POJOKSATU.ID – Kasus ledakan amunisi di kawasan Garut, Jawa Barat kian menarik perhatian publik.
Seperti diketahui sebelumnya, sebanyak 13 orang termasuk warga sipil hingga anggota TNI Angkatan Darat (AD) tewas usai terkena ledakan tersebut.
Kejadian ini turut ditanggapi langsung oleh Co-Founder Jakarta Defense Society (JDS) Ade P Marboen.
Baca Juga: Viral Video Warga Getok-getok Mortir Pakai Martil Sebelum Ledakan Amunisi di Cibalong Garut
Ade menuturkan bahwa pihaknya meminta kepada TNI AD agar segera melakukan evaluasi terkati sistem operasional ledakan amunisi.
Sebagaimana halnya yang dikutip Pojoksatu.id dari potal media Antaranews.com pada Rabu (14/5/2025).
“Protokol keamanan dan keselamatan serta pembatasan akses publik harus ditegakkan tanpa kompromi,” jelasnya.
Baca Juga: Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Santuni Keluarga Korban Ledakan Amunisi di Garut Sebesar Rp50 Juta
“Untuk mencegah terulangnya tragedi serupa di masa mendatang,” lanjutnya dalam laporan artikel.
Insiden tragis ini juga turut ditanggapi langsung oleh salah satu keluarga korban ledakan amunisi tersebut.
Yang mana, dirinya menuturkan dengan jelas bahwa tudingan terhadap korban terkait mulung sisa amunisi tidaklah benar.
Seperti diketahui, korban yang berstatus warga sipil dinyatakan tewas lantaran hendak mengambil sisa ledakan tersebut.
Hal ini disampaikan oleh keluarga korban saat memberikan keterangan langsung kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Di mana, dirinya menuturkan dengan jelas bahwa keluarganya yang tewas bukan karena kelalaian semata.
Melainkan, keluarganya yang tewas itu tidak lain lantaran terlibat dengan aparat TNI dalam memusnahkan amunisi tersebut.
“Saya minta pertanggungjawaban, karena bapak saya di situ bukan sebagai orang-orang pikirin,” jelasnya.
“Bapak saya bukan pemulung, bapak saya di situ (tempat kejadian) kerja sama tentara,” lanjut keluarga korban. ***



