang bersama dari awal hingga akhir,” tulis Erick Thohir.

Baca Juga: Gaji PPPK Dikabarkan Akan Cair Awal Januari 2026, Benarkah Naik? Ini Fakta Resmi dan Rinciannya

Meski demikian, publik berharap ke depan pola komunikasi Menpora bisa lebih inklusif dan berimbang.

Apresiasi dinilai penting diberikan kepada seluruh atlet tanpa melihat warna medali, karena setiap pencapaian merupakan hasil kerja keras dan pengorbanan yang sama besarnya.

Prestasi SEA Games 2025 seharusnya menjadi momentum memperkuat solidaritas olahraga nasional, bukan justru memunculkan polemik di ruang publik akibat cara penyampaian apresiasi.***