POJOKSATU.ID - Isu radioaktif kembali mengguncang ekspor perikanan Indonesia.

Kali ini, Amerika Serikat mengembalikan ratusan ton udang beku asal Indonesia setelah lembaga pengawas pangan mereka.

Food and Drug Administration (FDA), menemukan kandungan isotop radioaktif Cesium-137 (Cs-137) dalam salah satu sampel produk.

Baca Juga: Pencairan TPG TW3 Resmi Dimulai, Guru ASN dan Non-ASN Sudah Terima Transferan

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sebanyak 240,54 ton udang beku senilai sekitar 2,09 juta dolar AS.

Atau setara Rp34,8 miliar dikembalikan dari Negeri Paman Sam sepanjang Agustus hingga September 2025.

Pengembalian ini menandai salah satu kasus ekspor pangan Indonesia yang paling disorot dunia dalam beberapa bulan terakhir.

Baca Juga: Impor Bahan Baku Meroket Tanda Pabrik Indonesia Sedang Pulih atau Justru Ketergantungan Baru?

Menurut laporan Kompas 3 November 2025, pengembalian kontainer tersebut berkaitan dengan hasil uji FDA.

Terhadap produk dari salah satu eksportir Indonesia, PT Bahari Makmur Sejati (BMS Foods). Dalam laporan laboratorium yang diunggah di situs resmi FDA.

Ditemukan kandungan Cesium-137 dengan kadar sekitar 68 becquerel per kilogram (Bq/kg).

Baca Juga: Wisata Unik di Bogor? Ini Dia Hidden Gem Wisata Unik untuk Liburan Singkat yang Berkesan

Meskipun level ini jauh di bawah ambang batas intervensi internasional yang mencapai 1.200 Bq/kg.

Temuan itu cukup untuk memicu peringatan “Do Not Eat or Serve” dari otoritas AS.

Dampak langsungnya terasa di industri tambak udang dalam negeri.

Beberapa petambak di Lampung, Banten, dan Sumatera Utara mengeluhkan anjloknya harga hingga 30 persen. “Padahal udang di tambak kami aman.

Tapi pasar langsung panik setelah berita soal radiasi itu keluar,” kata Rahman, petambak dari Serang, dikutip dari Katadata, Senin (4/11).

Baca Juga: Prabowo dan Jonan: Dua Sosok yang Pernah Berseberangan, Dulu Sama-sama Anak Buah Jokowi, Kini Satu Pandangan?

Pemerintah Indonesia segera merespons isu ini.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Melakukan pemeriksaan terhadap tambak dan pabrik pengolahan yang terkait ekspor tersebut.

Baca Juga: Pemerintah Kabupaten Sukabumi Wujudkan Hunian Layak bagi Penyintas Bencana untuk Harapan Baru dari Nyalindung

Hasil sementara menunjukkan bahwa kontaminasi tidak ditemukan di lokasi budidaya.

Melainkan kemungkinan besar terjadi pada tahap pascapanen atau pengolahan.

Juru bicara KKP, Antam Novambar, menegaskan bahwa kasus ini bersifat kasuistik dan tidak menggambarkan kondisi keseluruhan ekspor udang nasional.

Baca Juga: Wisata Unik di Bogor? Ini Dia Hidden Gem Wisata Unik untuk Liburan Singkat yang Berkesan

“Hasil uji di sejumlah laboratorium kami menunjukkan bahwa produk lain aman dikonsumsi dan tidak mengandung zat radioaktif,” ujarnya dilansir Antara, Minggu (2/11/2025).

Namun, di luar isu teknis, para pengamat perdagangan melihat kasus ini dari sisi lain.

Ekonom perdagangan internasional dari Universitas Indonesia, Fadhil Hasan, menyebut pengembalian udang ini bisa berdampak pada hubungan dagang Indonesia–AS yang tengah sensitif.

“Ketika isu teknis seperti ini muncul di tengah negosiasi perdagangan, efeknya bisa melebar." 

"Kepercayaan pasar terhadap produk asal Indonesia bisa terganggu, meskipun faktanya tidak semua produk bermasalah,” katanya dikutip Tempo (3/11/2025).

Fadhil menilai, kasus ini bisa dimanfaatkan oleh pihak tertentu di pasar internasional untuk menekan posisi tawar Indonesia dalam ekspor perikanan.

Baca Juga: Impor Naik, BI Borong Surat Utang Rp270 Triliun, Sinyal Ekonomi Indonesia Sedang Panas atau Justru Waspada?

Apalagi, AS merupakan salah satu pasar utama udang Indonesia selain Jepang dan Uni Eropa.

Sepanjang 2024, nilai ekspor udang RI ke AS mencapai sekitar 1,9 miliar dolar AS atau hampir 40 persen dari total ekspor udang nasional.

Pemerintah sendiri mengaku telah melakukan diplomasi teknis dengan otoritas AS.

Baca Juga: Bhabinkamtibmas Kota Sukabumi Dilatih jadi Polisi Penolong, Kuasai Teknik Tangani Kebakaran dan Ular

“Kami sedang berkomunikasi dengan FDA untuk memastikan hasil pengujian dan menelusuri penyebab pasti kontaminasi tersebut,”.

kata Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan KKP, Budi Sulistyo.

Sementara itu, Kementerian Perindustrian menelusuri kemungkinan sumber radiasi di kawasan industri Cikande, Banten.

Baca Juga: Prabowo dan Jonan: Dua Sosok yang Pernah Berseberangan, Dulu Sama-sama Anak Buah Jokowi, Kini Satu Pandangan?

tempat salah satu pabrik pengolahan udang BMS beroperasi.

Dalam laporan Reuters (8 Oktober 2025), Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) menemukan jejak Cesium-137 di 22 lokasi sekitar kawasan industri itu.

Dugaan sementara, kontaminasi berasal dari limbah logam bekas impor yang mengandung sisa isotop.

Kasus ini membuka perdebatan baruapakah isu radioaktif pada ekspor pangan ini murni insiden teknis.

Sinyal dari ketatnya standar non-tarif yang diterapkan negara tujuan ekspor.

Pemerintah kini menegaskan komitmen untuk memperkuat sistem pengawasan, terutama di sektor pengolahan.

Baca Juga: Sekda Kabupaten Sukabumi Dorong Transparansi Dana Hibah Keagamaan Lewat Bimtek 2025

Namun bagi petambak dan pekerja kecil di pesisir, harapan sederhana mereka hanya satu

Agar udang Indonesia kembali dipercaya dunia, bukan dicurigai karena radiasi yang mereka sendiri tak pernah tahu dari mana asalnya.***