POJOKSATU.ID - Belakangan, berita ekonomi diisi dengan angka-angka besar impor Indonesia naik 7,17%, dan Bank Indonesia.
(BI) disebut telah membeli surat utang pemerintah hingga Rp270 triliun sepanjang Oktober 2025.
Kedengarannya rumit dan jauh dari kehidupan sehari-hari, bukan?
Baca Juga: Kesiapan Peserta PPG 2025 Disorot! Tak Cuma Butuh Otak Cerdas, Tapi Mental Baja!
Padahal, di balik istilah ekonomi itu, ada satu pertanyaan sederhana yang langsung terasa di pasar.
Impor Naik, Barang dari Luar Jadi Lebih Mahal
Ketika impor naik, artinya Indonesia membeli lebih banyak barang dari luar negeri mulai dari bahan baku industri, bahan makanan olahan, hingga komponen elektronik.
Masalahnya, sebagian besar transaksi itu menggunakan dolar AS.
Baca Juga: Hati-Hati! Ini 5 Kesalahan Umum yang Bisa Bikin Gagal Dapat Bansos 2025
Jadi, ketika rupiah melemah di kisaran Rp15.900–16.000 per dolar, otomatis biaya impor ikut membengkak.
Efeknya merambat cepat. Barang kebutuhan sehari-hari yang bahan bakunya impor dari minyak goreng kemasan hingga susu bubuk perlahan naik harga di pasaran.
Ini yang disebut ekonom sebagai inflasi impor, efek domino dari ketergantungan pada produk luar negeri.
Bank Indonesia Borong Surat Utang, Apa Hubungannya ke Dompet Kita?
Sementara itu, Bank Indonesia membeli surat utang pemerintah senilai Rp270 triliun.
Tujuannya menjaga likuiditas perbankan dan memastikan ekonomi tetap bergerak.
Namun bagi masyarakat, kebijakan ini bisa berdampak tidak langsung uang di pasar bertambah, dan jika tidak diimbangi produksi, bisa mendorong kenaikan harga.
Kebijakan ini sebenarnya tidak salah bahkan perlu untuk menahan efek perlambatan ekonomi global.
Tapi jika kebijakan ekspansif fiskal dan moneter berjalan bersamaan tanpa kontrol ketat, daya beli rakyat bisa terhimpit karena harga barang naik lebih cepat dari kenaikan pendapatan.
Inflasi Masih Terkendali, Tapi Tekanan Mulai Terasa
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Indonesia pada Oktober 2025 tercatat 2,86% secara tahunan (year-on-year) masih di kisaran aman target BI 2,5 ± 1%.
Baca Juga: Kecelakaan Maut di Tol Cikampek, Pengemudi Truk Box Meninggal di Tempat
Namun jika diperhatikan lebih dalam, harga emas perhiasan, biaya pendidikan tinggi, dan bahan pangan tertentu mulai menunjukkan tren naik.
Pemerintah berusaha menjaga stabilitas harga lewat operasi pasar dan subsidi energi.
Namun beban fiskal pun makin besar.
Baca Juga: Sah! 2.361 Tenaga Honorer Kota Pekalongan Resmi Jadi PPPK Paruh Waktu, Babak Baru ASN 2025 Dimulai
Di saat bersamaan, masyarakat menengah harus menyesuaikan anggaran rumah tangga sebagian menunda pembelian barang sekunder, sebagian lagi mulai mencari alternatif produk lokal.
Kenaikan Impor Antara Sinyal Positif dan Ancaman Nyata
Sebenarnya, kenaikan impor tak selalu buruk.
Dalam konteks pemulihan ekonomi, ini bisa berarti pabrik dan industri mulai beroperasi penuh, karena butuh bahan baku dari luar negeri.
Namun tanpa strategi penguatan industri lokal, Indonesia berisiko terus terjebak dalam siklus ketergantungan impor.
Selama bahan baku utama masih dibeli dari luar, setiap gejolak nilai tukar dolar akan langsung terasa di harga barang.
Ini yang membuat ekonomi Indonesia terlihat tumbuh, tapi tetap rapuh.
Daya Beli Rakyat Mulai Tertahan
Efek paling nyata dari semua dinamika ekonomi ini terasa di kantong masyarakat.
Data Bank Indonesia menunjukkan indeks kepercayaan konsumen mulai menurun di kuartal terakhir 2025.
Baca Juga: Bansos Digital 2025, Cara Baru Pemerintah Salurkan Bantuan Tanpa Ribet dan Lebih Transparan
Alasannya sederhana: harga naik, pendapatan tidak berubah.
Sebagian rumah tangga memilih menahan belanja besar menunda ganti gadget, kendaraan, atau perabot rumah.
Di sisi lain, pedagang kecil ikut was-was karena biaya bahan baku meningkat, tapi daya beli pelanggan melemah.
Kondisi ini menunjukkan bahwa ekonomi memang bergerak, tapi belum sepenuhnya sehat.
Baca Juga: Lima Tips dan Trik Desain Interior Kekinian, Ciptakan Tampilan Lebih Modern, Dijamin Nyaman!
Masyarakat bawah merasakan tekanan lebih dulu, sementara dampak positif pertumbuhan belum menyentuh semua lapisan.
Ekonomi Bergerak, Tapi Dompet Rakyat Masih Waspada
Kenaikan impor dan kebijakan moneter longgar membuat ekonomi Indonesia terlihat aktif.
Namun bagi rakyat kecil, setiap perubahan angka di pasar keuangan cepat terasa di meja makan.
Harga barang yang pelan tapi pasti naik menjadi sinyal bahwa stabilitas ekonomi harus dijaga bukan hanya di atas kertas, tapi di dapur dan warung rakyat.
Pemerintah dan BI perlu memastikan kebijakan yang diambil tidak hanya menenangkan pasar, tetapi juga melindungi daya beli masyarakat.***




